“Lalu apa masalahnya dengan hal itu anak manis? Dunia tidak akan menyadarinya kalau kalian berdua mati ditempat ini. Aku akan menipu semua Medallion yang ada di dunia ini dan meruntuhkan kekuatan mereka. Tidak hanya itu, aku juga akan menguasai semua Dokoon dengan semua kekuatan palsu mereka. Dengan begitu aku akan menjadi penguasa mutlak di dunia ini.”
“Penguasa mutlak? Jangan bercanda. Mungkin karena kau telah tertidur begitu lama sehingga kau tidak mengikuti perkembangan dunia. Masih banyak orang - orang kuat di dunia ini.”
“Pembohong! Aku sudah melihat ke dalam ingatan dari tubuh ini dan tidak melihat adanya informasi tentang keberadaan sosok yang kalian anggap kuat itu.”
Ternyata jiwa Henri yang sebenarnya telah memblokir informasi penting tentang dunia luar sebelum dirinya dikuasai sepenuhnya oleh kegelapan.
“Sudahlah Horma! Apapun yang kau katakan, kita tetap akan mati di tempat ini. Apa gunanya kau menakut - nakuti orang ini?” Kata Horsa.
“Bocah ini benar. Kalian berdua akan menjadi mangsaku dan menyempurna kekuatanku.”
Dengan mudahnya Henri menarik kekuatan kegelapan dari dalam tubuh Horsa menggunakan satu tangannya. Tak butuh waktu lama sampai semua kegelapan tersebut sirna sepenuhnya.
“Akhirnya aku mendapatkan kekuatan ini. Sekarang waktunya aku melahap jiwa kalian para Medallion tidak berguna.”
Saat Henri hendak melahap mereka berdua, tiba - tiba sebuah batu kecil melesat kepadanya.
“Heh, ternyata ada tikus lain yang ingin cari mati. Memangnya apa yang bisa dilakukan oleh batu kecil ini?” Henri tersenyum.
“Gubrak…!” Begitu Henri menangkapnya, dia langsung terlempar sangat jauh karena tidak dapat menahan berat dari batu tersebut.
“Apa? Batu apa ini?” Henri terkejut karena saat ini pun dia belum mampu mengangkat benda itu dengan tangannya walau sudah menggunakan keduanya.
“Tuan Suki! Apakah anda baik - baik saja?” Horma tersenyum gembira melihatnya.
“Hoho, terima kasih karena telah mengkhawatirkan orang tua seperti ini. Tapi teknik yang digunakan oleh Soka tadi memang sangat menyusahkan. Aku sampai terdorong sampai keluar akibat jumlah batu yang terus bertambah.”
“Yang penting anda baik - baik saja,” sahut Horma.
“Aku pun terkejut karena teknik pembesaran benda yang digunakan Soka tiba - tiba berhenti saat aku berusaha menghancurkan semua penghalang. Tapi sepertinya keadaan disini sudah berbeda dan terasa lebih runyam.”
“Orang tua, katakan siapa kau! Aku tidak merasakan kehadiranmu di dalam benteng ini dari tadi.”
Suki yang mendengar Henri berkata seperti itu terdiam sejenak kemudian melayangkan pandangan kepada Horma.
“Dia adalah roh kegelapan yang tertidur di dalam tubuh tuan Henri. Sepertinya Soka telah melakukan sesuatu yang memicu terbangkitkannya makhluk ini.”
“Pantas saja aku merasakan aura jahat yang sangat kuat darinya. Aku tidak mengira kalau tuan Henri menahan makhluk ini di dalam dirinya setelah sekian lama. Kalau aku pastilah sudah menjadi makhluk yang sama apabila ada roh kegelapan yang berdiam di dalam diriku.”
“Hey, kau belum menjawab pertanyaanku.” Henri menatap Suki dengan tajam seakan memaksa untuk menuruti perintahnya.
“Lucu sekali kau yang menggunakan tubuh tuan Henri tidak mengenali diriku yang merupakan penghuni terlama benteng Galesia.” Suki menyadari kalau Henri lah yang merencanakan tentang pembatasan ingatan yang dapat dibaca saat ini.
“Jangan banyak omong! Kalau kau tidak mau menjawab maka aku akan memaksamu dengan kekerasan.” Henri mengarahkan kekuatan lubang hitam untuk menghisap Suki seperti saat melawan Horma dan Horsa tadi.
