Tin ... Tiin ... Tiin!
Suara klakson mobil dan motor saling berseteru di jalan raya karena seorang remaja perempuan berpakaian piama sedang berjalan di tengah jalanan, hingga menimbulkan kemacetan lalu lintas. Di tengah teriknya matahari siang, ada remaja perempuan dengan tatapan kosong, ternyata itu adalah Roshni!
Masih dalam pakaian piamanya, Roshni berjalan di jalanan. Roshni berjalan bagaikan dikendalikan oleh Saloni lagi, tetapi anehnya tidak ada yang mengendalikan Roshni. Roshni terus berjalan di tengah jalan, sampai ada mobil dan motor yang akan menabraknya. Namun itu semua tak membuat Roshni sadar, dirinya terus berjalan, Roshni sepertinya akan ke rute pendakian gunung mardala di Majalengka.
Para petugas lalu lintas merasa bahwa Roshni sudah gila dan kehilangan akal, lihat saja dari ekspresi dan pakaiannya. Ditambah lagi wajahnya sembab, penuh air mata, dan sangat kumal. Para petugas dan beberapa orang yang melihatnya memilih untuk diam dan menghindari Roshni, karena mereka tak ingin kejadian yang tak mengenakan terjadi.
Tak sengaja geng kalajengking merah yang sedang berada di dalam angkutan umum lagi, melihat Roshni di jalanan, mereka terkejut karena kondisi Roshni yang seperti ini. Awalnya Amanda ingin turun dan membawa Roshni bersamanya untuk membalas dendam, tetapi Athalla menghentikan Amanda.
"Jangan, Da! Kayanya ada yang aneh dari Roshni!" pikir Athalla, memegang tangan Amanda untuk mencegahnya turun.
"Aneh apanya?"
"Lihat tuh, masa iya Roshni pergi keluar pake pakaian piama, tatapannya kosong, terus enggak pake sendal lagi, kan aspal panas banget. Apa itu enggak aneh?" Athalla, berpikir kritis.
"Hmm, iya juga sih ya, apa jangan-jangan si Roshni udah depresi?" tebak Amanda.
"Woy, jangan aneh-aneh lo, t-tapi kalau memang bener dia depresi, p-pasti kita yang disalahin dong!"
"Haduh, dasar! Jadi gimana ini?" Amayra, kebingungan.
"Kita s-sembunyi di kos-kosan aja, terus nanti baru kita buat siasat supaya kita selamet!" usul Athalla.
"Bener juga, tapi lo masih punya uang?" tanya Amayra.
"Punya, gue udah pegang lima ratus ribu."
"Bagus!" Amanda yang lega mendengarnya.
"G-Gue takut!" ungkap Amayra.
"Udah, jangan takut! Kita hadapi bareng-bareng!" Amanda.
Saat hari sudah cukup sore, Roshni yang misterius berjalan terlalu jauh dan masuk ke area pendakian gunung mardala yang jaraknya cukup jauh dari kota. Di sana Roshni bertemu dengan para penjaga dan pendaki gunung mardala yang ada di sana, saat melihat Roshni mereka langsung terkejut karena ada remaja perempuan, memakai kemeja piama, tanpa alas kaki, masuk ke area pendakian.
"Mbak, Mbak mau kemana ya?" tanya salah satu pria paruh baya, penjaga gunung mardala.
Roshni menunjuk ke atas gunung.
"Atas!"
"Hah? Atas? Dengan pakaian seperti ini, Mbak?"
Roshni menganggukan kepalanya.
"Mbak, di atas sana sangat dingin dan berbahaya, jika Mbak nekat Mbak bakalan sengsara di atas sana," tegurnya, dengan sopan.
"Itu bukan urusanmu," ujar Roshni, Roshni melanjutkan perjalanannya lagi.
"Aduh, Mbak, jangan,"
"Pak, tegur dia, jangan sampai dia masuk!" kata wanita paruh baya yang menjaga warung di posko satu.
"Iya, Bu!"
Penjaga itu mendekati Roshni, namun Roshni mengarahkan tangannya kepada penjaga itu, dari tangannya ia mengeluarkan sebuah kabut asap, secara tiba-tiba penjaga gunung mardala tersebut terpental sampai tersungkur ke tanah.
Dug!
