"Apa lo bilang? Si Amanda anak tukang bakso?" Athalla, tak sangka.
"Eh, dasar! Lo boleh hina gue, tapi lo jangan hina orang tua gue ya, apalagi lo nyebut orang tua gue tukang bakso! Orang tua gue itu boss besar di perusahaan!" hardik Amanda, kepada Helen.
"Huh, sempet kaget! Gue kira beneran," Amayra, lega.
"Sini lo, Helen!" Amanda menarik tangan Helen, dan bergegas ke halaman belakang kos-kosan yang ditutupi oleh langit-langit kayu. Rambut Amanda sampai dibasahi air hujan.
Di sana, Amanda marah besar kepada Helen, karena bisa-bisanya Helen mengetahui rahasia terbesarnya yang sudah ia tutup dengan rapat-rapat selama ini.
"Haha, pasti lo kaget kan kenapa gue bisa tahu semua rahasia lo, Amanda?" Helen, tersenyum licik.
"Darimana lo tahu hah? Jawab!"
"Gue tahu semua ini, karena tadi pagi Ayah lo datang ke sekolah, dia nangis sama ngejerit-jerit di ruangan BK tentang kebohongan lo!"
"Hah? Dasar!" batin Amanda, sangat kesal.
"J-Jadi satu sekolah udah tahu tentang gue??"
"Iya, hahaha, itung-itung ini karma karena perbuatan lo yang semena-mena ke Roshni!"
"Awas lo ya, Helen!" Amanda ingin mencekik Helen, namun Helen menghindar dan malah mengancam balik Amanda.
"Amanda, kalau lo kagak ngasih tahu keberadaan Roshni, gue bakalan bongkar kebohongan besar lo ke Athalla sama Amyra! Mau lo hah?" ancam Helen, berani.
Amanda seketika bergetar, ia tidak mau rahasianya terbongkar. Jika rahasia besarnya ini terbongkar di hadapan mereka berdua, maka otomatis dirinya akan dimusuhi, sekaligus tidak menjadi ketua geng kalajengking merah lagi.
"Lo mau kagak ngasih tahu keberadaan Roshni hah?"
Amanda terdiam, ia berpikir dengan tajam.
"Oh, yaudah, gue bakalan bongkar kebohongan lo!"
"Eh, jangan!"
"Gue sebenernya enggak nyulik Roshni, t-tapi gue tahu sesuatu tentang keberadaan Roshni!"
"Tadi siang, gue, Athalla sama Amayra di angkot, dan kami bertiga ngeliat Roshni yang masih pake baju tidur lagi jalan kaki di tengah jalan kaya orang gila," ujarnya, kali ini Amanda serius kepada Helen, "dia kayanya kehilangan kesadarannya, gue liat dia kagak pake alas kaki, padahal jelas-jelas aspal di jalan raya panasnya kaya apa. Habis itu, gue kagak tahu lagi dia kemana," jelas Amanda, jujur.
Helen kaget, sekaligus tidak percaya kepada Amanda, apalagi Amanda sering berbohong kepadanya.
"Jangan-jangan lo bohong ya, lo ini kan pas SMP sering bohongin gue!" bentak Helen.
"Hadeh, itu kan dulu, sekarang gue bener-bener serius,"
"Hmm, lo ada saksi kagak?"
"Lah, mata gue saksinya,"
"Yang lain! Bisa aja kan lo bohong!"
Amanda berpikir lagi sejenak, tak beberapa lama kemudian dirinya mendapat suatu ide.
"Ada! Petugas humas di deket lalu lintas jalan anggrek!"
"Oh, yaudah ayo lo sama yang lain tunjukin jalannya!"
"Lah, ini hujan! Gimana kita mau ke sana?" Amanda.
"Pake jas hujan kan bisa, ayo jangan banyak alasan!"
"T-Tapi ..."
"Ayo! Atau gue bongkar nih kebohongan lo!" Helen menarik Amanda ke depan kos-kosan kembali.
Sesampainya di sana, Amanda menarik tangan Athalla dan Amayra ke kamar kos-kosannya, sepertinya Amanda akan menjelaskan semuanya kepada mereka. Sementara itu, Helen juga menceritakan segalanya kepada sahabat-sahabatnya yang masih memakai jas hujan di depan kos-kosan.
"Hah? Maksudnya si Roshni linglung gitu?" Levina, kaget.
