Siang yang cerah menyambut kota Majalengka, di rumah Roshni nampak ketegangan dan kepanikan terjadi, karena Sulis ditemukan pingsan di kamar mandi rumah Roshni, ia ditemukan oleh Aisyah yang saat itu ingin memeriksa keadaan Sulis yang sudah lama pergi dari kamar Roshni. Sulis siuman dengan dicipratkan air ke wajahnya oleh Levina, lalu mereka semua berkumpul di kamar Roshni, terlihat Roshni masih tertidur pulas di ranjangnya.
"Hah? Siluman kaki kuda? Beneran lo?" Helen, tak mempercayai omongan Sulis yang sepertinya mengada-ngada.
"Apa kamu enggak salah lihat, Lis? Kayanya kamu lihat siluman kuda di mimpi aja, bukan di kenyataan," Aisyah.
"Enggaklah, Syah! Jelas-jelas ada siluman kuda di depanku!" Sulis yang sangat serius.
"Tapi masa ada siluman kuda sih? Kagak masuk akal banget kan?" Levina.
"Iya, memang kagak masuk akal, tapi gue ngeliat sendiri!" Sulis, terus menyakinkan.
"Halah, kalo ada tuh siluman gue hajar aja!" tantang Helen, yang nampaknya hanya bergurau saja.
"Heh, orang lagi serius malah dibercandain!" Sulis, tak suka.
Roshni terbangun dan dia langsung menayakan perihal siluman kuda yang sedang diperbincangkan di sana.
"Siluman kuda, Lis?" tanya Roshni, sebari bangkit dengan sangat lemah di ranjangnya.
"Eh, Rosh, baring aja dulu," ujar Levina.
"Sebentar, Lev. Ada yang mau aku sampein."
"Apa, Rosh?" Sulis, memperhatikan.
"Aku tadi ngedenger semua perbincangan kalian tentang siluman kuda, dan entah kenapa saat Sulis menceritakan ciri-cirinya ... aku jadi teringat sama sesuatu. Aku ngerasa kalau aku udah pernah ngeliat siluman kuda secara langsung, aku juga lihat kuil ular, dan beberapa batu permata," jelas Roshni.
"Lho? Kenapa ini malah kaya cerita film? Mungkin kalian berdua halu doang!" Helen.
"Enggak, Len, aku enggak halu, sekilas aku pernah ketemu sama siluman kuda, kalau enggak salah waktu aku pulang magrib," kata Roshni.
"Pulang magrib? Maksudnya setelah kamu pulang dari pesantrennya si Aisyah, Rosh?" Sulis.
"Enggak tau, Lis, yang pasti aku ngeliat dia waktu magrib, entah itu mimpi atau apa, enggak seperti biasanya kejadian beberapa hari-hari yang lalu aku lupakan gitu aja, padahal biasanya aku selalu inget apapun," Roshni, merasa heran.
"Apa ini semua ada hubungannya sama sakit yang kamu alami, Rosh? Dan juga sama peristiwa kamu kerasukan di toilet hari jum'at yang lalu!" Aisyah, menebak-nebak.
"Aku enggak tau, Syah, aku juga bingung, sebenarnya apa yang terjadi sama aku," ungkap Roshni.
"Ini semua bener-bener misterius! Tapi kita ikutin aja alurnya, sebenarnya apa yang terjadi sama Roshni," Sulis, menatap ke arah jendela.
Kebohongan terbesar Amanda diketahui oleh Athalla dan Amayra, mereka berdua sungguh tak menyangka jika Amanda seburuk ini, ia menyuruh Ayahnya untuk berpura-pura menjadi supirnya, lalu Amanda juga telah mengaku kalau dirinya adalah orang kaya raya, ini sulit dipercaya, tapi buktinya sudah ada di depan mata. Di kos-kosan, Amanda dimarahi besar-besaran oleh Ayahnya, tak seperti biasa Ayah Amanda dahulu selalu memanjakan Amanda, dan menuruti perkataan Amanda yang Amanda mau, tapi sosok Ayah Amanda sekarang berubah menjadi kasar, mungkin ini semua karena rasa kecewa yang dirasakan Ayahnya begitu besar.