Para pendaki yang melihatnya langsung menolong penjaga gunung itu, sementara Roshni melesat pergi ke pegunungan dengan sangat cepat. Entah mengapa Roshni menjadi sangat misterius seperti ini, biasanya Roshni sangat sopan dan periang, ia juga tidak berani bertindak kasar kepada orang yang lebih tua.
"Sepertinya dia bukan manusia, kalian patut hati-hati saja dengannya!" ucap Ibu warung, kepada para pendaki gunung, dengan perasaan cemas.
Di istana alam kabut, kondisi ratu kabut menjelang ajalnya semakin memilukan. Terlihat tangan dan kaki ratu kabut telah menjadi kabut total, beberapa hari lagi kepala dan badannya akan menjadi kabut dan berpulang ke Sang Pencipta. Ratu kabut duduk di singgasananya, wajahnya masih misterius dan tidak terlihat. Di sana ada juga Syera dan perdana mentri alam kabut, yang bernama Shalaka. Kekuatan ratu kabut semakin melemah, sekarang dirinya tak lagi melihat Roshni dari kesaktiannya.
"Ratu, melihat kondisi Ratu yang terus melemah, sepertinya anak Ratu harus segera dibawa kemari untuk diangkat menjadi Ratu Kabut periode selanjutnya," usul Shalaka.
"Jangan! Nanti saja setelah diriku akan mati. Jika begini, anakku pasti tidak akan begitu kehilangan diriku. Tetapi jika sekarang, pasti ada ribuan tangisan yang akan terjadi di alam kabut, dan diriku tidak mau sampai itu terjadi,"
"Tapi jika waktunya terlambat bagaimana, Ratu?"
"Tenang saja, aku sudah tahu hari di mana ajalku menjemput, sekaligus hari di mana aku harus menobatkannya menjadi seorang ratu kabut di istana ini,"
"Baiklah, jika itu keinginan Ratu,"
"Hmm, entah kenapa, di usia tua ini diriku menjadi sangat bimbang, meskipun ragaku muda, tetapi penyakit bawaan jin yang sudah tua tetap ada. Salah satunya adalah sifat perasaan, aku merasakan sesuatu yang buruk telah terjadi kepada anakku ..."
"Astaga, apa perlu kami menjeputnya, Ratu? Sudah saya katakan tadi jika putri Ratu dijemput saja sekarang,"
"Tidak usah. Di dalam lubuk hatiku yang paling dalam, aku tahu anakku itu bisa menghadapi ini semua,"
Di alam bumi. Aisyah, Sulis, Helen dan Levina mencari-cari Amanda yang mereka tuduh sebagai penculik Roshni, mereka mencari-carinya ke rumah Athalla, tetapi ujar pembantunya Athalla tidak pulang sejak pagi, lalu mereka datang ke rumah Amayra, kata pembantunya Amayra tidak pulang juga sejak tadi pagi. Tak sampai di situ, mereka berempat mencari rumah Amanda sampai berkeliling ke sana ke mari untuk mendapatkan alamatnya. Perjuangan mereka berbuahkan hasil, rumah Amanda ditemukan tepat di jam empat sore, ternyata rumah Amanda benar sangat kumuh dan hanya petak saja seperti yang dikatakan sang Ayah sewaktu di sekolah tadi pagi. Aisyah mengetuk pintu rumahnya pelan-pelan.
Tok! Tok! Tok!
"Assalamualaikum!" salam Aisyah.
Klek!
Pintu rumah itu terbuka, yang membukanya ialah seorang perempuan tua yang memakai kerudung merah sederhana dan kebaya.
"Waalaikumsalam, ada apa ya?"
"Apa benar ini rumahnya Amanda, Nek?"
"Iya, benar, ini rumah Amanda."
"Nek, saya mau tanya, apa Amanda pulang ke rumah?" tanya Helen.
"Hmm, enggak, Nak. Sejak dari pagi Amanda tidak pulang, kata Ayahnya Amanda, Amanda kabur dari sekolah karena udah buat ulah,"
Pencarian Aisyah sia-sia, ternyata ketiga anggota kalajengking merah itu dengan kompak tidak pulang dari rumahnya. Sebenarnya kemana mereka bertiga bersembunyi?
Hari sudah semakin gelap, titik terang dari ditemukannya Roshni semakin redup. Roshni tak kunjung ditemukan. Terpaksa mereka pulang ke rumahnya masing-masing. Mungkin habis sholat isya' Aisyah dah Sulis akan kembali mencari Roshni, semoga saja ada petunjuk yang mereka berdua dapatkan.