"Menurut dia sih gitu,"
"Astaghfirullah, kalau memang itu bener, apa penyebabnya coba, apa dia trauma karena bullying yang dilakuin Amanda, sama gengnya itu?" Aisyah, menduga-duga.
"Menurut gue, orang secerdas Roshni kagak mungkin terkecoh sama tindakan bullying kaya gini. Karena rata-rata orang yang cerdas itu otaknya selalu aktif, kagak mungkin kan tiba-tiba hilang kendali kaya gitu?" Helen.
"Hmm, yang perlu kalian tahu, si Roshni itu diam-diam nangis di rumah setiap pulang sekolah gara gara bullying yang dilakuin mereka bertiga," Aisyah.
"What? Serius lo, Syah?"
"Iya, Len. Aku bisa tahu karena waktu aku datang ke rumahnya sore-sore untuk ngembaliin penggarisnya yang enggak sengaja aku bawa, pas ke sana malah aku lihat Roshni nangis dari celah jendela yang ditutupin gorden rapat-rapat sama dia, terus aku pulang lagi karena enggak enak. Sebenernya aku enggak mau ngasih tahu ini, tapi mau gimana lagi,"
"Aduh, kasian gue sama dia," Levina, sedih.
Di dalam kos-kosan geng kalajengking merah, terlihat Athalla dan Amayra yang marah-marah kepada Amanda karena tangannya sudah ditarik terlalu kencang
"Heh, Manda! Ada apaan sih narik-narik tangan kita berdua?" Athalla, melotot.
"Maaf-maaf! Eh, sekarang kita harus cari Roshni!"
"Cari Roshni? Ngapain yaelah, hujan-hujan kaya gini juga," keluh Amayra.
"Huh, daripada kita dilaporin ke pak Gohan, mau?"
"Jadi si Helen ngancam lo? Lo kok mau sih! Biasanya kan di kondisi tersulitpun, lo kagak pernah takut kaya gini," Athalla, merasa aneh dengan Amanda.
"Jangan-jangan ada yang lo rahasiain ya dari kita?" tambah Athalla.
Dari pelipis kepala Amanda keluar keringat dingin, "ka-kagak kok! Gue cuman takut ketemu Pak Gohan lagi, karena kan dia itu galaknya minta ampun. Dan si Roshni ... dia jangan-jangan sttres karena kelakuan kita ke dia, kalo gue nolak dan malah balik ngancem ... bisa-bisa habis dah!" jelas Amanda, matanya melirik kesana-kemari.
"Bener juga kata lo, Da. Hmm, sorry-sorry tadi gue kebawa emosi ..." Athalla.
"Huh!" Amayra, kepada Athalla.
Meninggalkan alam manusia, kita beralih ke lorong bawah tanah istana kabut, di sana Saloni dengan wujud jahatnya datang ke pemakaman sang Nenek lagi. Dirinya ingin menyerahkan batu permata cheentee daanav kepada Ajeng di pemakamannya. Seperti biasa, batu permata itu menembus pemakaman Nenek Ajeng lagi.
"Terimakasih, Nak, kau benar-benar Cucuku yang terbaik. 2 batu permata sudah kau berikan, sekarang tinggal 5 batu permata lagi. Cucuku, kau harus mendapatkan batu permata kaal dan bulan di bukti kegelapan, lalu batu permata naga dan lampir di goa naga sakti di lereng gunung berapi, kemudian terakhir kau harus mendapatkan batu permata rubi di kerang hitam yang entah di mana keberadaannya, mungkin jika kau ingin menemukannya kau harus meminta bantuan lagi kepada anak ratu kabut yang sakti mandraguna itu."
"Lagi? Nek, dia terlalu muda, sekarang saja dia sudah seperti kehilangan akal, dia naik gunung mardala sendirian dengan tatapan yang kosong. Ini semua pasti efek kekuatanku,"
"Itu bukan karena kekuatanmu, tetapi itu karena kekuatannya sendiri. Dia itu calon ratu kabut, dia ke gunung mardala karena pikirannya yang sudah terikat oleh alam kabut. Cepat atau lambat dirinya akan sadar, entah sebelum masuk ke dalam lava ataupun sesudah. Diriku hanya menebak saja. Tetapi, kau jangan lupa untuk membawa 5 batu permata itu, halalkan segala cara untuk mendapatkannya,"
"Sebentar lagi bulan puasa, kekuatan kita akan melemah 50 kali lipat dibandingkan sebelumnya, maka dari itu kau harus mendapatkannya secepat-cepatnya!"
