Begitu Nadine meninggalkan lubang tersebut, dia langsung berlari sekuat tenaga melalui jalur terluar di benteng tersebut untuk menghindari jangkauan deteksi dari Henri. Kemudian dengan cepat di menyegel semua pintu keluar yang terdekat dan dapat dijangkaunya.
Pintu berikutnya adalah gerbang atas yang dijaga pernah dijaga oleh Soka dan Suki sebelumnya. Tapi untuk mencapai tempat itu harus melewati tempat pelatihan yang mana akan beresiko diketahui oleh Begitu Nadine meninggalkan lubang tersebut, dia langsung berlari sekuat tenaga melalui jalur terluar di benteng tersebut untuk menghindari jangkauan deteksi dari Henri. Kemudian dengan cepat di menyegel semua pintu keluar yang terdekat dan dapat dijangkaunya.
Pintu berikutnya adalah gerbang atas yang dijaga pernah dijaga oleh Soka dan Suki sebelumnya. Tapi untuk mencapai tempat itu harus melewati tempat pelatihan yang mana akan beresiko diketahui oleh Henri karena berada di tengah benteng Galesia.
Nadine yang tidak punya pilihan lain pun langsung menerjang semuanya dengan cepat tanpa mempedulikan apa yang ada terjadi.
Dan benar sekali apa yang dikhawatirkan olehnya. Di panggung tempat para Medallion berlatih tanding seperti yang dilakukan oleh Nadine dan Marvin sebelumnya.
“Aku sudah menduganya kalau kau akan datang kembali bocah. Tapi aku kagum dengan mental yang tak goyah walau menghadapi lawan kuat. Kalau begitu bagaimana kalau aku menawarkanmu sebuah posisi untuk menjadi pengikutku. Aku berjanji untuk tidak membunuhmu sekarang, tapi mungkin suatu hari kalau kau sudah pantas untuk dibunuh.”
“Tawaran yang menarik tapi aku tidak tertarik untuk menjadi pengikutmu.”
“Bukankah aku adalah pemimpin benteng Galesia? Mengapa kau meragukannya?”
“Kau tidak bisa mengelabuhiku. Tuan Henri tidak memiliki hawa pembunuh sepertimu.”
“Oh ternyata kau cukup peka untuk seorang anak yang baru saja lahir beberapa tahun ini.”
“Bahkan seekor binatang pasti dapat merasakan hawa membunuhmu yang begitu besar.”
“Wah aku merasa terpuji dengan ucapanmu. Sangat jarang ada orang berani berkata seperti itu setelah sekian lama. Aku jadi semakin tertarik untuk melahapmu, maksudmu menjadikanmu pengikutku. Maaf aku tidak pandai mengendalikan rasa lapar akan kekuatan langka. Bahkan setelah aku melahap tiga orang lemah tadi.”
“Kau telah membunuh tuan Soka! Kurang ajar! Aku akan membunuhmu sekarang juga.” Nadine berteriak dan langsung menyerang dengan menembakkan panah berkekuatan tinggi kepada Henri.”
Serangan itu pun berhasil mengenai Henri dengan telak.
“Hehehe, kau memiliki potensi yang cukup besar dengan usia yang masih muda.” Henri menyeringai setelah menahan serangan Nadine dengan menggunakan satu jari.
“Tidak bisa kupercaya! Bagaimana mungkin kau sekuat itu!”
“Oh kalau itu yang kau maksud dengan kuat, sayangnya aku baru menggunakan berapa ya? Oya satu persen dari kemampuanku setelah melahap kedua orang itu dan juga elemen kegelapan.”
Nadine terkejut setelah mendengarnya mengatakan tentang Elemen Kegelapan. Saat ini sudah tidak ada lagi kesempatan untuk menang melawan makhluk yang ada di hadapannya.
Bahkan dengan hanya mengeluarkan sedikit auranya saja sudah membuat Nadine bergetar akibat perbedaan kekuatan yang sangat jauh.
“Aku tidak menyangka kalau akan berakhir dengan cara seperti ini,” kata Nadine dalam hatinya.
Dalam sekejap Henri sudah berada tepat di hadapannya dengan hawa membunuh yang menggebu - gebu. Nadine menutup matanya dan pasrah akan takdirnya yang akan berakhir dalam beberapa saat.
“Tenang saja anak manis. Aku tidak akan mengakhiri hidupmu saat ini.” Henri memukul Nadine sehingga kehilangan kesadaran.
Sebelumnya dia pingsan, dari lubuk hati yang paling dalamnya berkata, “ seandainya ada seseorang menolongku saat ini.”
“Hey orang tua! Mau kau apakan wanita berisik itu?” Henri terkejut dengan suara yang terdengar dari belakangnya.