Setelah melihat rekaman yang ditunjukan Pak Gohan, emosi Ayah Amanda tak tertahan lagi. Pak Gohan berteriak di kos-kosan, sampai para mahasiswa-mahasiswi yang tinggal di sana keluar melihat kejadian itu.
"Kalau kamu seperti ini terus, Ayah bakalan masukin kamu ke panti asuhan! Ayah udah enggak tahan lagi mendidik kamu, Da, kamu selalu merundungi teman-teman sekolahmu, bahkan kamu telah bertindak semena-mena terhadap dirinya! Ingat, Nak, Roshni hanyalah remaja polos yang ingin sekolah, dia ingin tenang mengembangkan prestasinya di sana, tapi kamu malah menghancurkan itu semua. Nak-Nak, tobatlah, Nak!" ujar sang Ayah, penuh dengan tangisan.
Mak Suha, selaku Ibu pemilik kos turun tangan memarahi Amanda, karena kebetulan Mak Suha kenal dengan Ayah Amanda karena Mak Suha selalu langganan membeli bakso di stannya, Mak Suha sudah menganggap keluarga Amanda sebagai saudara sendiri karena sudah sangat akrab sejak dulu.
Amanda meringis ke Ayahnya, seketika Mak Suha membabi buta, "astaghfirullah, Nak! Apa kamu sadar dengan perbuatan kamu? Bangor maneh!" bentak Mak Suha, dengan logat khas sunda.
"Udah, Mak-Mak! Saya malu!" kata Amada, meringis.
"Oh, kalau gitu kamu tinggal di sini selama tiga tahun! Jangan pernah kamu kembali ke rumah saya!" sarkas Ayah Amanda.
Amanda seketika kaget, jika tidak tinggal di rumahnya, lantas di mana lagi ia akan tinggal?
Akhirnya terjadi adu argumen yang sangat kuat antara Amanda, Mak Suha dan Ayahnya sendiri sampai tak terasa senja tiba dengan begitu cepat. Ayah Amanda pulang ke rumahnya, Amanda malah menangis bagaikan anak kecil di ruang tamu kosan, Amayra dan Athalla masuk ke dalam kamar dengan perasaan kecewa, mereka berdua menutup pintu kamarnya dengan kencang sampai Amanda pun kaget.
Di rumah Roshni, semua teman-teman Roshni pulang karena malam ini Dimas harus membawa Roshni ke rumah sakit. Kondisi Roshni semakin parah, Dimas khawatir dengan kondisi putri semata wayangnya. Setelah shalat magrib, Dimas duduk di samping ranjang Roshni, nampak Roshni mengenakan jilbab, dan switer merah muda sedang terbaring lemas, ia telah siap untuk pergi ke rumah sakit.
"Yah, sekarang berangkat?"
"Iya, Nak, tapi sebelum itu ... Ayah mau nanya sama kamu," ujarnya, sangat serius.
"Nanya apa, Yah? Tumben seserius ini, Yah."
"Hmm, begini, Nak ... kalau ada orang yang kamu sayang pergi, kamu bisa kuat enggak?"
Roshni terdiam sejenak.
"Maksud Ayah apa?"
Dimas menghirup napas dengan berat, "ah, sudah, Rosh, lupakan perkataan Ayah,"
"Hmm, iya, Yah. Yah, kalau ke rumah sakitnya besok lagi aja enggak apa-apa? Soalnya badan Rosh enggak enak, Yah, takutnya kalau dipaksa malah semakin sakit."
"Oh iya, enggak apa-apa, Rosh, kamu tidur aja ya,"
"Iya, Yah." Roshni mengambil selimutnya dan menutupi seluruh badannya yang dibalut jaket dengan selimut.
"Semoga lekas sembuh, have a nice dream!"
"Terimakasih, Yah ..."
Klek!
Lampu kamar dimatikan Dimas.
Di kos-kosan, suasananya sangat sepi, Amanda masih berada di luar meratapi kehidupannya, para mahasiswa-mahasiswi yang tinggal di sana beberapa membicarakan tingkah Amanda yang tak bermoral. Meski berbisik-bisik, Amanda bisa mendengarnya. Amanda malu menjadi trending topik satu kos-kosan dengan tingkah lakunya yang buruk. Amanda sekarang sudah tak punya siapa-siapa lagi, dia mencoba untuk mengetuk pintu kamarnya yang dulu, yang diisi Athalla dan Amayra.
Tok! Tok! Tok!
"Thal, May! Bukain," lirihnya, dengan rintihan tangisan.
Beberapa lama sudah ia menunggu, tapi tak ada yang membukanya.
Tok! Tok! Tok!
"Tolongin gue, gue pengen masuk!"
Tetap tak ada jawaban sama sekali.
"Argh! Tolongin!!"
Brak! Brak! Brak!
Amanda gila, dia malah memukul pintu kamar dengan sangat kencang bagaikan akan didubrak.
"Woy! Buka! Buka!" Amanda berteriak sekencang-kencangnya, entah apa lagi yang akan ia berbuat selanjutnya.
Di sisi yang lain, Tara yang sudah dikerumuni kabut masuk ke dalam rumah dengan menembus tembok secara ghaib. Di sana ia disambut oleh Dimas yang berkaca-kaca menunggu kedatangannya, Dimas memegang tangan Tara dengan begitu romantis, Tara dan Dimas masuk ke kamar Roshni. Tara menatap Dimas dengan penuh ketidakyakinan, Dimas mengangukkan kepalanya untuk menyemangati sang istri, entah apa yang akan mereka lakukan.
Tara duduk di sebelah ranjang Roshni.
"Roshni ..." telapak tangan penuh kabut asap menyentuh kening Roshni.
"Anak Ibu ..." Tara tersenyum, sebari menahan isak tangis di matanya, tetapi karena mengingat semua memori kenangan yang ada berasama anaknya, Tara tak bisa lagi membendung tangisannya.
"R-Rosh ..."
Clak! Clak!
Tetesan air mata Tara membasahi pipi sang anak.
"Nak, kamu tahu? Umur Ibu sudah berumur 100 tahun," senyum Tara disertai tangisan.
"Di saat 100 tahun, setiap jin marga kabut yang menjadi seorang ratu akan melakukan moksa dan kembali ke sang pencipta,"
"Dan besok sudah waktunya Ibu pergi, Nak ..."
"Cepat atau lambat, pasti kamu datang ke alam kabut."
"Nak, Ibu pamit ya, maaf kalau Ibu tidak bisa menjadi Ibu yang terbaik untuk kamu, Nak! Hiks-hiks-hiks, Ibu belum bisa menjadi Ibu yang selalu menjadi pangkuan anaknya di saat anaknya susah, Ibu belum bisa menghapus air mata kamu di saat kamu terkena tindakan perundungan oleh temanmu yang kurang ngajar di sekolah, Ibu juga tidak bisa mengajarimu tentang ilmu pelajaran, dan juga Ibu tak bisa atau tak pernah bisa bermain denganmu di saat dirimu masih kecil, Nak. Sebenarnya Ibu tidak mau melakukannya, Ibu tidak mau seperti ini, tetapi ini sudah takdir, Nak! Takdir membuat Ibu seperti ini,"
Tara berdiri, ia mendekati Dimas.
"Mas, j-jaga putri kecil kita, jangan sampai dia sengsara di dunia dan di akhirat!"
"Iya, Tara, aku berjanji akan menjaganya selalu selagi aku bisa!"
"Mas!" Tara benar-benar tak bisa membendung tangisannya, seketika tangisan Tara pecah di pelukan Dimas, Tara tidak menyangka setelah hari ini dia tidak akan kembali ke dunia yang fana untuk menemui putri sematawayangnya itu.