Perwujudan siluman semut yang berada di dalam lubang goa mahakumbh sangat mengerikan. Siluman semut ini memiliki lima kepala yang sangat bertumpukan, memiliki ratusan kaki, badannya berwarna merah, dan besarnya setara dengan batu bata. Siluman semut yang berada di goa mahakumbh memiliki bisa beracun, jika ia mengigit seseorang maka orang tersebut akan kejang-kejang dan mati, karena sarafnya dihisap dengan satu kali gigitan. Siluman semut tinggal di lubang goa mahakumbh besersamaan dengan ribuan semut-semut yang normal. Siluman semut hanya singgah di sana, dan memiliki bertugas untuk melindungi batu permata cheentee daanav yang tercipta tujuh ratus tahun sekali.
Batu permata cheentee daanav sering kali dicuri oleh siluman atau jin jahat lain untuk tujuan tertentu karena cheentee daanav memiliki kekuatan yang sangat amat besar. Jika digunakan untuk kebaikan bisa membuat ketentraman dan memiliki fungsi besar seperti dapat menyembuhkan sesorang jin, makhluk ghaib, manusia atau semacamnya dari berbagai penyakit. Akan tetapi jika digunakan untuk kejahatan bisa sangat berbahaya, batu permata cheentee daanav bisa membuat seseorang menguasai setengah alam ghaib.
Terlihat kabut asap Roshni sampai ke dalam lubang goa mahakumbh, Roshni tiba-tiba berubah menjadi manusia dan menjadi kecil seperti semut, hal ini karena sihir dari Saloni. Roshni sekarang berdiri di depan batu permata cheentee daanav, sebari dikelilingi ribuan semut yang berkeliaran kesana-kemarin, di depannya pula ada siluman semut yang sedari tadi memperhatikannya.
"Ada perlu apa kau kemari?" tanya siluman itu, suaranya perempuan, namun sangat mengerikan.
"Saya ingin membawa batu permata cheentee daanav untuk menyembuhkan Nenek saya yang merupakan seorang jin, ia sedang sakit parah. Jika bersedia, tolong izinkan saya untuk mengambilnya,"
"Hmm, dari marga jin mana kau berasal?"
"Kabut,"
"Apa jabatanmu di sana?"
"Putri mahkota,"
"Hah? Jika kau seorang putri mahkota, berarti nenekmu sudah meninggal di saat Ibumu diangkat menjadi ratu kabut. Dan kenapa pakaianmu seperti pakaian seorang manusia? Apa kau mau menipuku?" herannya, karena melihat pakaian Roshni yang menggunakan kemeja piama bermotif kartun.
"Tidak! Maksud saya untuk pembantu saya yang sudah saya anggap nenek sendiri, karena beliau yang merawat saya. Lalu masalah pakaian, sebenarnya saya menyamar sebagai seorang manusia untuk tujuan tertentu, jadi harap maklum jika saya tidak memakai pakaian bangsa jin pada umumnya,"
"Oh, baiklah, sesuai dengan terciptanya batu permata ini, akan ku berikan kepadamu. Tapi ingat, batu permata ini hanya bisa digunakan untuk satu tujuan saja, lalu akan musnah dan akan kembali tercipta 700 lagi,"
"Terimakasih banyak,"
Roshni mengambil batu permata cheentee daanav dengan sangat mudah, setelah mengambilnya Roshni berubah menjadi kabut asap kembali lalu keluar dari sungai. Batu permata hijau cheentee daanav Roshni serahkan kepada Saloni, sang titisan Bhaisasuri.
"Hahaha, terimakasih. Sekarang kau akan kembali lagi ke tempatmu berasal,"
Saloni membacakan mantra-mantra lagi, seketika mustika yang diberikan Nenek Ajeng keluar dari kepala Roshni, kemudian Roshni menghilang dan kembali ke kamarnya yang nampak sudah berantakan karena ulah dari anggota-anggota geng kalajengking merah. Roshni pingsan di ranjang.
Betapa tak berakhlaknya mereka, lemari, rak-rakan, buku belajar dan barang-barang lain yang ada di kamar Roshni, mereka acak-acak hingga menjadi seperti ini. Sebagian barang ada yang pecah dan hancur.
Di dapur Roshni, keadaannya sangat parah. Seluruh piring, gelas, sendok, kompor, oven, dan meja makan hancur di lantai, ditambah lagi laukpauk berserakan di mana-mana. Ini semua karena perbuatan Amanda, Athalla dan Amayra. Sekarang mereka bertiga pergi mencari Roshni, entah kemana, padahal Roshni sudah berada di kamarnya.
Siang yang begitu terik tiba, hari senin biasanya SMAN 1 Nusa pulang cepat dan lebih awal dari biasanya, yaitu jam 12.00 siang. Siang yang begitu terik membakar semangat para remaja SMAN 1 Nusa yang membara. Beberapa siswa dan siswi ada yang pulang menggunakan motor, ada juga yang menaiki kendaraan umum.
Aisyah dan kelompok PKWUnya masih berada di dalam kelas, di sana juga ada Helen dan Levina yang sedang melakukan piket. Di sana tampak Aisyah dan Sulis sedang berseteru dengan Aldi, salah satu anggota PKWUnya. Aldi tak mau bekerja kelompok hari ini, dengan alasan dirinya sedang ada janji dengan sang pacar, Aldi memang selalu mementingkan pacarnya dibandingkan sekolah, padahal pacaran tidak ada gunanya, tak ada manfaat, hanya menambah dosa.