“Menyingkirlah dari lubang hitam itu tuan Suki! Dia akan menghisap anda masuk ke dalamnya. Oya serangan jarak jauh tidak berpengaruh terhadapnya.”
“Terima kasih nona Homa. Sepertinya anda sudah mulai akur dengan laki - laki yang ada di sana.” Suki tersenyum.
“Diam kau orang tua! Aku terpaksa melakukan ini untuk mengalahkan makhluk itu,” kata Horsa.
“Rasakan kekuatan kegelapan!” Teriak Henri kepada Suki.
Tidak seperti yang diperingatkan oleh Horma, Suki malah berdiri saja di tempat itu seperti sedang bersiap menerima serangan tersebut.
“Haruslah kau mendengar perkataan wanita manis ini orang tua.” Henri tersenyum karena serangan telah mengenai Suki.
Suki menatap Henri dengan berani dan tidak menghiraukan sindiran terhadapnya.
“Sudah kuduga!” Horsa tersenyum melihat ke arah pertarungan.
“Apa maksudmu?” Horma bingung akan perkataan kakaknya itu.
“Apa? Bagaimana mungkin bisa terjadi?” Henri terkejut melihat tekniknya yang tidak berpengaruh terhadap Suki yang tetap berdiri dengan kedua kakinya.
“Trik apa yang digunakan olehmu orang tua?”
“Hanya sedikit teknik bertahan yang diajarkan oleh orang tuaku saat badai besar datang dimata lalu.”
Dahulu kala pada saat Suki masih kecil di tempat asalnya sering terjadi badai yang dapat memporak - porandakan apapun. Bahkan gunung tinggi kala itu dapat tergerus akibat betapa dahsyatnya badai tersebut. Suki dilatih untuk bertahan dengan memperkuat pijakannya agar tidak mudah terbawa karena hanya beberapa pohon yang dapat digunakan untuk bertahan. Ternyata semua itu dapat memperkuat kemampuan yang didapatkannya saat menjadi seorang Medallion.
“Kau pasti bohong! Tidak mungkin pertahanan kaki seorang manusia dapat bertahan dari teknikku. Bahkan para Medallion tingkat tinggi yang ada disana tidak dapat bertahan menghadapinya.”
“Benarkah? Sepertinya mereka sudah terlalu lelah saat bertarung denganmu. Jadi kau jangan senang dulu karena hal kecil seperti itu.”
“Dasar orang tua aneh.” Horsa tersenyum mendengarnya.
“Kalau begitu bagaimana dengan yang ini?” Henri pun membalikkan tekniknya dengan menjadinya daya dorong.
“Tidak mungkin!” Henri melihat Suki yang bukan hanya bertahan tapi dapat berjalan dengan bebas seperti biasa mendekatinya.
Langkah kaki Suki semakin cepat mendekati tempat dimana Henri berdiri untuk menyerang.
“Aku tidak punya waktu bermain - main angin seperti ini. Sebaiknya hadapi aku dengan serius.” Suki berteriak sambil mendaratkan satu pukulan pada Henri yang terpaku pada senjatanya.
Henri pun terdorong beberapa langkah ke belakang akibat terkena serangan langsung tersebut.
“Pukulan ini? Sekarang aku mengerti mengapa teknikku tidak berpengaruh terhadapmu. Kau dapat mengubah berat tubuhmu berkali lipat untuk menangkal daya hisap dan dorong dari lubang hitam.”
“Astaga ternyata rahasiaku ketahuan juga. Tapi cepat atau lambat kau pun akan mengetahuinya. Begitu lebih baik karena aku dibilang orang yang bertarung dengan curang.”
“Baiklah orang tua, aku akan bertarung dengan cara yang kau inginkan. Kita lihat siapa yang lebih unggul.” Henri membelah sabitnya menjadi dua bagian dengan satu mata sabit.
“Malaikat Maut!” Henri terkejut dengan posisi bersiap Henri sebelum bertarung.
“Wah ternyata kau sudah hidup cukup lama sampai mengetahui teknik bertarung seperti ini. Kau benar sekali. Sekarang tidak ada rahasia diantara kita. Kita impas bukan?”
“Tidak sampai kau keluar dari tubuh tuan Henri,” sahut Suki.
“Permintaanmu terlalu berlebihan orang tua. Tapi akan aku pertimbangkan kalau kau dapat mengalahkanku.”