Akhir Horma kembali dapat mengendalikan kekuatan airnya karena sudah terlepas dari pengaruh kegelapan.
“Kau berhutang padaku Horma.”
“Tega sekali kau berkata seperti itu kepadaku. Apakah kau sudah lupa telah banyak merepotkanku selama ini.”
“Sudahlah kalau begitu anggap saja kita impas karena aku sudah menyelamatkan nyawamu.”
“Terserah padamu saja. Tapi kita harus mengalahkan dia apapun yang terjadi.”
“Berbicara memang mudah. Padahal kau telah gagal dan hampir mati tadi.”
“Tenang saja, berikutnya aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama karena telah melihat caramu menyerangnya.”
“Aku sejujurnya meragukan itu. Terlalu cepat menyimpulkan segala sesuatu adalah sesuatu yang sering dilakukan oleh orang - orang bodoh di dunia ini. Dan sepertinya kau salah satu diantara mereka semua.”
“Terima kasih atas pujiannya,” sahut Horma.
Horsa pun berhenti menyerang Henri karena semuanya dapat ditangkis dengan sempurna oleh sabit tersebut.
“Senjata itu sangat berbahaya. Dia bisa menyerang dan bertahan di waktu bersamaan.”
Setiap Henri memutar senjatanya dapat menciptakan lubang hitam untuk menangkis, menyerap, dan membalikkan serangan secara sempurna.
Ketika Horsa berhenti menyerang langsung dilanjutkan oleh Horma menggunakan kekuatan airnya tapi dengan wujud seperti meriam.
“Aku tidak mengira kalian dapat bekerjasama dengan baik walau sebelumnya bermusuhan. Tapi aku menunjukkan sesuatu yang lebih menarik untuk dihadapi secara bersama - sama. Mungkin aku bisa lebih terhibur dengan serangan kombinasi kalian.” Mata yang licik itu menyiratkan kejahatan murni yang keluar dari dasar hati seorang manusia.
Dia melemparkan sabitnya ke udara lalu berputar membentuk lubang hitam dengan diameter yang semakin membesar. Kekuatan yang menghisap semua yang ada dibawahnya kecuali Henri yang merupakan pengguna sendiri.
Benda - benda besar sampai yang berukuran seperti debu pun mulai terhisap olehnya. Horsa dan Horma menghadapi kekuatan yang belum dihadapi selama hidupnya. Suatu kekuatan yang melampaui akal sehat seorang manusia tergila sekalipun. Akankah kekuatan seorang Medallion dapat menghadapinya?
“Aku tidak percaya akan adanya kekuatan seperti ini. Tapi kita tidak boleh kalah dengan kekuatan kegelapan apapun.” Horma mencoba bertahan dengan membuat pembatas di atasnya dengan perisai air.
“Kalau saja Soka bisa lebih menahan diri pastilah tidak akan tercipta makhluk ini.” Horsa membuat cambuk dari air yang terikat pada tubuhnya untuk menahan daya hisap lubang hitam tersebut.
“Tidak percuma kalian disebut sebagai Medallion tingkat tinggi karena dapat berpikir dengan cepat ketika diperhadapkan dengan kekuatan yang tidak dikenal sekalipun. Tapi mungkin akan lebih menarik kalau aku menambahkan sedikit keseruan dari pertunjukkan ini.”
Henri pun memperbesar rentang diameter lubang hitam dan menambahkan kekuatannya menjadi 10 kali lipat.
“Jangan salahkan aku karena menghormati posisi kalian yang merupakan pemilik otoritas yang lumayan tinggi di tempat ini.”
Walau sudah bertahan dengan sekuat tenaga tapi kini mereka malah diperhadapkan dengan kemustahilan yang mendorongnya kepada batas dari kekuatan Medallion sekalipun.
“Jangan seenaknya mengatakan alasan yang tidak perlu hanya karena ingin menghibur.” Dengan sekuat tenaga Horsa bertahan dengan tubuh yang sudah mengambang di udara.
“Benar, hanya orang gila yang mencari kesenangan dari menyiksa orang lain,” sahut Horma.
“Benarkah? Aku merasa terhormat mendengar perkataan kalian itu. Tapi sepertinya sudah waktunya kita memulai pertunjukkan yang sebenarnya. Apakah kalian pernah melihat hujan sebelumnya? Pasti kalian belum pernah karena selalu terkurung di dalam benteng ini bukan? Nah kalau begitu akan aku perlihatkan kepada kalian hujan yang menyenangkan.”
Henri mengangkat tangannya dan tiba - tiba daya hisap dari lubang hitam itu pun berhenti seketika.
“Akhirnya aku terbebas dari kekuatan aneh itu,” kata Horma.
“Jangan lengah bodoh!” Horsa yang baru saja terjatuh di lantai langsung bersiap dengan bola airnya.
Horma yang melihat hal itu pun mengikuti apa yang dilakukan oleh kakaknya itu walau tidak tahu apa yang akan terjadi.
Tidak sampai nafas mereka kembali normal akibat penggunaan kekuatan yang sangat besar secara terus - menerus, kini mereka merasakan adanya hembusan angin sepoi - sepoi dari atas dalam kurun waktu beberapa detik.
“Jangan - jangan! Berlindung!” Horsa berteriak dan menciptakan suatu kubah perlindungan yang kokoh.
Dan benar sekali apa yang dipikirkan oleh Horsa. Pengalamannya dalam bertarung dan pengetahuan yang dikembangkannya membuat dia peka akan bahaya yang akan datang.
Serta merta dari atas tiba - tiba muncul tiupan angin kencang yang mendorong dengan sangat kuat sehingga menekan lantai sampai retak akibat tidak kuat menahannya.
Tak lama kemudian benda - benda satu persatu mulai berjatuhan dengan daya dorong 10 kali lipat gravitasi dan menghancurkan lantai di tempat itu. Semua benda itu adalah puing - puing bangunan dan pajangan yang terhisap oleh kekuatan lubang hitam sebelumnya.
Kecepatan semua benda itu hampir seperti panah yang melesat dengan kuat. Akibat terkena jatuhan benda - benda keras secara beruntun membuat lubang yang besar seukuran dengan lubang hitam yang ada di atas pada lantai.
“Aku nyatakan kalian sebagai orang yang kuat. Belum pernah ada orang yang mampu menahan teknik ini. Bahkan orang bodoh yang ada di dalam pun sepertinya tidak akan mampu bertahan seperti kalian.”
“Krak…!” Kubah perlindungan yang diciptakan oleh Horsa tiba - tiba retak karena tidak kuat menahannya.
Horma yang memiliki teknik bertahan lebih tinggi daripada kakaknya langsung menutupi retakan itu dengan kekuatan airnya.
“Sekarang hutang kita impas bukan?” Kata Horma.
“Sepertinya aku tidak meminta pertolongan darimu. Dengan kekuatanku masih mampu bertahan jauh lebih lama lagi.”
“Pertengkaran antara kakak beradik menang paling menyenangkan untuk disaktikan sejak bumi ini diciptakan. Tapi apa yang dikatakan pria ini adalah benarnya, sekuat apa pun kekuatan kalian, yang bisa kalian lakukan hanyalah bertahan saja.”
“Apa katamu?” Horma berteriak kesal menyadari ketidakmampuan mereka.
“Terima saja dan hadapi kenyataan bahwa kekuatan kalian memang tidak sebanding denganku.” Henri mendekati Horsa di dalam ruang lingkup teknik lubang hitam tersebut.
“Apa yang mau kau lakukan?” Horsa tidak bisa bergerak sedikitpun karena kubah yang diciptakannya hanya cukup untuk tubuh saja tanpa ruan gerak sama sekali.
“Tenanglah bocah! Setelah menghisap kegelapan yang ada di dalam dirimu maka kekuatanmu akan menjadi milikku. Seharusnya kali merasa terhormat karena diberi kesempatan untuk mempersembahkan kekuatanmu kepada pemimpin benteng Galesia.”
“Jangan sembarangan! Kau hanya iblis yang menumpang di dalam tubuh tuan Henri,” seru Horma.