Malam Purnacandra

1258 Kata
Ini sangat aneh, seharusnya bulan purnama tidak akan muncul jika hujan deras seperti ini, akan tetapi apa yang sekarang terjadi malah sebaliknya. Sekarang bulan purnama bersinar dengan terang di atas gunung mardala, di sana ada Roshni yang berdiri di depan bulan purnama dengan tatapan kosong. Aisyah, Sulis, Levina, dan Helen shock berat melihatnya, apalagi Amanda, Athalla dan Amayra, mereka bertiga berpikir keras apakah ini ulah akibat dari bullying yang mereka buat kepada Roshni? Seketika mereka semua ditemani oleh penjaga dan pendaki gunung mardala berlari menaiki gunung mardala dengan susah payah. Sampai keringat dan hujan membasahi mereka semua. Roshni berdiri di sana menatap lava pijar yang panas menyala di bawah, sebenarnya apa yang terjadi kepada Roshni? Mengapa ia seperti ini? Perlahan-lahan mata Roshni berubah menjadi putih. Hidung, kuping, dan mulutnya mengeluarkan kabut asap kembali seperti yang terjadi di sekolah hari jum'at yang lalu. Roshni tersenyum meringis, seperti telah dirasuki oleh sesuatu yang sangat jahat. Tiba-tiba gigi Roshni bertaring bagaikan seorang vampire. "Saatnya aku mengambil kekuatannya!" ujar dirinya sendiri, dengan suara yang mengerikan. Ternyata benar! Kalau Roshni sedang dirasuki oleh sesuatu! Dug! Roshni yang kerasukan menjatuhkan dirinya sendiri ke lahar lava yang sangat panas! "Roshni!" suara teriakan Sulis membuat Roshni sedikit sadar, dia langsung berpegangan pada salah satu batu yang ada di sana, membuatnya harus rela bergelantungan di atas lava berapi yang sedang menggebu-gebu. "Aaaa!" refleks sangking paniknya Roshni langsung berteriak ketakutan. "K-Kenapa aku bisa ada di sini?" Roshni melirik ke kanan dan ke kiri, melihat kondisi di sekitar. "L-Lho ini kan gunung berapi?" Roshni yang sudah sadar sepenuhnya mulai panik. "Tolong! Tolong!" Roshni berteriak sekencang-kencangnya karena ketakutan, ia tak tahu harus bagaimana, mungkin sebentar lagi ia akan menjadi abu karena terjebur ke lava panas gunung berapi. Keringat membasahi tubuh dan kepala Roshni, tangan Roshni yang berpegangan pada batu pun berkeringan, mungkin sebentar lagi ia akan terjatuh ke bawah. "Ya Allah, kalau ini ajal Rosh, Rosh ikhlas," ujarnya. Roshni menutup matanya, dan tangannya lepas dari batu karena tak kuat menggenggam batu itu lagi, akan tetapi ... "Roshni!" Dengan susah payah, Aisyah, Sulis, Levina dan Helen memegang tangan Roshni dari atas gunung berapi mardala yang diterangi bulan purnacandra atau yang kerap dipanggil bulan purnama. Saat mereka berempat datang, Roshni kembali tak sadarkan diri, tatapannya kosong lagi. "Bawa Roshni ke atas, cepat!" ujar petugas gunung mardala yang melihat kejadian itu. "Pak, susah! Roshni berat sekali, Pak!" jawab Helen, yang sedang memegang tangan Roshni. "Astaga!" "Roshni! Sadar, Rosh! Sadar!" teriak Aisyah yang terus berusaha memegang tangan Roshni. "Iya, Rosh! Sadar, Rosh! Sadar! Nyebut!" jerit Sulis, nampaknya ia sudah tak kuat lagi memegang tangan Roshni karena pergelangan Roshni sudah mengeluarkan keringat dengan sangat banyak karena panasnya lava gunung mardala. "Nak, tarik teman kalian! Jangan sampai dia terjebur!" panik penjaga gunung mardala, ia sangat kebingungan karena situasinya yang seperti ini. Mereka berempat berusaha menarik Roshni, akan tetapi karena Levina tak sengaja melepaskan tangan Roshni karena tangan Roshni terlalu berkeringat, akhirnya Roshni terjatuh ke dalam lava api gunung mardala. "Roshni!!" Akan tetapi sebelum dirinya jatuh, sebuah kabut asap yang sangat besar membentuk sebuah tameng penutup lava gunung mardala sehingga Roshni tidak terjatuh, malah kabut asap itu mengangkat Roshni ke atas gunung mardala, ini sangat ajaib! Semua orang yang ada di sana pun tercengang melihat keajaiban yang sangat di luar akal dan logika tersebut, tetapi syukurnya Roshni bisa selanat dari mautnya. Dengan cepat para pendaki gunung mardala membantu mengangkat Roshni dengan tandu kesehatan yang mereka bawa dari rumah. Mereka semua kembali turun ke bawah, karena sangking paniknya mereka pula tidak sempat berfoto. Sementara itu, di istana alam kabut seorang manusia bergender pria, menggunakan jas dan kemeja berada di hadapan Ratu Kabut yang masih misterius. Tak disangka manusia itu adalah Dimas, Ayah kandung dari Roshni! Aneh! Mengapa dirinya bisa ada di sini? "Terimakasih, Istriku, karena Roshni bisa terselamatkan hari ini," Ujarnya. Astaga! Apakah Dimas suami dari Ratu Kabut? Tapi bagaimana bisa? Bukankah Dimas itu adalah istri Tara? "Iya, Mas." Tap! Tap! Tap! Sepatu kaca sang ratu terdengar, ia bangkit dari singgasananya dan mendekati Dimas. Ratu Kabut mengenggam tangan Dimas, mereka berdua berjalan menuju suatu tempat. Mereka menyusuri lorong-lorong kerajaan sampai tangga yang dipenuhi kabut asap, akhirnya tak beberapa lama kemudian mereka sampai di tempat yang mereka tuju. Tempat itu adalah atap istana kabut yang dipenuhi dengan kubah-kubah istana kabut yang mewah, tentunya berwarna putih bermotif batik. Dari sana bulan purnacandra terlihat dan menerangi istana kabut, pula sang purnacandra menerangi Ratu Kabut, seketika semua asap kabut yang menyelimutinya sampai habis musnah seketika. Wush! Sekarang Ratu Kabut terlihat sempurna bagaikan ratu pada umumnya, dan wajahnya sudah terlihat! Terlihat wajah ratu kabut sangat cantik jelita, kulitnya putih bagaikan awan, senyumnya manis semanis madu, matanya berwarna biru dengan celak hitam, rambutnya berubah menjadi berwarna biru muda mengkilap, dan memakai mahkota ratu. Astaga, dia adalah Tara! Bagaimana bisa Tara ialah seorang Ratu yang memimpin istana kabut? "Tara!" "Iya, Mas?" Tara merebahkan kepalanya di pundak Dimas. Mereka berdua lalu menatap purnacandra yang bersinar terang di cakrawala malam. "Malam ini mungkin malam penutup kisah cinta terlarang antara manusia dan jin. Di dalam malam ini aku ingin berbagi segalanya denganmu, meskipun untuk terakhir kalinya," cakap Dimas, dengan nada halus nan lembut. "Iya, Mas, kita habiskan satu malam ini dinaungan terangnya bulan purnama. Walaupun besok kita sudah tidak bisa berjumpa lagi, tak apa, mungkin setelah ajal menjemputmu ... kita bisa bersatu lagi," Tara, pasrah. "Tara, aku benci melihat tanggal di kalender, setiapkali aku melihatnya ... aku selalu teringat dengan tanggal kematianmu yang akan datang beberapa hari lagi ..." "Ah, sudah, Mas. Setiap yang bernyawa akan mati," "Namun, aku tak rela untuk kehilangan dirimu, Tara," "Hmm, ini sudah takdir, Mas. Aku juga tak rela, tetapi mau bagaimana lagi? Catatanku di lauhul mahfudz hanya bisa bertahan hingga 100 tahun, dan itupula batas usia seorang ratu kabut. Nanti ... jangan kau melawan takdir demi membuat diriku hidup kembali," "Iya, Tara. Aku tak akan melakukannya, karena aku tahu di surga kita akan bersatu ..." "Aamiin ..." "Tara?" "Iya, Mas?" "Anak kita, Roshni ... sepertinya telah memerlukan kekuatannya, karena percaya atau tidak Roshni telah diincar oleh jin jahat yang ingin merampas kekuatan di dalam dirinya yang dulu kau hilangkan. Hal itu terbukti dengan perbuatan Roshni yang hilang kesadaran, hampir dia menjeburkan dirinya sendiri ke gunung ... syukurnya karena bulan purnacandra, kekuatanmu bisa kembali dan Roshni bisa selamat dari ajalnya," "Tenang saja, beberapa hari lagi Roshni akan mendapatkan kekuatannya, Mas. Di saat diriku sudah tiada, Roshni akan menguasai kekuatannya dan juga kekuatanku," "Tara, setelah dia diangkat menjadi ratu, apakah dia akan sekolah lagi di negeri manusia?" "Itu tergantung dirinya, Mas. Mahkota yang aku berikan akan membuat pikirannya lebih bijaksana dari sebelumnya ..." "Mas, aku takut jika Roshni malah hilang arah karena Bhaisasuri, dan nanti alam kabut malah akan hancur sehancur-hancurnya seperti 700 tahun yang lalu ..." "Tenang, aku ada bersamanya. Aku akan berusaha membimbingnya terus ke jalan kebenaran ..." "Janji, Mas?" "Iya, Tara," Dag! Di bawah tanah istana, batu nisan Nenek Ajeng terpental dengan sendirinya, dan segitiga api samar-samar sudah muncul di atas pemakamannya. "Hahahahaha! Hahahaha! Roshni memang akan kehilangan arah, dan itu semua karenaku! Ajeng, seorang siluman Bhaisasuri! Hahahaha! Sebentar lagi aku akan keluar dari pemakaman ini, dan setelah itu siap-siap alam kabut jin baik akan berubah menjadi alam kegelapan jin jahat! Hahahaha! Kondisi akan berbalik, kekuasaan di istana kabut akan sepenuhnya menjadi milikku! Sang Ibu suri ratu kabut, Ratu Bhaisasuri! Tunggu saja tanggal mainnya, wahai generasi Melinda!" tawa Nenek Ajeng di dalam pemakamannya sendiri. Bukan hanya sekedar omongan belaka, seorang Bhaisasuri akan menjadikan omongannya sendiri nyata. Dia akan datang ke istana kabut lagi, untuk membalaskan dendam atas segala-galanya kepada keturunan Melinda.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN