Keesokan harinya, Roshni tertidur pulas di ranjangnya, Roshni ditemani oleh Aisyah, Sulis, Levina dan Helen yang pada saat itu izin ke sekolah hanya untuk menemani Roshni. Tepat pukul 08.00 pagi, Roshni terbangun dengan kondisi yang kacau. Piama Roshni bagaikan diguyur dengan keringat dingin bagaikan es, keringat dingin terus membasahinya, hidungnya terus mengeluarkan ingus, badannya meriang, kepalanya panas, dan terjadi peradangan di tenggorakannya, ah itu sangat tidak enak sama sekali!
"Ini minum dulu aja atuh, Rosh!" Sulis memberikan teh hangat kepada Roshni.
Roshni meminumnya secara perlahan-lahan, tak beberapa lama kemudian teh hangat yang dibawakan oleh Sulis habis diminumnya dengan beberapa kali tegukan.
"Gimana, Rosh? Udah mendingan?" tanya Aisyah yang duduk di sampingnya.
"Udah, Syah. Tapi masih meriang, sama ini kaki aku kenapa ya kok sakit banget?"
Roshni melihat kakinya. Roshni kaget karena kakinya lebam!
"Aduh kayanya ini bekas kemarin, kan lo kemarin jalan tanpa alas kaki sampe ke atas gunung mardala," jawab Levina, santai.
"Iya, kamu kemarin sampe ke gunung mardala, Rosh," Sulis.
"Hah? Pantesan kemarin, aku sadar-sadar ada di sana! Aduh! Sebenernya kenapa aku bisa kaya gini? Aku bingung,"
"Kami enggak tau, Rosh, yang kami tau kamu itu kayanua kerasukan deh, makannya sampe ke gunung mardala kaya gitu," tebak Aisyah.
"Iya, kata petugas gunung juga si Roshni ini nih kerasukan, kata dia mungkin ada dukun yang pengen minta korban jiwa," pikir Helen.
"Hah? Aduh, kenapa bisa!"
"Udah, Rosh, kamu istirahat aja dulu, baru pikirin tentang kejadian semalam," kata Aisyah.
"I-Iya," Aisyah kembali merebahkan tubuhnya di ranjang.
"Tapi kalian kenapa enggak sekolah?"
"Oh, kami izin dulu hari ini, Rosh, hehe ..." Levina, cengengesan.
"Izin? Untuk aku?"
"Iya, Rosh, kami sengaja. Soalnya kami takut kalau ninggalin kamu sendirian, nanti ada apa-apa lagi. Ditambah lagi rumahmu kacau balau, Rosh," ucap Aisyah, menjelaskan segalanya kepada Roshni.
"Berantakan? Kenapa bisa, Syah?"
"Udah, Rosh, tidur dulu," Sulis, mengingatkan.
Roshni pun memejamkan matanya, ia tidur dengan begitu cepat karena sagking kantuk dan lemahnya.
"Hmm, kasihan Roshni, pasti dia capek banget," Helen.
"Iya, entah kenapa semua ini bisa terjadi. Pertama masalah Amanda, dan sekarang masalah lain muncul di kehidupannya yang enggak tau itu penyebabnya apa," Zahra, berpikir.
"Hmm, iya, Ra. Kejadian yang nimpa Roshni semalam, kayanya memang bukan karena Amanda dan gengnya, tapi karena sesuatu yang lain," Levina, berpikir kritis.
"Sesuatu yang lain?" Sulis masih bingung.
Levina mengangukkan kepalanya, "maksud gue, sesuatu yang kagak bakalan bisa dilakuin sama manusia, tapi bisa dilakuin sama makhluk lain selain manusia ..."
"Maksudnya setan gitu?" Helen.
"Iya, Len,"
"Eh, enggak-enggak, enggak mungkin. Jangan asal ngomong lo, Lev. Makhluk halus kagak ada!" Helen, mencoba berpikir dengan akal dan logikanya.
"Tapi kalo bisa aja kan?"
"Bener kata Levina, kalau dipikir-pikir manusia kan enggak bakalan bisa ngelakuin ini semua," Aisyah, mendukung ucapan Levina.
"Nah! Kalo ini akal-akalannya si Amanda, pasti kagak akan bisa si Roshni daki gunung yang dinginnya minta ampun," Levina.
"Tapi, wallahualam aja, Lev. Siapa tahu ini cuman kebetulan,"
"Aamiin ..."
Di tengah pembicaraan mereka, tiba-tiba saja terdengar suara ...
Dug!
Dug!
Dug!
Terdengar suara kaki kuda yang berjalan dengan pelan dari ruang tamu menuju ke dapur!