“Hah, aku kira kebodohan pun masih ada batasnya. Tapi sepertinya kau dapat melampaui batas kebodohan seorang manusia sehingga berani datang ke tempat ini seorang diri.”
“Seringkali diperlukan kebodohan untuk menjadi diri sendiri.” Marvin tersenyum dan berdiri dengan tenang menentang keberadaan kekuatan absolute di hadapannya.
“Lucu sekali, aku bahkan tidak merasakan kekuatan yang berarti darimu bocah. Mungkin kekuatanmu masih berada dibawah kekuatan wanita ini. Jadi apakah aku harus mengakhiri hidup dengan cepat sama seperti kedua orang tadi, atau kau beritahukan padaku kemana perginya orang - orang yang bersamamu tadi.”
“Sungguh pernyataan yang sangat mengesalkan. Apakah kau benar - benar meremehkanku sampai - sampai berpikir akan mengkhianati teman - temanku untuk mendapatkan pengampunan darimu?”
Henri pun tertegun dengan tekad yang tersirat dari perkataan seorang pemuda yang ada di hadapannya.
“Hehehe, kadangkala diperlukan penghianatan untuk dapat bertahan hidup di dunia yang kejam ini bocah. Itu pelajaran yang harus kau mengerti.”
“Mati, mati, mati. Apakah kau pikir begitu mudah memutuskan hidup matinya seseorang?”
“Tentu saja. Aku terlahir dengan kekuatan untuk menentukan kehidupan siapapun. Tidak ada yang dapat menghalangi keinginan untuk melakukan hal itu. Mungkin itu sudah menjadi takdir yang melekat padaku.”
“Sekarang kau malah berpikir seperti seorang Medallion. Oh ya mungkin karena aku dengar tubuh yang gunakan sekarang adalah miliki seorang Medallion bukan? Sangat ironi.”
“Jangan mulutmu bocah. Bisa saja aku membunuhmu dari tadi kalau mau.”
“Mengapa begitu terburu - buru? Aku akan memberitahu kemana orang - orang itu pergi membawa wanita yang luka parah tadi.”
“Nah begitulah seharusnya. Berkhianat adalah tindakan yang lumrah untuk seorang manusia, bahkan Medallion sekalipun.”
“Mungkin kau benar.”
“Jadi katakan padaku kemana mereka pergi? Aku berjanji tidak akan menghabisimu sekarang. Mungkin suatu saat saja.”
“Baiklah, mereka pergi ke suatu pulau terdekat dari sini.”
“Oh sepertinya aku mengetahui tempat itu. Tapi aku merasa sedikit penasaran dengan alasanmu sampai mengkhianati mereka.”
“Hahaha, kau salah kalau berpikir apa yang telah aku lakukan adalah tindakan pengkhianatan.”
“Apa maksudmu bocah?” Henri semakin penasaran dengan alasan Marvin yang sebenarnya.
“Begitulah. Aku merasa tidak perlu khawatir mengatakannya hal itu kepada orang yang akan mati sebentar lagi.” Marvin mengeluarkan aura kegelapan yang berdiam di dalamnya.
“Jangan - jangan?” Henri terkejut melihat kekuatan kegelapan yang berbeda dari miliknya.
“Kau benar. Beberapa waktu belakangan ini ada suatu perasaan yang terlintas di benakku. Suatu keinginan untuk menjadi lebih kuat dan itu membutuhkan sedikit pengorbanan. Sementara itu aku merasa bersalah kalau harus mengorbankan orang - orang yang tidak berdosa. Selain itu aku harus menyembunyikan kekuatanku dari mereka.”
“Lalu kemana arah perkataanmu bocah?” Henri pun mengeluarkan senjata sabit yang digunakannya saat bertarung melawan Soka dan lainnya tadi.
“Senjata yang bagus. Tapi aku memiliki senjata yang sejenis dengan yang kau miliki.” Marvin mengeluarkan sabitnya dengan pancaran kekuatan kegelapan yang lebih besar daripada miliki Henri.
“Ternyata kau bukan bocah sembarangan. Aku tidak pernah merasakan aura kegelapan yang begitu nyata dari seorang manusia dari dulu. Entah darimana kau mendapatkan kekuatan itu. Tapi aku menjadi tertarik dengan kekuatan tersebut dan ingin memilikinya.”
“Hehehe, benarkah. Kalau begitu kita memiliki pemikiran yang sama.”
“Jadi kau mau memberikan kekuatan itu padaku bocah?”
“Bukan seperti sayangnya, tapi aku akan mengambil semua yang ada padamu untuk menyempurnakan kekuatan dari senjata ini. Aku penasaran jadi seperti apa dia kelak.”