"Baiklah, Nek ..."
Aisyah, Amanda dan kawan-kawannya datang ke posko humas. Di sana mereka semua berjumpa dengan petugas humas lalu lintas. Syukurnya petugas humas itu masih berada di poskonya karena ia berada di sana 24 jam lamanya. Petugas humas tersebut mengatakan bahwa remaja dengan piama yang dimaksudkan untuk Roshni, berjalan di tengah jalan, ia lihat Roshni berjalan menuju ke rute gunung mardala.
Cepat-cepat, mereka semua pergi ke rute yang dimaksudkan oleh humas tadi, karena tak ada kendaraan apapun terpaksa mereka harus berjalan kaki. Motor Helen malah ia tinggal di warung seblak di alun-alun Majalengka.
Tepat jam sembilan malam, mereka sampai di posko pertama gunung mardala, tempat Roshni mendorong salah satu penjaga gunung mardala dengan kekuatan kabutnya. Di sana penjaga itu nampak sedang meminum kopi di warung istrinya yang dipenuhi para anak muda yang berpakaian layaknya pendaki gunung, mungkin para anak muda itu baru sampai di sana. Masih dalam menggunakan jas hujan, mereka bertanya tentang Roshni kepada penjaga gunung mardala di sana.
"Oh, dia teman kalian? Tadi dia mendorong saya dengan menggunakan kekuatannya, saya sampai tersungkur, lalu dia pergi dengan sangat cepat disertai dengan kabut asap. Mungkin teman kalian itu dirasuki oleh kekuatan jahat, atau bisa juga kalau teman kalian itu bukan manusia biasa,"
"S-Sekarang dia pergi kemana, Pak? Apa Bapak tahu?" tanya Sulis.
"Mungkin naik ke gunung mardala," duganya.
"Jika kalian ingin mencarinya, saya bisa mengantarkan kalian bersama dengan para pendaki ini,"
"Kami mau, Pak!" Aisyah, tak sabar.
Teman-teman Roshni pun mau tak mau harus menaiki gunung mardala demi mencari Roshni yang diduga sedang berada di gunung mardala, meskipun hujan semakin deras, petir semakin menggelegar, dan angin terus menusuk ke tulang, mereka tetap rela untuk keselamatan Roshni.
Jress! Jress!
Tepat di tengah malam, mereka semua berada di hutan posko 5, dari posko 5 biasanya gunung mulainterlihat dengan samar-samar. Saat itu, langit begitu terang meskipun sedang hujan, entah mengapa sangat di luar logika yang logis.
"Roshni! Roshni! Di mana kamu!" jerit Aisyah yang suaranya menggema di hutan gunung mardala.
"Roshni! Di mana lo, woy!" teriak Helen, dengan cukup keras.
"Hmm, Roshni kayanya enggak ada. Yaudahlah kita ikhlasin aja," tutur Amanda, mengantuk.
Berbeda dengan Aisyah, dan kawan-kawannya, Amanda, Athalla dan Amayra malah mengantuk serta tidak khawatir dengan kondisi Roshni sedikitpun.
"Dasar, omongan lo dijaga ya, Amanda!" bentak Sulis.
"Lagian, udah tengah malam dia kagak ketemu! Biar nanti petugas aja sendirian yang nyari Roshni," Amayra.
"Kalau Roshni keburu enggak selamat gimana? Apa lo mau tanggung jawab?" Helen, tak terima dengan omongan Amayra.
Amanda, Athalla dan Amayra memalingkan wajahnya, mereka malah bersiul sebari memalingkan matanya, seperti tak menganggap omongan Helen sedikitpun.
Levina yang sudah mengantuk dan tak kuat lagi, tiba-tiba matanya terfokus pada satu titik di atas pusat gunung mardala. Levina memperhatikannya dengan lebih detail, lalu tiba-tiba ia melihat suatu hal yang sangat mengejutkan!
"Eh, liat itu!" Levina menunjuk ke arah pusat gunung mardala yang mengeluarkan asap panas.
Di sana ada Roshni yang berdiri tepat di depan bulan purnama, dan ia sepertinya akan menjeburkan dirinya ke dalam gunung api tersebut.
"Roshni!!"