Hari sudah semakin gelap, titik terang dari ditemukannya Roshni semakin redup. Roshni tak kunjung ditemukan. Terpaksa mereka pulang ke rumahnya masing-masing. Mungkin habis sholat isya' Aisyah dah Sulis akan kembali mencari Roshni, semoga saja ada petunjuk yang mereka berdua dapatkan.
Athalla, Amanda dan Amayra ternyata menginap di sebuah kos-kosan yang berada di alun-alun Majalengka, sedikit dekat dengan SMAN 1 Nusa. Di kos-kosan, mereka semakin royal karena Athalla membeli banyak sekali makanan dan beberapa kebutuhan dari mini market yang sangat banyak untuk beberapa minggu ke depan. Amanda terlihat menghabiskan mie rebus pedas korea yang sangat mahal di mini market. Athalla dan Amayra sangat curiga kepada Amanda karena Amanda tidak memberi satu peser pun uang kepada mereka untuk keperluan belanja dengan alasan kartu ATM nya diblokir, dan uangnya tertinggal di tas sekolah. Tetapi mereka biarkan saja, mereka tak mau karena hal sepele seperti ini, gengnya bubar begitu saja.
Setelah isya', Amayra yang masih mengenakan seragam sekolah itu mendadak lapar dan ingin membeli bakso di alun-alun Majalengka.
"Lah, jangan, May! Kalau ada orang yang ngeliat kita gimana? Apalagi kalau orang itu warga sekolah SMAN 1 Nusa, bisa kacau kita!" tegur Amanda.
"T-Tapi gue pengen bakso, Da, gue laper,"
"Laper? Kan itu mie sama snack banyak,"
"Biarin aja, Da. Lagian gue bakalan nemenin dia kok ..." Athalla.
"Lah, kalau kita ketauan gimana?"
"Itu urusan gampang, gue punya banyak akal. Ini kan hujan, jadi mana ada siswa-siswi yang berkeliaran, gue juga tadi sempet beli mantel juga di mini market,"
"Oh, yaudah,"
Amayra dan Athalla diam-diam pergi ke alun-alun kota Majalengka. Karena hujan deras, mereka berdua harus mengenakan mantel agar tidak kehujanan, sehingga mereka tak akan dikenali oleh siapapun.
Aisyah dan Sulis ada di depan kobong santriwati, mereka berdua kebingungan karena tak bisa keluar sebab hujan yang sangat deras.
"Duh, gimana ini, Syah? Hujan makin deras, enggak mungkin kita hujan-hujanan!" ujar Sulis, mengigil kedinginan.
"Pake mantel sama payung mau enggak, Lis?"
"Hmm, aku mau deh,"
Mereka berdua pergi dari pesantren menggunakan mantel plastik dan payung, dari pesantren mereka lurus ke arah alun-alun. Entah mengapa, langkah kaki mereka ingin menuju ke alun-alun, mungkin saja ini sebuah petunjuk.
Di rumah Roshni, Ayah Roshni yang bernama Dimas pulang ke rumah. Seperti biasa ia pulang malam, tetapi jarang sekali ia pulang secepat ini. Ia datang menggunakan mobil yang mewah. Dirinya heran, mengapa rumahnya gelap dan lampunya masih mati. Dimas yang masih memakai kemeja kotak-kotak itu masuk ke dalam rumahnya karena khawatir sekaligus ingin memeriksa keadaan Roshni, anaknya.
Ceklek!
Dimas membuka pintu, ia seketika terkejut melihat rumahnya berantakan seperti sudah terjadi gempa, karena barang-barangnya hancur, tetapi logikanya ia berpikir ada maling yang masuk ke rumahnya.
"Astaga!"
Dimas langsung memanggil-manggil dan mencari Roshni karena takut Roshni hilang dibawa penculik atau maling sesuai dugaan hatinya. Roshni tidak ada di rumah, Roshni hilang! Terlihat bantalnya yang ada di ranjang, sebuah bekas air mata membasahi bantal Roshni.
"Ada dua k-kemungkinan!" tebaknya, lagi.
Dimas panik, dia pun kembali ke mobilnya dan mencari Roshni di Kota Majalengka.