"Aldi, kan bisa kamu batalin janji kamu untuk proyek kita ini! Demi nilai, Di!" Aisyah.
"Halah, nolai-nilai, gue kagak mau! Yang gue mau cuman kebahagiaan pacar gue doang! Lagian masih bisa besok! Kan ketua kelompoknya si Roshni, dia juga kan masih sakit,"
"Astaghfirullah, Di! Roshni yang minta ini. Apa salahnya kita kerja kelompok sekarang, kan beban tugas kita akan selesai,"
"Kagaklah, gue mau ngedate sama pacar gue di kafe boba. Mendingan pacaran daripada bikin tugas yang buang-buang duit ..."
"Di, pacaran itu dosa, masa kamu enggak tau?"
"Gue kagak mau denger ceramah lo! Mau dosa mau kagak, ya urusan guelah!"
"Haduh, ini orang kagak mau denger!" Sulis, "mending kick dia dari kelompok kita, Rosh!" usulnya.
"Kick? Silahkan! Gue kagak peduli! Males gue sekelompok sama orang kek kalian! Bye!" Aldi meninggalkan kelas, dan pergi untuk pulang.
"Aldi-Aldi!"
"Syah, sabar ya, si Aldi memang orangnya pacaran mulu. Dia kan f**k boy, tiada tahun dan hari dia tanpa pacar. Setiap bulan dia selalu gonta-ganti pacar, seingetku ya terakhir si Aldi putus sama si Merlin, anak kelas 10 IPA 1 itu, dan sekarang dia pacaran lagi sama anak 10 IPS 5 yang namanya Tari,"
"Astaghfirullah, Lis, perlu yang kamu tau kalau pacaran itu sama aja zina lho. Karena apa? Karena kalau pacaran kan biasanya pegang-pegangan tangan, mesra-mesraan, chatan mesra, sampai berduaan, terus itu dari itu semua kita dapat dosa, dan aku dengar-dengar biasanya orang tuanya juga bakalan kena dosa atas perbuatan anaknya sendiri,"
"Iya, Syah, aku juga dengernya gitu. Huft, kasian sih, apalagi sekarang pacaran malah dianggap lazim sama para anak muda,"
"Benar, Lis. Eh, udah-udah. Sekarang gimana nih? Kita jadi bertiga dong?"
"Iya gitu, Syah, terpaksa deh cuman bertiga,"
"Aduh, Lis. Apa boleh?"
"Boleh-boleh aja sih, Syah, kita sekalian laporin aja si Aldi ke Bu Tika! Supaya kena marah!"
"Boleh juga ..."
"Eh-eh, kalian mau kerja kelompok ya?" tanya Levina, yang baru datang dari luar kelas, karena sudah membuang sampah.
"Iya nih, lo mau ikut kagak?" Sulis.
"Mau-mau, t-tapi kan kita enggak sekelompok,"
"Enggak apa-apa, Vin. Kan ajang silahturahmi juga. hehe ..."
"Oh, yaudahdeh, gue sama Helen ikut ya. Di rumah Roshni kan?"
"Iyo, Vin,"
Siang itu, tepat jam 14.00, mereka berempat sudah berada tepat di depan rumah Roshni yang sangat sepi.
Tok! Tok! Tok!
"Assalamualaikum, Rosh!" salam Aisyah.
Beberapa lama kemudian, tidak ada respon sama sekali.
"Roshni!" panggil Helen.
"Kayanya Roshni kagak ada di rumah deh, Syah," pikir Levina.
"Eh, liat tuh!" Helen menunjuk ke arah jendela yang terbuka.
Mereka melihat rumah Roshni acak-acakan bagaikan kapal pecah. Mereka berempat berpandangan dengan mata melotot, pertanda apa yang mereka pikirkan sama. Seketika mereka langsung mendobrak pintu rumah Roshni karena sangking khawatirnya.
Brakk!
"Roshni! Roshni!" teriak Sulis.
"Astaghfirullah! Ini rumah Roshni kenapa bisa berantakan!" kaget Aisyah.
"Ini pasti perbuatannya geng kalajengking merah, Syah! Mereka mau bakas dendam!" tebak Sulis.
"Astaganaga!" Helen, memegang kepalanya.
"Wait, gue cek kamarnya satu-satu!" Helen.
Helen memeriksa kamar di rumah Roshni, namun dirinya tak kunjung menemukan Roshni, ia malah melihat kamar Roshni, dapur dan ruang keluarga Roshni sangat berantakan.
"R-Roshni kagak ada!"
"Hah??" Aisyah kaget bukan kepalang mendengarnya.
"Pasti mereka udah apa-apain Roshni! Karena kalau bukan mereka, ya siapa lagi!! Roshni enggak mungkin bikin rumahnya hancur berantakan kaya gini! Udah kaya kapal pecah!" papar Sulis.
"Ya Allah, memang kurang ngajar tuh mereka," Aisyah, menangis.
"Kita sekarang harus bertindak, Syah, Lis, sebelum Roshni kenapa-kenapa!" Helen.