"Eh, kakian denger sesuatu enggak?" tanya Helen, orang pertama yang menyadarinya.
"Hah? Apaan, Len?" tanya Sulis, kebingungan.
"Ck! Itu lho! Ada suara langkah kaki!" Perkataan Helen membuat semuanya senyap, teman-teman Roshni mencoba mendengarkan suara yang dimaksud oleh Helen.
Dug!
Dug!
Dug!
"Ini kaya suara sepatu deh," pikir Levina.
"Mungking Ayahnya Roshni datang?" Aisyah.
"Gue cek aja ya," Sulis berdiri, membuka pintu kamar, untuk memeriksa keadaan di luar.
Sulis keluar, dan melihat ada jejak kaki kuda dari ruang tamu sampai ke dapur.
"Lho? Ini bukannya jejak kaki kuda?"
Karena rasa penasaran Sulis perlahan-lahan masuk ke dapur untuk melihat ada apa sebenarnya. Sulis sampai di sana, ia lihat ada seorang perempuan di balik tirai kamar mandi yang pintunya terbuka.
"Maaf, siapa ya?"
"Gergh!" terdengar suara endusan kuda yang sangat mengerikan.
Sulis mendekatinya, dan langsung membuka tirai itu. Namun tak ada siapapun di sana.
"Hah? Enggak ada orang?" Sulis, heran.
"Kau mencariku?" Terdengar suara seorang Nenek yang mengerikan dari belakang Sulis, seketika Sulis menengok ke belakang, melihat siapakah itu.
"Astaghfirullahaladzim!"
Sulis melihat sesosok perempuan yang memakai kain serba hitam, memiliki satu tanduk di kepalanya, mempunyai wajah yang dipenuhi dengan borok, dan kakinya merupakan kaki kuda! Dia Saloni!
"Hahahahaha," tawanya.
Sulis langsung pingsan di tempat karena terlalu shock melihatnya.
Meninggalkan Sulis yang ketakutan dengan Saloni, kita beranjak dahulu ke kos-kosan yang ditinggali Amanda, beserta kawan-kawannya. Masih dalam pakaian seragam sekolah putih abu-abu terlihat mereka sangat kumal. Mereka bertiga duduk sebari bermain ponsel di kamarnya, entah apa yang mereka lakukan di sana, seharusnya mereka sekolah.
"Hm, Da! Udahlah kita akuin aja kesalahan kita, kita minta maaf ke Roshni sama para warga sekolah. Kalo terus masa depan kita mau gimana coba?" Athalla berpikir logis dibandingkan dengan anggota geng kalajengking merah lainnya.
"Dih, tumben lo mikirin masa depan!" Amanda, melirik Athalla.
"Yaelah, masa depan juga penting!"
"Huh, kalo lo mau minta maaf ke perempun cupu itu ya silahkan! Gue kagak mau!"
"Da! Kata-kata Athalla bener, mending kita minta maaf aja." Cakap Amayra, yang tak mau membuat masalah ini semakin panjang dan runyam.
"Ogah!"
"Lah! Udah, May, kita mending cari aman aja, daripada ikut pola pikir rendah kaya gini!" Athalla menarik tangan Amayra, mereka berdua keluar dari kamar, akan tetapi ...
"Amanda, pulang, Nak!" Seorang pria paruh baya, menggunakan baju yang sangat kotor dan kumal berdiri di depan kos-kosan.
"Siapa tuh?" Amayra, berbisik.
"Kayanya dia supirnya Amanda deh,"
"Samperin yuk!"
"Ayo!"
"Eh, Eneng-Eneng, temannya Amanda bukan?"
"I-Iya, Pak,," Jawab Athalla.
"Amandanya ada? Mau saya ajak pulang."
"Oh, dia ada di kamar, Pak, sebentar ya." Amayra beranjak dari sana, dan mendekati kamarnya.
"Da, ini supir lo datang," teriak Amayra.
"Hah? Supir? Bukan, Neng, bukan!" kata Bapak itu, sopan, tetapi dia sangat tak terima.
"Lho? Jadi Bapak ini siapa ya?" tanya Athalla, dengan sopan.
"Saya Ayahnya Amanda," ujarnya.
"Hah?" Athalla dan Amayra kaget setengah mati, tak sangka kalau Ayah Amanda berpenampilan seperti ini.
Amyra mendekati Bapak yang mengaku jikalau Amanda adalah anaknya
"S-Serius, Pak? B-Bukannya Ayahnya Amanda itu boss besar? Dan Bapak kan supirnya??" Amayra, tercengang.
"Bukan, Nak, itu semua akal-akalan dia aja,"
Amayra dan Athalla saling bertatapan dengan melotot, "what?" mereka berdua shock berat mendengarnya.