Teknik Bertarung Pembunuh

1136 Kata
“Aku penasaran siapa yang akan menjadi pemenang dari pertarungan langka ini.” “Apa maksudmu Horsa?” Tanya Horma. “Orang tua itu kali ini tidak menahan diri seperti bertarung melawan Soka yang merupakan sahabatnya. Sekarang dia harus bertarung melawan sosok dengan hawa membunuh yang sangat besar. Apabila dia lengah sedikit saja akan mengakibatkan kematian sia - sia.” Suki bersiap menanti serangan Henri dengan kedua sabit mautnya. Begitu juga dengan Henri yang tidak mau melakukan kesalahan menganalisa kelemahan dari Suki. “Huuuhh…,” keduanya menarik nafas panjang dengan mata yang tidak lepas saling menatap. “Deg…!” Dalam sekejap keduanya sudah saling jual beli pukulan. Setiap pukulan yang berbenturan mengakibatkan getaran di sekitarnya. Tidak sedikit permukaan dinding dan lantai rusak akibat pertarungan tersebut. Suki berusaha agar tidak terkena serangan langsung oleh senjata maut tersebut. Henri pun sangat sulit mengarahkan senjatanya akibat teknik bertahan dan menyerang yang dilakukan oleh Suki. “Aku tidak tahu kalau masih ada orang yang dapat bertarung dengan cara seperti ini. Kau terlihat seperti orang yang punya banyak pengalaman bertarung orang tua.” “Pujianmu hanya ingin membuat aku lengah akibat kesombongan bukan? Aku sudah terlalu tua untuk terpengaruh oleh kata - kata kosong seperti itu.” “Cih…!” Henri tersenyum mendengar perkataan Suki. “Cara bertarung itu seperti Dokoon yang sering membuat onar pada masa mudaku. Katakan siapa kau sebenarnya!” “Hahaha, sudah kuduga aku merasa seperti bertarung dengan Medallion pada masa itu. Ternyata kau memang berasal dari masa kelam tersebut. Aku adalah roh dari seorang Dokoon Pembunuh dari masa lalu yang mengembara mencari tempat untuk berdiam. Suatu keberuntungan karena dapat menemukan seorang bayi yang terlahir dengan kekuatan roh yang sangat tinggi ini. Tapi aku tidak menyangka dia memiliki takdir untuk menjadi seorang Medallion. Kekuatan cahaya suci menekan keberadaanku selama bertahun - tahun. Tapi nasib baik datang dan aku bisa dibangkitkan dengan cara seperti ini.” “Perkenalkan aku ada Suki Sang Pengukur yang bertugas menghadapi Dokoon sepertimu pada masa itu. Takdir membuat kita bertemu lagi pada masa ini. Penantianku setelah sekian lama ternyata tidak ada salahnya. Akhirnya aku dapat mengakhiri perjuanganku dengan pertarungan ini.” “Hehehe, ternyata kau sudah siap mati dalam pertarungan ini orang tua.” “Kau benar sekali. Tapi aku akan membawamu denganku ke alam lain.” “Bermimpilah selagi bisa karena aku tidak akan mati dengan mudah seperti para Dokoon pada masa ini.” “Masamu telah berakhir dan aku adalah orang yang bertanggung jawab mengakhiri pengembaraanmu.” Dengan satu pukulan kuat di lantai membuat tanah bergetar dengan kuat sehingga menggoyahkan pijakan Henri. Tapi dia menghindari serangan itu dengan cara melompat setinggi mungkin sampai getaran itu berhenti. “Itu yang aku inginkan!” Suki melompat secepat panah yang ditembakkan ke arah Henri yang berada di udara dan tidak dapat bergerak bebas lagi. “Kurang ajar kau Suki!” Henri memegang kuat sakitnya untuk menahan serangan tersebut. “Duar…!” Keduanya berbenturan di udara. “Apa yang terjadi?!” Horma berusaha mencari tahu. “Sial!” Horsa bersiap dengan bertumpu dengan kedua kakinya. Keduanya terjatuh di lantai dengan debu yang menutupi mereka. “Uhuk…!” Tiba - tiba darah mengucur di lantai dengan melemahnya aura kehidupan salah satunya. “Ternyata kau sudah merencanakannya.”  “Kau sudah salah mengira aku akan kalah dengan cara seperti itu. Gerakanmu terlalu mudah dibaca Suki.” Salah satu dari sabit Henri berhasil menikam perut Suki sampai tembus ke belakang. “Sekarang kembalikan senjataku!” Henri menarik senjatanya dari tubuh yang sudah terkena racun kegelapan itu. “Aaa…!” Suki berteriak kesakitan menahannya. “Sekarang giliran kalian para bocah untuk menyusul orang tua ini. Kalian akan mati dengan cara yang lebih menyedihkan. Aku bersumpah karena sudah dibuat kesal oleh tingkah kalian.” “Hey Horma, sebaiknya kau pergi dari sini dan selamatkan anak - anak itu. Aku akan menahannya selama mungkin sampai kalian meninggalkan benteng ini.” “Apa maksudmu Horsa?” “Jangan melihatku dengan cara seperti itu. Aku tidak butuh rasa kasihan darimu. Aku akan hidup dan mati sesuai dengan keinginanku sendiri. Tidak seperti kalian para Medallion yang terikat pada kode etik bodoh.” “Kau memang bukan orang yang tidak bisa berbohong Horsa. Tapi aku akan malu kepada para leluhur apabila meninggalkanmu bertarung seorang diri.” “Jangan bodoh Horsa! Apakah kau masih mempedulikan kode etik tidak berguna itu. Saat ini yang terbaik adalah keselamatan nyawa. Kau dapat bertarung lagi ketika sudah bertambah kuat dan siap dengan semuanya. Sekarang beritahu dunia apa yang terjadi disini. Benteng Galesia runtuh bukan karena serangan Dokoon tapi karena takdir itu sendiri.” Horma tertunduk diam mendengar kebenaran pahit yang dikatakan oleh Horsa tersebut.  “Hey Horsa, apakah kau sudah tahu kalau hal ini akan terjadi?” Tanya Horma. “Hehehe, siapa tahu? Sekarang masa depan dunia ada ditanganmu dan anak - anak yang ada disana. Kau memiliki tanggung jawab untuk menjamin keselamatan mereka. Bukankah itu lebih penting daripada mempertahankan kode etik?” “Tidak! Aku sudah tidak punya siapa - siapa lagi kalau kau mati.” Horma meneteskan air mata. “Jangan cengeng! Hidup itu lebih berat daripada sekedar bertarung satu lawan satu dengan musuh terkuat. Nah sekarang pergilah sebelum dia sampai disini.” Horsa mengangkat adiknya dengan kekuatan air dan melemparkannya sejauh mungkin. “Kau kira aku akan membiarkannya melarikan diri. Tidak ada yang bisa lari dariku di dunia ini.” “Jangan harap kau dapat menyentuhnya selama aku masih hidup.” “Akhirnya aku bisa berperan sebagai seorang kakak disaat seperti ini. Takdir memang tidak bisa dihindari.” Horsa tersenyum menatap Henri dengan sinis. “Memangnya apa yang dapat dilakukan orang yang sudah terluka parah sepertimu. Aku akan membunuh wanita itu di hadapan matamu sendiri.” Sebelum Horsa bergerak Henri sudah melompat kepada Horma dengan sabit yang siap menebasnya. “Sial aku terlambat.” Horsa tersandung dan terjatuh. “Lihatlah bocah, aku akan membunuhnya untukmu.” Henri berteriak sekeras - kerasnya. “Duar...duarr...duar!” Panah api dan sebuah tebasan pedang api menghempaskan Henri dengan kuat. “Akhirnya kalian datang juga anak - anak bodoh.” Horsa tersenyum melihat Jeremy dan yang lainnya menyelamatkan Horma. “Mengapa pengganggu selalu datang?” Henri berdiri dengan cepat dengan bekas luka bakar di tubuhnya. “Api apa ini?!” Henri terkejut karena ada api yang tidak membakar kulit tapi malah jiwanya sendiri. “Anak - anak, apakah kalian baik - baik saja?” Tanya Horma. “Jeremy! Bawa Horma dan yang lainnya pergi dari sini. Dia bukan lawan yang bisa kalian hadapi saat ini. Bertambah kuatlah dan bersiap untuk pertarungan yang akan datang menunggu kalian.” Walau tidak mengerti apa yang telah terjadi, tapi Jeremy merasakan kebenaran dari perkataan Horsa tersebut. “Vin, bantu gue!”  Tanpa pikir panjang mereka langsung membawa Horma yang sudah terluka untuk melarikan diri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN