Jangan Menoleh Kebelakang

1096 Kata
Tanpa pikir panjang mereka terpaksa melarikan diri dari tempat itu setelah mendapat perintah dari Horsa.  “Lu beneran Jer? Gue kira tadi siapa yang menyerang nona Horma. Apa yang sudah terjadi kepada tuan Henri?” “Jangan banyak tanya dulu Vin! Jangan elu, gue yang masih bingung. Tapi gak bisa dipungkiri firasat gue apa yang dibilang sama Horsa itu harus dituruti.” “Nadine, gimana pendapat kamu?” Tanya June yang sama bingungnya. “Aku merasakan hal sama dengan Jeremy saat mendengar perkataan dari Horsa. Yaudah gue bakal pandu kalian menuju jalan keluar terdekat dari sini.” “Jangan pikir kalian bisa melarikan diri anak - anak bodoh!” Henri mengulurkan tangannya dan mengeluarkan tangan - tangan kegelapan dari sabitnya. Tiba - tiba dinding air yang sangat tebal muncul di antara Henri dan anak - anak tersebut sehingga tangan hitam itu tidak bisa maju lebih jauh lagi. “Dasar tidak berguna! Kau tunggu saja disitu sampai menjadi mangsaku orang lemah!” Henri mendorong Horsa dengan kekuatannya sehingga terlempar jauh. “Uhuk...uhuk...uhuk!” Horsa mengeluarkan darah segar dari mulut begitu tubuhnya terbanting ke lantai yang sudah tidak beraturan lagi. Tapi dengan sekuat tenaga Horsa mempertahankan dinding air untuk mengulur waktu. “Jeremy, apapun yang terjadi teruslah pacu langkah kalian dan jangan sekalipun menoleh kebelakang!” Seru Horsa dengan darah yang terus meluap - luap dari mulutnya bersamaan dengan setiap kata yang terucapkan. Maka berlarilah mereka sekuat tenaga sambil menghindari semua serangan jarak jauh dari Henri. “Apa dia sudah gila menyuruh kita berlari tanpa henti!” Kata Marvin dengan nafas yang terengah - engah karena begitu banyak serangan yang mengarah kepada mereka. Tapi Jeremy tidak berkata sepatah kata pun dan terus memacu langkahnya tanpa henti mengikuti Nadine yang sudah berlari terlebih dahulu di depannya. “Nadine, apa pintu keluarnya masih jauh?” Tanya June yang berlari sambil memberikan kekuatan penyembuhan kepada Horma yang sedang terluka parah. “Tidak, setelah melewati bangunan yang ada disana kita akan menemukan pintu rahasia yang hanya diketahui olehku saja.”  Sesampainya ditempat yang diberitahukan oleh Nadine, mereka tidak melihat adanya pintu tersebut. “Dimana pintunya Nadine? Kita sudah tidak waktu lagi sebelum orang itu mengejar kita sampai disini.” “Sudah kubilang hanya aku yang mengetahuinya, berarti akulah yang dapat membukanya.” Maka Nadine mengeluarkan sebuah anak panah dari tabungnya dan bersiap untuk menembak dengan kekuatan api yang dimilikinya.  “Apa yang mau kau lakukan dengan benda itu di saat seperti ini?” Marvin kelabakan karena Nadine tidak menjawab pertanyaannya. “Lo kebanyakan bacot deh Vin! Biarin dia melakukannya aja,” sahut June yang sudah mulai kesal dengan ocehan Marvin. June menarik panahnya dan menembakkan tepat ke tengah ambang pintu sebuah rumah yang ada di hadapannya. Ternyata di tempat dia menembakkan panah tersebut terdapat sebuah lubang. “Oh ternyata itu ada lubang kunci ya?” June terkagum dengan ketepatan Nadine dalam menembak. “Benar sekali. Tak kusangka kau memiliki ketajaman dalam penglihatan seperti seorang pemanah sepertiku. Tidak seperti orang bodoh yang ada disini.” “Siapa orang bodoh yang kau maksud?” Marvin berteriak karena merasa tertuduh. “Ya siapa lagi? Elo lah Vin!” Jawab June. “Enak aja lo. Mana gue tahu ada lubang kunci di tempat seperti itu.” “Sadarilah kekuranganmu Marvin. Baiklah ayo kita keluar dari benteng ini!” Sebuah lubang terbuka di lantai tepat di depan pintu tersebut. Di dalam lubang tersebut terdapat tangga ke bawah. Masuklah June yang membawa Horma terlebih dahulu ke dalam lubang tersebut. Kemudian diikuti dengan Marvin dan Jeremy setelahnya. Tapi Nadine tidak ikut masuk bersama dengan mereka. “Setelah nona Horma pulih, antarkan dia ke benteng selanjutnya. Aku harus tetap tinggal disini untuk menyegel semua pintu keluar agar orang itu tidak bisa meninggalkan pintu benteng ini. Setidaknya aku hal itu dapat menahannya selama beberapa lama sampai bala bantuan datang untuk menghadapinya.” “Apa maksudmu Nadine? Kau harus ikut bersama dengan kami. Memangnya apa jaminan kalau dia tidak menemukanmu?” “Kau memang orang yang baik June. Tapi ini sudah menjadi tugasku untuk menjaga benteng Galesia sebagai Medallion terakhir disini. Tenang saja, setelah aku menyegel semua pintu keluar, aku akan menyusul kalian dengan segera.” “Jer, jangan percaya dengan perkataannya. Kau sendiri melihat kekuatan orang tadi bukan? Wanita ini tidak memiliki kesempatan hidup sama sekali apabila bertemu dengannya.” “Ada apa denganmu Marvin? Mengapa kau menjadi khawatir padaku? Bukankah selama ini kau terlihat sangat membencimu.” “Itu….” “Aku mengerti apa yang lo pikirin Vin. Tapi kalau kita berada diposisi dia pasti akan melakukan hal yang sama,” jawab Jeremy sambil memegang pundak temannya. “Tapi….” “Sudah tidak ada tapi - tapian lagi. Sekarang pergilah dan tekan kekuatan kalian agar tidak terdeteksi oleh musuh. Pintu ini akan membawa kalian sebuah pulau yang berada di tengah lautan.” Nadine menerangkan dengan lugas apa saja yang harus dilakukan oleh mereka kedepannya. Dengan berat hati mereka terpaksa menuruti perkataan Nadine dan pergi dari tempat itu. Begitu mereka June menginjak sebuah anak tangga yang ada di depannya, tertutuplah lubang tersebut kembali seperti semula. “Vin, lo bisa bantu gue gak?” Jeremy mengejutkan Marvin yang masih dalam keadaan tidak tenang akibat membiarkan Nadine berjuang seorang diri diatas sana. “Eh lo mau apa Jer?” Jawab Marvin. “Gue butuh penerangan karena disini gelap banget.”  Marvin pun mengulurkan tangannya ke depan dan tiba - tiba di dinding muncul banyak lentera yang sudah tergantung sejak lama. Kekuatan Marvin membuat semua lentera tersebut menyala dengan sendirinya. Tapi anehnya raut wajah Marvin belum juga berubah dan masih terus memikirkan Nadine. “Lo kenapa Vin?” “Maafin gue Jer, tapi gue merasa harus melakukan ini. Lo jaga mereka sampai ke pulau yang dimaksud. Sementara gue akan menolong Nadine dan membawanya bersama dengan kita.” “Jangan gila lo Vin!” Sahut June. Tapi Jeremy tersenyum dan memberikan jalan kepada Marvin untuk melakukan apa dia mau. “Makasih Jer. Gue janji bakal menyusul kalian setelah memastikan keselamatan Nadine.” Dengan cepat Marvin menaiki setiap anak tangga kembali sambil mengaktifkan mode tempurnya. Lubang tersebut pun terbuka begitu Marvin mendekatinya. “Jer, lo kenapa biarin dengan pergi gitu aja? Kalau dia mati gimana?” June masih tidak terima dengan apa yang terjadi. “Mana mungkin gue menghalangi seorang pria yang sudah menetapkan keputusan dengan tekad seperti itu. Sekarang kita percaya aja sama kemampuan mereka berdua dan menunggu di pulau.” “Terserah lo deh Jer! Gue tuh gak ngerti cara berpikir kalian para pria,” jawab June dengan wajah kesal.  “Kalau gitu jadi pria dong. Enak tau! Hahahaha.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN