Pengelihatan

1416 Kata
Di sisi yang lain, di alam kabut terjadi kekacauan yang sangat besar. Istana alam kabut terbakar hebat karena ulah Nenek Ajeng dan Saloni yang telah menjadi penguasa alam kabut. Para jin kabut lainnya dikurung di ruang bawah tanah, sementara roh-roh jahat malah dilepaskan untuk menduduki alam kabut. Alam kabut yang semula cantik, indah dan glamour menjadi hancur bak istana kegelapan. Awan di istana kabut menjadi gelap, singgasana alam kabut pun berubah menjadi berlambang tengkorak. Tampak sekarang Nenek Ajeng menduduki singgasana alam kabut, sebari tersenyum licik. Di depannya, berkumpul banyak sekali para makhluk jahat dengan wajah sekaligus bentuk yang sangat menyeramkan. "Para rakyatku, sekarang alam kabut menjadi milik kita! Sekarang kita akan menguasai alam ini selama-lamanya, huahahaha! Istana ini yang semula bernama istana alam kabut, akan berubah nama menjadi istana alam kegelapan yang penghuninya para makhluk-makhluk jahat! Hahahaha!" "Hidup Ratu Ajeng!" "Hidup!" "Hidup Ratu Ajeng!" "Hidup!" "Hidup Ratu Ajeng!" "Hidup!" "Hidup Ratu Ajeng!" "Hidup!" Di tengah kebahagiaan kemenangan atas kebaikan yang dilakukan Nenek Ajeng, diam-diam Shalaka dan Syera memperhatikannya dari air pengelihatan di sebuah kendi. Mereka berdua tidak dikurung, mereka berdua bersembunyi di alam bumi, tepatnya di rumah Roshni. "Ibu, alam kabut sudah benar-benar hancur! Bagaimana ini?" "Ibu juga tidak tahu, Ratu Roshni telah lalai, dan hal itu menjadi pemicu kehancuran alam kabut. Ternyata kata-kata Ratu Tara benar, kita harus memperhatikan Ratu Roshni terus-menerus agar dirinya tidak salah arah, namun kita justru menghiraukannya dan lupa akan pesan itu." "Sekarang jalan satu-satunya yang kita dapat lakukan untuk menyelamatkan alam kabut adalah dengan berdoa. Kita hanya bisa berdoa, menunggu keajaiban yang datang." "Tapi, Bu ... apa Syera membujuk Roshni saja?" "Iya, Syera. Kamu bujuklah Roshni, tetapi mungkin hanya kecil kemungkinan dia mau." Alam kabut hancur, sementara di sekolah terjadi keributan yang luar biasa karena para anggota OSIS mencari Aisyah, dan malah menemukan Aisyah tergeletak pingsan beserta geng kalajengking merah yang terbungkus kain kafan di dalam bekas ruangan kelas 12 IPS 1. Para OSIS langsung membawa mereka berempat ke ruang UKS untuk perawatan lebih lanjut. Beberapa menit kemudian, Aisyah dan para geng kalajengking merah terbangun. Aisyah kembali segar-bugar ketika Kak Lulu memberikan segelas air putih kepadanya. Sementara Amanda, Athalla dan Amayra yang masih terbungkus kain kafan, mengatakan bahwa mereka bertiga pusing dan sangat mual. "Aduh, memangnya kenapa sih kalian bertiga sampai kaya begini? Ada apa?" Tanya Kak Lulu, penasaran. "E-Enggak tau, Kak. Hari senin, saya olahraga, tapi tiba-tiba saya enggak inget apa-apa lagi." Jelas Athalla, pening. "Hmm, sekarang kalian coba istirahat dulu, baru setelah itu kalian ingat-ingat lagi. Soalnya jangan-jangan nih kalian bertiga kena bully." "Iya, Kak." Pagi pun tiba, sang surya terbit dan menghiasi cakrawala langit kota Majalengka. Di pesantren Ar-Rahman, mobil putih terparkir di depan rumah Pak Kyai Rahman. Di depan rumah itu, terdapat Aisyah dan Nazwa, temannya yang nampaknya sedang menunggu kehadiran seseorang yang ada di mobil tersebut. Mereka berdua terlihat memakai seragam putih-abu, karena sebentar lagi akan berangkat ke sekolah. Klek! Pintu mobil itu terbuka, terlihat dua orang remaja perempuan yang mengenakan gamis serta hijab beraneka warna dan satu remaja lelaki yang memakai sarung, kopeah dan baju koko putih keluar dari mobil tersebut. "Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh!" Ujar salah seorang remaja perempuan, sebari tersenyum semringah ke arah Aisyah dan Nazwa. "Eh, Bibi Yana! Waalaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh." Balas Aisyah, tersenyum semringah. Mereka bertiga adalah Yana, Anushka dan Reno, santri dari pondok pesantren probolinggo. Mereka merupakan saudara jauh Aisyah. Tujuan mereka datang ke pondok pesantren Ar-Rahman adalah untuk menghadiri acara isra'-mi'raj akbar yang akan diadakan pesantren Aisyah. "Ayo masuk, Bi Yana, Bi Anushka, Paman Reno .." Nazwa, mempersilahkan mereka bertiga untuk masuk. "Iya, terimakasih, Adek-Adek, hehe ..." Anushka, bahagia. Mereka bertiga masuk ke dalam rumah utama Pak Kyai Rahman yang letaknya sedikit jauh dari ruang tamu rumah yang biasanya untuk para tamu santri-santriwati, dan tempat belajar mengaji. Sesampainya di rumah utama, Yana, Anushka dan Reno duduk di sofa empuk sebari menaruh barang-barang bawaannya di lantai, yang tersimpan rapih dalam koper. "Bi Yana, Bi Anushka dan Paman Reno, maaf tunggu dulu aja di sini ya. Soalnya Ibu dan Ayah lagi di masjid agung, hehe. Mungkin jam 10 pagi, mereka pulang." Ucap Aisyah, ramah. "Oh, tidak apa-apa atuh, Syah. Santai aja." Yana. "Hehe, oh iya, kamar kalian ada di dekat ruang keluarga ya, sudah kami siapkan, ada dua ruangan. Kalau kalian mau istirahat, boleh sekarang juga." Tambah Aisyah. "Iya, Syah. Makasih ya. Yaudah, kami ke kamar dulu." Ujar Yana. "Iya, Bi. Aisyah sama Nazwa mau ke sekolah dulu ya." "Iya, hati-hati ya, Dek." Aisyah dan Nazwa mencium tangan Yana, Anushka dan Reno. Tetapi, di saat Aisyah mencium tangan Yana, Yana merasakan sesuatu yang tak beres. Tiba-tiba saja, Yana mendapati pengelihatan kejadian buruk yang akan menimpa Aisyah, tetapi masih samar-samar. Yana ini memang mempunyai kelebihan, ia dapat melihat masa depan, dan melihat sesuatu di luar nalar manusia, walaupun samar-samar. "Dek Aisyah, jangan ke sekolah!" "Lho? Ada apa ya, Bi?" "Bibi mendapat pengelihatan kalau di sekolah kalian itu ada kejadian yang buruk, kejadian hari ini bakalan mengancam nyawa hampir satu sekolah!" Ungkap Yana, sangat serius. "Hah? Bagaimana bisa, Bi?" Aisyah, kurang yakin dengan perkataan Yana. "Aisyah, sekarang ada acara pentas seni untuk perpisahan kelas 6, 9, dan 12?" Yana, memastikan. "I-Iya, Bi. Betul! Aisyah jadi salah satu panitianya." Jawab Aisyah, gugup. "Astaghfirullahaladzimmm! Benar pengelihatan Bibi! Yasudah, kamu jangan ke sekolah!" "Tapi, Bi ... Aisyah jadi panitianya, itu tanggungjawab Aisyah." "Hmm, yasudah, Syah. Bibi akan ikut bersama kamu ke sekolah, gimana?" "Oh, iya, boleh. Boleh banget, Bi. Kebetulan orang tua wali siswa-siswi hadir hari ini, yang wajib hanya kelas 6, 9, dan 12. Kalau untuk wali kelas lain boleh juga hadir, tapi enggak wajib." "Bagus kalau gitu, yasudah ayo, Syah." Ajak Yana. Aisyah kurang mempercayai perkataan sang Bibi, karena Aisyah tidak percaya dengan itu semua. Tetapi, Aisyah harus berhati-hati agar tidak mendapati sesuatu yang tidak seharusnya terjadi di sekolah, apalagi sesuatu yang akan mengancam nyawanya sendiri. Sesampainya di sekolah, sekolah sudah ramai dengan banyak sekali para siswa-siswi kelas 6, 9, dan 12 beserta para orang tuanya yang berkumpul di sekolah. Para anggota OSIS telah menyiapkan semuanya agar acara ini berhasil dan memuaskan. Di aula, panggung sudah tertata, ratusan kursi pun sudah berjejer di dekat panggung, yang disediakan untuk para orang tua siswa-siswi. Untuk tempat duduk para siswa-siswi, telah anggota OSIS siapkan pula di permadani yang sangat besar yang berada di samping kursi-kursi wali murid yang dibagi menjadi dua bagian, bagian kiri dan bagian kanan, di tengahnya terdapat ratusan kursi. Di dinding-dinding aula tedapat lampu kelap-kelip, dan di panggung terdapat gamelan, dan hiasan spanduk yang didesain sangat kreatif dan inovatif. Terdengar suara musik yang sangat ceria dari soundsistem, yang membuat suasana semakin menyenangkan! Di alam kabut, Ratu Ajeng membawa para pejabat-pejabat alam kabut yang dulu. Ratu Ajeng membuat mereka semua menjadi b***k dan pelayan, sebagai bentuk pembalasan dendamnya. Saloni yang melihatnya hanya tertawa bahagia, meskipun Neneknya sudah berumur, tetapi Neneknya dapat mengatur segalanya dengan rapih dan lancar. "Oh iya, Nek. Apa mungkin jika Shalaka dan Syera sedang mengatur rencana untuk membuat alam kabut seperti semula lagi?" "Iya, Cucuku. Itu memang benar, mereka sekarang bersembunyi di bumi, dan merencanakan sesuatu untuk kita. Katanya nanti si Syera yang payah itu akan membujuk Roshni untuk kembali ke jalan kebajikan. Tapi, kamu tahu Roshni kan? Sikap Roshni itu keras kepala, dan pendendam. Jadi jika dia sudah dendam kepada seseorang, maka dirinya akan membalasnya sampai ia merasakan kepuasan duniawi." "Haha, betul juga, Nek. Roshni polos dan pendendam, bagaikan anak kecil." "Cucuku, kita bisa melihat pembalasan Roshni yang akan menghancurkan SMAN 1 Nusa sekarang, lihatlah banyak korban jiwa yang berjatuhan karena ulahnya, hahahahahahahaha!" "Iya, Nek. Inilah pembalasan untuk generasi Melinda!" "Sekarang kita santai-santai saja, Cucuku. Kita nikmati semua fasilitas di sini, dan jika kau perlu apa-apa, kau tinggal menyuruh b***k dan pelayan kita yang dulu membuatmu menjadi pelayan." "Iya, Nek." Di aula sekolah, tepat di jam 08.00 pagi, banyak yang sudah berkumpul. Mereka semua berkumpul untuk melihat pertunjukan pentas seni yang akan diadakan sesaat lagi. Terlihat Bu Tantri selaku moderator acara tersebut mulai membuka acaranya, tampak para hadirin sangat bersemangat untuk melihat acara ini. Beberapa lama menit kemudian, acara itu pun resmi dibuka. Aisyah berada di belakang panggung, ia akan memeriksa Roshni, apakah Roshni datang ataukah tidak, ia memeriksanya melalui CCTV, akan tetapi ia tak menemukan Roshni, yang ia lihat justru Amanda, Athalla dan Amayra yang sedang terduduk lemas di barisan paling depan. "Sebenarnya Roshni kemana? Biasanya dia paling bersemangat di acara perpisahan kaya gini." Ujar Aisyah, yang mencari-cari Roshni di hadapan layar. "Aisyah!" Seorang remaja perempuan memanggil namanya dari belakang. Aisyah menoleh, ternyata yang memanggilnya adalah Ashnoor dan Helen. "Ashnoor?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN