“Tuan, apa yang kau inginkan dengan memanggil kami keluar sekarang?” Suara jiwa - jiwa yang bersemayang di dalam senjata Marvin menggema di dalam hatinya.
“Menurut kalian apakah mampu menaklukkan orang itu?”
“Apa yang kau maksud adalah kotoran palsu yang ada disana?” Sahut suara itu.
“Kalian benar sekali. Seperti aku tidak perlu meragukan kekuatan kalian kalau bisa mengalahkannya.”
“Tuan, tolong jangan menghinakan kami lebih dari ini. Mana mungkin kami kalah dengan peniru seperti itu. Tapi bolehkah kau bertarung dengan wujud yang sebenarnya.”
“Jadi kalian sudah bosan mendekam di dalam senjata ini.”
“Kami tidak berani berkata seperti itu tuan. Tapi kami harus menunjukkan kepada anda cara kami bekerja yang sebenarnya.”
“Menarik sekali. Baiklah kalian boleh menunjukkan wujud yang sebenarnya kali ini.”
Henri bingung melihat Marvin berbicara sendiri tanpa ada orang di sekitarnya.
“Apa kau sudah gila bocah?”
“Maaf membuatmu menunggu tapi seperti senjata ini ingin bertarung denganmu tanpa menggunakan kekuatanku.”
“Ternyata kau benar - benar sudah gila. Bagaimana mungkin senjata dapat bertarung tanpa keterlibatan penggunanya.”
“Aku juga tidak begitu mengerti. Tapi mungkin kau dapat bertanya sendiri kepada mereka sendiri."
Marvin melemparkan senjatanya ke udara dan tiba - tiba keluar makhluk - makhluk dengan wujud yang aneh yang berjumlah seratus orang. Setiap dari mereka memiliki kekuatan yang sangat besar.
“Hahaha.” Henri tertawa sendiri melihat makhluk - makhluk yang bermunculan di hadapannya.
“Hey peniru, apakah kau yang ingin bertarung melawan kami? Bagaimana mungkin kau menghina kami dengan cara seperti itu dihadapan orang yang hormati? Sepertinya penciptamu tidak mengajarimu cara berperilaku dengan baik.”
“Peniru?”
“Ya kau hanya makhluk tiruan yang dibuat menyerupai kami dengan wujud manusia. Tapi kekuatan yang digunakan untuk menciptakan kamu hanya menggunakan salah satu bagian dari tubuh kami saja. Tapi ternyata dengan kemampuan seujung kuku itu sudah berani bertingkah layaknya penguasa. Sungguh menggelikan.”
“Mengapa kalian bekerja sama dengan bocah lemah sepertinya? Bukankah lebih baik bersatu denganku dan kita bisa menguasai dunia.”
“Sudah kuduga hanya itu yang dapat terpikirkan oleh makhluk rendahan sepertimu. Pada masa kami menguasai dunia adalah sesuatu yang membosankan. Tidak ada hal yang menarik dari menguasai dunia. Sekuat apapun makhluk kegelapan seperti kita, suatu hari pasti akan ada kekuatan yang ditakdirkan untuk melampauinya berasal dari manusia.”
“Bagaimana mungkin itu bisa terjadi?” Henri terkejut dengan penyataan itu.
“Di atas langit masih ada langit. Setinggi apapun kau terbang, tetap akan ada yang akan terbang lebih tinggi lagi. Dasar makhluk rendahan! Bahkan hal seperti itu tidak kau ketahui.”
“Lalu apa yang lebih menarik daripada menguasai dunia?” Tanya Henri.
“Merubah dunia dunia. Dan kami melihat orang itu memiliki potensi untuk melakukan hal itu. Tapi sayang sekali kau mustahil dapat melakukan hal itu dengan kekuatan tiruan.”
“Kurang ajar. Berani - beraninya kalian menghinaku. Kalau kalian tidak mau bergabung denganku, maka tidak perlu mengatakan hal mustahil seperti merubah dunia atas semacamnya.”
“Lalu apa yang kau mau lakukan sampah?”
“Aku akan mengambil kekuatan kalian dan menjadikannya milikku.”
“Hey kalian, apakah kita membutuhkan kekuatannya?” Marvin berseru dari kejauhan.
“Tidak mungkin, tidak mungkin, tidak mungkin. Kekuatan kami tidak memerlukan kotoran itu.”
“Kalau begitu apakah kalian dapat melenyapkan kegelapan itu dari dalam tubuh yang digunakannya?”
“Bukan masalah tuan. Melakukannya seperti membuang debu dari cermin saja.”
“Kalian kira aku akan diam saja mendengar semua hinaan itu.” Henri pun melemparkan senjatanya ke atas lalu menciptakan lubang hitam untuk menghisap semuanya.
“Huuh!” Dengan satu tiupan dari salah satu makhluk itu dapat melenyapkan lubang hitam yang dibuat Henri.
“Bagaimana bisa semudah itu.” Henri pun membuat lubang hitam yang lebih besar dan lebih kuat lagi dengan menambah kekuatan yang di dalam dari Soka dan Horsa.
“Percuma saja peniru! Inilah lubang hitam yang sesungguhnya. Kami dahulu menggunakan kekuatan ini hanya untuk membuang sampah saja.”
Sebuah lubang hitam dengan ukuran 10 kali lipat pun muncul di atas lubang hitam milik Henri. Karena begitu besarnya, lubang hitam Henri pun terhisap ke dalamnya.
“Nah sekarang apa lagi kekuatan yang ingin kau gunakan untuk melawan?”
Henri pun menggunakan kekuatan kegelapan untuk melemparkan batu - batu yang ada di sekitarnya seperti saat melawan Horma tadi.
“Dasar peniru! Apakah kau anak - anak sampai menggunakan batu - batu kecil untuk main lempar - lemparan? Sungguh menyedihkan. Pasti karena kekuatanmu yang tidak memadai sampai - sampai hanya mampu menggunakan batu - batu kecil saja.” Dengan mudahnya semua batu itu ditangkap satu persatu tanpa sisa.
“Apa?!”
“Inilah teknik yang kau tiru itu.” Tiba - tiba panggung pelatihan yang biasa digunakan untuk latih tanding terangkat ke udara dan warnanya berubah menjadi hitam pekat kemudian terlempar kepada Henri.
Mata Henri terbelalak melihat kekuatan teknik yang digunakan terhadapnya. Tapi sebelum terhempas untungnya dia dapat menghindar dan selamat.
“Jangan pikir kau bisa selamat kau kemampuanmu. Kamilah yang memperlambat serangan itu.”
“Ini tidak adil! Mengapa bukan aku yang mendapatkan kekuatan sebesar itu? Mengapa harus bocah yang tidak berguna itu?”
“Apa yang kau katakan?” Marvin mendengar namanya disebut.
“Tidak apa - apa tuan. Anda mungkin mendengar racauan putus asa darinya.”
“Jangan bermain - main lagi. Aku harus menyusul Jeremy agar tidak tertinggal lebih jauh.”
“Baiklah tuan.”
Mereka langsung mengelilingi Henri secara bersama - sama.
“Sekarang waktunya kau kembali kepada ketiadaan. Karena dari sanalah kau sebenarnya berasal. Dimensi tanpa kehidupan yang berada di antara dimensi - dimensi nyata di alam semesta ini.
“Aku tidak boleh mati di tempat ini. Aku harus mewujudkan keinginanku untuk menguasai dunia.”
“Ternyata kau masih belum menyadari posisimu di dunia ini. Aku akan memberitahukan dengan cara yang lebih mudah dipahami sebelum kau lenyap.”
Salah satu dari makhluk kegelapan tersebut menyentuh dahi Henri dan mengalirkan pengetahuan yang tersembunyi baginya selama ini.
Begitu Henri melihat semua pengetahuan itu maka tersungkurlah dia dalam keputusasaan. Pandangannya menjadi kosong, nafasnya yang tadi normal kita sudah mulai putus - putus seperti orang yang tidak punya harapan lagi.
“Bagaimana mungkin aku tidak mengetahui semua itu.”
“Sepertinya dia hanya hasil uji coba yang digunakan sebagai umpan kemudian dibuang ke dunia manusia untuk membuat kekacauan saja.”
“Kau benar. Aku yakin masih banyak makhluk seperti ini dan lebih merepotkan di luar sana selama kita terkurung di lorong sempit itu.”
“Para Dokoon sudah bertingkah berlebihan dengan menciptakan tiruan kita. Tapi aku penasaran tubuh siapa yang digunakan untuk menciptakan mereka.”
“Suatu hari kita akan mengetahui kebenarannya. Tapi sekarang kita harus menghentikan penderitaan darinya.”
Dengan satu tangan yang teracung langsung menghisap makhluk kegelapan yang ada di dalam tubuh Henri. Semua kekuatan itu berkumpul di tangannya menyerupai sebuah bola berwarna hitam dengan satu mata yang tertutup.