Serangan Dari Pintu Depan

1111 Kata
Di tempat yang berbeda Horma dan Jeremy hampir selesai mempersiapkan rencana mereka. “Nona Horma, bukankah lebih anda satu kelompok bersama dengan June yang merupakan seorang Priest untuk mendukung pergerakan anda?” “Oh ternyata itu yang membuatmu terlihat bingung dari tadi. Aku memilihmu untuk satu kelompok denganku karena kita berdua adalah orang pertama yang akan berhadapan dengan para penghianat itu. Di tempat yang berbeda Horma dan Jeremy hampir selesai mempersiapkan rencana mereka. “Nona Horma, bukankah lebih baik anda satu kelompok bersama dengan June yang merupakan seorang Priest untuk mendukung pergerakan anda?” Horma kagum dengan pengamatan yang cerdas dari seorang pemula seperti Jeremy. “Oh ternyata itu yang membuatmu terlihat bingung dari tadi. Aku memilihmu untuk satu kelompok denganku karena kita berdua adalah orang pertama yang akan berhadapan dengan para penghianat itu. Kita harus bertahan lebih lama sampai semuanya terungkap.” “Terlalu banyak rahasia di tempat ini. Aku tidak yakin dapat bertahan hidup di dunia yang seperti ini.” “Hahaha, dulu pun aku berkata seperti itu saat pertama kali bergabung dengan Medallion di benteng ini. Tapi sekarang cara pandangku sudah agak sedikit berbeda dibandingkan pada hari tersebut.” “Sepertinya aku merasa lebih hidup saat berada di dunia kalian yang dikelilingi oleh bahaya seperti hari seperti ini. Aku tidak bisa memastikan berapa banyak orang jahat yang bermukim di sekitar danau ini yang siap menyerang saat kalian lengah.” “Mungkin apa yang kau katakan itu benar Jeremy. Tapi berapa kali pun mereka berusaha untuk menyerang, itu tidak akan cukup untuk menggoyahkan tekad kami.” “Tapi mau sampai kapan kalian dapat bertahan dengan musuh yang semakin bertambah setiap hari?” “Sampai kami menyelesaikan tugas dan panggilan yang bergeming di dalam hati untuk menegakkan keadilan di permukaan dan di bawah bumi.” “Sudah kuduga anda akan berkata seperti itu.” “Hahaha, baguslah kalau begitu. Sepertinya kau mulai terbiasa dengan semua ini.” Jeremy tersenyum mendengar perkataan Horma yang menyadarkan dirinya akan semua yang dia miliki sejak lahir mungkin untuk semua hal ini. “Aku sudah menyelesaikan bagianku disini. Bagaimana denganmu Jer?” “Begitu pula denganku.” Jeremy berdiri dan merapikan semua yang masih berserakan di tempat itu. “Sekarang kita akan menunggu mereka memasuki ruangan tersebut.” “Baiklah nona, aku akan bersembunyi di balik lubang ini.” Tak lama kemudian datanglah Horsa dan Soka yang berjalan dengan terburu - buru seperti sedang dikejar sesuatu. Saat tiba di depan ruangan Henry yang masih dalam keadaan terkunci oleh kekuatan khusus tersebut, kedua orang itu menempelkan suatu benda seperti kertas pada ambang pintunya. “Perasaanku tidak enak tuan Soka. Walaupun disini tidak ada orang selain kita berdua, entah mengapa aku merasa kalau kita sekarang sedang diawasi.” “Tidak perlu kau risaukan hal itu Horsa. Selain Henry tidak akan ada yang dapat menandingi gabung dari kekuatan kita berdua.” Horsa tersenyum dan lega mendengar perkataan dari Soka tersebut. “Dalam hitungan ketiga kita harus mengalirkan kekuatan kegelapan pada kertas segel pembongkar ini.” “Apakah anda yakin kalau cara ini dalam membuka pintu dengan kekuatan purba ini?” “Tentu saja tidak yakin karena aku pun belum pernah mencobanya. Tapi oleh karena itu hari ini kita sama - sama akan mencari tahunya. Ingatlah Horsa, kemustahilan seringkali bukan sesuatu yang tidak bisa kita lakukan, tapi lebih kepada hal - hal yang tidak berani kita coba saja.” “Aku tidak menyangka nasehat untuk anak - anak seperti itu dapat menenangkan hatiku saat ini.” “Baguslah kalau begitu. Ikuti aba - aba dariku. 