Di sisi yang lain, Aisyah dan Sulis sampai di alun-alun kota Majalengka. Tak sengaja, di sana mereka bertemu dengan Helen dan Levina yang sedang membeli cilok telur, atau yang bisa disebut cilor oleh masyarakat setempat. Mereka membeli cilor di sebuah warung yang bernama warung seblak, warung ini menyediakan berbagai macam aneka makanan yang digemari kaum milenial, dimulai dari cilor, lumpia basah, seblak, makanan jepang, korea, gorengan kekinian, risoles, sampai makaroni keju.
Terlihat mereka berdua sedang mengantri di dekat gerobaknya, sambil menggunakan jas hujan atau mantel juga seperti Aisyah dan Sulis.
"Eh, kalian di sini?" Aisyah.
"Lho, Aisyah? Sulis?"
Diam-diam, Helen dan Levina juga mencari Roshni di malam hari, sekarang mereka berdua sedang membeli cilor terlebih dahulu sebelum mencari Roshni, agar perut mereka tidak lapar.
"Kita cari aja Roshni sampai ke perbatasan kota Majalengka, siapa tahu Roshni ada," Aisyah.
"Gue takut kalau dia disekap sama geng kalajengking merah," Levina.
"Iya, gue juga, takutnya mereka buat hal-hal yang di luar batas, karena kalian tau sendirikan mereka kejamnya kaya apa," Sulis, cemas.
"Iya, udah kaya geng-geng di sinetron," kata Helen.
"Nah, bener banget itu!" Sulis.
"Bang, bakso acinya satu! Dibungkus!"
Dari sebelah tempat mereka membeli cilor, mereka mendengar suara seorang remaja perempuan yang tidak asing suaranya bagi mereka. Karena penasaran, Levina pergi ke warung bakso yang bersebelahan dengan warung seblak. Levina mengintip diam-diam, dan ternyata ia melihat Amayra dan Athalla yang masih mengenakan seragam sekolah sedang membeli bakso di sana!
"Hah? Athalla? Amayra?"
Karena tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini, Levina berbisik-bisik kepada Aisyah, Sulis dan Helen tentang keberadaan mereka, lalu mereka sepakat untuk diam-diam mengikuti arah mereka pulang.
Beberapa menit berlalu, Amayra dan Athalla membawa bakso yang super pedas yang sudah mereka beli untuk disantap di rumah. Amayra dan Athalla pergi dengan perasaan tenang dan lega, di sisi lain Aisyah, Sulis, Helen dan Levina mengikuti Amayra serta Athalla ke tujuannya.
Amayra berhenti sejenak, ia merasakan ada segerombolan orang yang mengikutinya sedari tadi.
"Ah, itu mungkin lo terlalu parno, May!"
"Enggak, Thal! Gue dari tadi ngerasa gitu kok!"
Athalla dan Amayra menoleh ke belakang, tetapi tidak ada orang sama sekali di sana.
"Tuh, kagak ada orang kan!"
"T-Tapi ..."
"Ah, udahlah! Yuk kita buruan ke kos-kossan, sebelum omongan lo nyata!" ajak Athalla, sedikit emosi.
Amayra pun terpaksa tidak menganggap kecurigaannya itu benar. Mereka berdua melanjutkan perjalanannya. Aisyah, Sulis, Levina dan Helen keluar dari tempat persembunyiannya, mereka berempat kembali mengikuti Amayra dan Athalla.
Sementara itu, Dimas berkeliling di kota Majalengka, tetapi Dimas tidak menemukan Roshni. Dimas akhirnya berhenti di pinggir jalan, tak sengaja ia malah tertidur di mobilnya karena kelelahan.
Tap! Tap! Tap!
Sayup-sayup, Dimas mendengar suara langkah kaki segerombolan orang di telinganya. Mungkin mereka sedang melewati mobilnya. Karena takut kalau itu adalah oknum-oknum penjahat, Dimas pun membuka matanya. Samar-samar, Dimas melihat tiga orang remaja perempuan berpakaian seragam putih abu-abu, mengendap-ngendap sebari membawa satu orang remaja perempuan yang pingsan. Wajah mereka tertutupi rambut mereka sendiri, tak sengaja karena cahaya mobil Dimas, remaja perempuan yang pingsan itu terlihat oleh mata kepala Dimas sendiri.
"I-Itu kan!"
Alangkah shocknya Dimas melihat putrinya sendiri yaitu Roshni dibawa oleh mereka bertiga.
"Roshni!" Dimas berteriak, seraya membuka pintu mobilnya, akan tetapi secara tiba-tiba pintu mobil Dimas tidak bisa dibuka padahal ia lihat di depannya sendiri kalau mobilnya tidak terkunci, ini sangat aneh!
"Lho! Kenapa tidak bisa dibuka!"
Dug! Dug! Dug!
Saking paniknya, Dimas memukul-mukul pintu mobilnya sendiri.
Sementara itu ketiga orang remaja perempuan tadi berlari, lalu menghempaskan Roshni ke dalam sungai.
Byur!
"Roshni!!" jerit Dimas.
"Hah!" Dimas terbangun dari tidurnya.
"Astaga, ternyata tadi hanya mimpi," ujarnya, lega dengan napas yang tersenggal-senggal.
"T-Tapi, apa mungkin ini pertanda kalau mimpi itu akan terjadi?"
"A-Aku harus menghubungi Tara!"
Amayra dan Athalla berhenti di sebuh kos-kosan yang tak jauh dari sana, Amanda terlihat masih memakai seragam keluar dari kos-kosan. Ini waktu yang tepat untuk menangkap basah mereka bertiga. Aisyah, Sulis, Helen dan Levina mengejutkan mereka.
"DOOR!" teriak mereka, dengan gelak tawa.
"Hah?" Amayra, Athalla dan Amanda terkejut.
"Hahaha, sekarang kalian bertiga tertangkap basah!" ledek Levina.
"Duh, May, Thal! Gue kan udah bilang, jangan keluar, jadinya gini kan!" Marah Amanda kepada Athalla dan Amayra, ia melotot.
"Maaf, Da! Gue kagak tahu!" Athalla
"Argh, enggak ada kata maaf! Terlambat lo!" sentak Amanda, tegas.
"Ada urusan apa hah kalian kesini?" tanya Amanda, mendekati mereka berempat.
"Kita mau bawa Roshni!" jawab Levina, lebih lantang dari sebelumnya.
"Hah? Roshni?" kening Amanda seketika mengkerut saat mendengarnya.
"Iya! Kalian yang nyulik Roshni kan?" Helen.
"Heh, kami kagak nyulik dia woy!" bantah Athalla.
"Halah, jangan ngelak lo! Kami tau kok, kalian yang udah acak-acak rumah Roshni sampe hancur barang-barangnya, habis itu lo nyulik Roshni!" jelas Sulis.
"Lho? Enggak! Kami enggak nyulik dia!" Amayra, kebingungan.
"Pasti kalian bertiga nyembunyiin Roshni di dalam kos-kosan, ngaku lo!" Sulis, lagi.
"Hadeh, kagak! Kalo kalian kagak percaya cek aja sendiri!" suruh Amanda.
Mereka berempat mencari Roshni di dalam kos-kosan, namun mereka berempat tidak menemukan Roshni di mana-mana.
"Kagak ada kan!" Amanda, murka.
"Memang! Karena kalian nyembunyiin Roshni di tempat yang lain!" tuduh Levina, lagi.
"Hih! Jangan fitnah lo ya! Kami sama sekali kagak nyulik dia!" Athalla.
"Amanda, Athalla, Amayra ... cepet jawab gue, di mana Roshni?" tanya Sulis, dengan nada rendah.
"Cepet jawab gue, di mana Roshni!" bentak Sulis kepada Amanda.
"Gue kagak tau di mana dia! Tadi pagi memang gue ke rumahnya, tapi dia kagak ada di rumah!" ujar Amanda, menyakinkan.
"Jangan bohong lo ya, gue tau lo pasti udah nyulik Roshni karena lo dendam ke dia!" Helen, menekan Amanda supaya ia mengku.
"Kagak! Gue kagak nyulik dia! Sumpah dah!"
"Oh oke, kalau lo kagak mau jujur, gue bakalan bongkar keberadaan lo sekarang ke Pak Gohan, lo mau hah?" ancam Levina.
"Eh, orang gue kagak ngelakuin apa-apa!"
"Okelah! Orang kita tau kok kalau lo ini sebenernya cuman anak tukang bakso!" Helen, melotot kepada Amanda.
Amanda terkejut mendengarnya, Athalla dan Amayra berpaling ke arah Amanda, kaget mendengar perkataan Helen yang secara tiba-tiba.