1...2...3!” Soka berbicara dengan pelan. Sebenarnya dia pun sama gugupnya dengan Horsa saat ini. Begitu kekuatan kegelapan mengalir kepada kertas yang ditempelkan pada ambang pintu tersebut, cahaya berwarna kuning keluar dari balik tangan kedua orang itu. Cahaya tersebut menjalar ke semua permukaan pintu yang diikuti dengan retakan dimensi yang menyeluruh. “Gubrakk…!” Kedua orang itu pun langsung terpental beberapa langkah ke belakang secara tiba - tiba. “Sudah kuduga tidak semudah yang diinginkan,” ucap Soka. “Tapi setidaknya usaha kita tidak sia - sia. Dengan sedikit tekanan lagi maka pintu ini pasti akan terbuka,” sahut Horsa. “Ayo kita coba lagi sampai pintu itu hancur.” Soka mengangkat Horma untuk berdiri. Demikianlah mereka mencoba lagi melakukan hal yang sama. “Gubrakk…!” Kemudian mereka terlempar sama seperti tadi. “Sepertinya ada yang tidak beres pada pintu ini. Aku tidak pernah mendengar kalau pintu itu punya kemampuan ledak. Kita harus menemukan apa yang telah kita lewatkan.” Soka berdiri perlahan dengan bertumpu kata lengannya. Kemudian dia pun melirik ke arah kanan dengan pandangan yang serius. “Ada apa tuan Soka?” Tanya Horsa. “Sebelum itu kita sepertinya kita benar - benar kedatangan tamu yang sudah bersembunyi sejak tadi.” “Jadi anda juga sudah menyadari hal itu?” Tanya Horsa. “Pancaran kekuatannya begitu nyata. Bagaimana mungkin aku tidak menyadari kehadirannya,” jawab Soka. “Hentikan perbuatan kalian!” Horma berteriak sambil mengacungkan sebuah tombak dengan matanya yang berwarna emas. “Huh...jadian kalian sengaja menunggu sampai kami lengah seperti ini bukan?” “Pasti kalian yang sudah menaruh jebakan di pintu itu.” “Kau benar Horsa. Aku menggunakan anti sihir kegelapan tingkat tinggi yang kudapat dari tempat itu.” “Ruang pusaka benteng Galesia ternyata. Aku tidak menyangka kalau benda - benda busuk itu akan menyusahkanmu. Aku menyesal tidak menghancurkan tempat itu sebelumnya. Anggap saja ini adalah kelengahanku yang sesungguhnya.” “Walaupun begitu tetap saja benda seperti itu kekuatannya tidak cukup untuk menggagalkan rencana kami. Majulah kalau kalian berani menghadapiku.” “Jangan berlagak sok kuat orang tua! Kau sudah berkali - kali menggunakan kekuatan kegelapan pada pintu tersebut. Kau kita masih memiliki kesempatan untuk bertarung melawan kami.” “Satu hal yang tidak diketahui oleh para Medallion zaman ini. Kekuatan kegelapan yang ada padaku sangat banyak. Kekuatan yang digunakan pada pintu itu hanya seperlima dari keseluruhan yang kumiliki. Jadi apakah kalian berpikir masih memiliki kesempatan untuk melawanku?” “Seperti yang kau katakan tadi. Kita belum tahu hasilnya kalau belum pernah dicoba bukan?” Sahut Jeremy yang muncul dari arah belakang Soka. “Apa?” Horsa dan Soka terkejut akan kehadiran Jeremy di tempat itu. “Jadi anda juga tidak menyadari kehadiran bocah ini tuan Soka?” Tanya Horsa. “Aneh sekali. Bagaimana mungkin kita berdua tidak menyadarinya?” “Aku tidak punya waktu bermain - main dengan kalian. Sebaiknya kalian lawan dahulu mereka.” Dari balik kegelapan tiba - tiba muncul para Dokoon tingkat tinggi yang sedari tadi mengikuti Soka dari balik kegelapan. Mereka hanya akan menunjukkan diri hanya apabila Soka menginginkannya saja. “Ayo kita lanjutkan membuka pintu ini Horsa.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN