Roshni kembali ke alam kabut, setelah sekian lama. Roshni melihat keadaan alam kabut sangat amat sepi, bagaikan sudah terjadi sebuah bencana. Roshni mencari Shalaka dan Syera di ruang singgasana, akan tetapi tak ada. Roshni bertanya kepada beberapa prajurit jin kabut di sana tentang keberadaan Shalaka dan Syera, mereka tak tahu. Roshni berkeliling di istana kabut, mencari Shalaka dan Syera. Hingga akhirnya Roshni mendapati sebuah pintu yang megah, mungkin saja Shalaka dan Syera ada di dalam sana. Roshni membukanya, sesampainya di sana, ternyata itu adalah pintu gerbang menuju lorong bawah tanah istana kabut, yang berdinding hitam. Roshni masuk ke lorong bawah tanah, di sana ada beberapa prajurit yang berdiri sigap dan memberikan hormat kepada Roshni. Di lorong bawah tanah, Roshni tak kaget melihat para roh-roh jahat yang terkurung karena ia mengetahuinya dari kekuatan sang Ibu. Roshni melihat pemakaman Bhaisasuri yang beda dengan yang lain, pemakaman itu sangat besar, bagaikan ada raksasa yang dimakamkan di sana.
"Hmmm, sepertinya mereka berdua tidak ada di sini."
Roshni kembali, akan tetapi ...
"Tunggu!" Suara Nenek tua menghentikan Roshni untuk pergi dari lorong bawah tanah.
Tiba-tiba saja ada segitiga api raksasa dari atas pemakaman Bhaisasuri, lama-kelamaan segitiga api itu jatuh dengan sangat keras, seketika kuburan Bhaisasuri alias Nenek Ajeng meledak dengan sangat amat kencang.
DAAAARRR!
Roshni kaget, sangking kagetnya, ia lupa bahwa dirinya harus menghentikan semua ini.
Kuburan itu meledak, dan dari kuburan tersebut keluarlah seorang wanita tua menggunakan kain sari berwarna putih dengan corak-corak merah di setiap ujungnya. Ia memakai perhiasan emas yang sangat banyak, di leher, tangan, sampai di telinga. Meski ia sudah renta, tetapi dirinya masih ada kecantikan yang membekas di wajahnya.
"Hahahahaha! Akhirnya aku bebas! Setelah 700 tahun, aku bebas kembali! Hahahaha ..." tawa Nenek Ajeng, yang melayang di atas kuburannya sendiri.
Nenek Ajeng menatap Roshni dengan tatapan tajam, lalu ...
DAAAGGGG!
Nenek ajeng terjun dari atas, dan sekarang ia berada di hadapan Roshni dengan wujud Bhaisasuri. Terlihat ia mempunyai empat kaki juga seperti wujud Roshni yang semalam.
"Nenek Ajeng?" Roshni, terkejut melihatnya.
"Ya! Aku Nenek Ajeng, Bhaisasuri tersakti ... huahahahahaha!"
"Bagaimana kau bisa bebas?" Tanya Roshni yang alisnya mengkerut, pertanda ia sangat kebingungan.
Nenek Ajeng memalingkan wajahnya ke belakang, "Nak ... ayo, tunjukan dirimu."
Dari balik peti mati salah satu roh jahat, muncul si cantik Saloni dengan dua kaki kuda.
"Saloni? Kau ... kau yang mengambil kesaktianku dulu!" Roshni, marah.
"Akan ku hajar kamu ya!"
"Tunggu, Roshni!" Ujar Nenek Ajeng.
Roshni berhenti, ia melirik Nenek Ajeng dengan tatapan yang sangat sangar.
"Kalian berdua patut aku masukan ke dalam pemakaman api, agar kalian mati kepanasan di sana!" Roshni membacakan mantra-mantra, lalu seketika keluarlah tongkat berbentuk bintang yang merupakan tongkat kesaktian alam kabut dari tangannya.
"Akan ku kirim kalian sekarang juga!"
"Arghhh!"
"Tunggu, Roshni! Aku akan memberikan kamu sebuah kesaktian yang bisa menghancurkan sekolah Nusa, asalkan kamu tidak mengirim kami ke penjara api itu!" Teriak Nenek Ajeng, penuh ketakutan.
Karena tergiur dengan ucapan Nenek Ajeng yang membuat dirinya puas, Roshni pun tidak jadi mengirim mereka berdua ke penjara api.
"Benarkah?"
"Iya, Roshni! Iya!" Ucap Nenek Ajeng, tegang.
"Sesuai dengan perkataanmu, sekarang mana kesaktian itu?" Roshni, tak sabar.
Nenek Ajeng membacakan mantra, seketika di tangannya keluar sebuah batu permata berbentuk tengkorak yang berwara hijau.
"Ini dia, ini adalah batu permata buto yang di dalamnya terdapat kekuatan Ijosuri, yaitu gabungan antara buto ijo dan bhaisasuri. Jika kamu memakai ini, maka kamu akan bisa menghancurkan satu sekolah yang sangat besar, Rosh. Dan kamu juga bisa berubah menjadi cantik, atau bisa juga menjadi sangat menyeramkan."
"Waahhh! Ini sangat menarik!"
"Tapi, ada syaratnya, Rosh."
Roshni melirik Nenek Ajeng dengan tatapan melotot.
"Iya, karena ini kan batu permata yang sangat sulit dicari. Batu permata ini hanya ada di dalam tempurung kura-kura siluman yang ada di bawah laut."
"Roshni, untuk membalas dendam, pasti memerlukan banyak kekuatan ... batu permata ijo ini sangat sakti dibandingkan kekuatan kabut."
"Hmm, apa syaratnya?"
"Cukup kau memberikan tahtamu berupa mahkota dan tongkat alam kabut kepada anakku dan diriku. Setelah itu aku akan memberikanmu batu permata ini, dengan syarat kau tak boleh kembali ke alam kabut lagi. Oh iya, aku juga akan memberikan sebuah mahkota dan tongkat alam Bhaisasuri kepada kamu. Jika kamu menyetujuinya, maka malam ini akan dikenal dengan malam perjanjian Ijosuri."
"Baiklah, aku akan menyetujuinya. Tapi ingat, jangan sekali-kali kau menipuku, Nenek Ajeng. Karena aku bisa melakukan apa saja yang ku mau, meski tidak mempunyai kekuatan dari tongkat sakti alam kabut."
"Iya, aku tidak akan pernah mengingkarimu, walaupun sedikit saja, aku tak berani ... karena aku telah melihat bagaimana dirimu membalas dendam kepada ketiga temanmu itu di labirin dimensi ghaib."
"Bagus!"
"Sekarang cepatlah, Nak, serahkan mahkota dan tongkatmu, lalu aku akan memberikanmu tongkat kesaktian siluman Bhaisasuri dengan mahkotanya juga, sehingga kau akan menjadi Ijosuri, yaitu buto ijo Bhaisasuri wanita."
Roshni memberikan mahkota dan tongkat kesaktian alam kabut, lalu ia tukarkan dengan apa yang diiming-imingi oleh Nenek Ajeng. Setelah tongkat dan mahkota itu ada di tangan Nenek Ajeng, seketika Nenek Ajeng mengarahkan telapak tangannya yang membawa batu permata ijo ke wajah Roshni, lalu merauk wajah Roshni. Bukan menyerang, apalagi menipu. Dari tangan Nenek Ajeng yang merauk Roshni, batu permata ijo mulai masuk ke dalam wajahnya. Ternyata saat itu Nenek Ajeng memasukan kekuatan Bhaisasuri ke dalam raga Roshni melalui wajahnya. Refleks, Roshni langsung bergemetar hebat, bagaikan orang yang kesurupan. Saraf-saraf yang ada di wajah dan tubuhnya terlihat dengan mata kepala sendiri, itu pertanda kekuatan Bhaisasuri akan segera merasuk ke dalam tubuhnya. Lama-kelamaan, Roshni berteriak kesakitan. Dan tubuhnya menjadi berwarna hijau bagaikan buto ijo.
Angin berhembus dengan sangat amat kencang, petir-petir merah menggelegar kesana-kemari, angin ribut menghantam istana kabut sampai semuanya kacau-balau. Bencana akan terjadi alam kabut! Bencana akan terjadi karena seorang pemimpin terhasut oleh hasutan siluman jahat! Ini adalah babak awal dari pembalasan Nenek Ajeng kepada keturunan Melinda! Sebentar lagi istana kabut akan berada di tangan Nenek Ajeng dan Saloni!
Kekuatan batu permata Ijosuri sudah berada di dalam tubuh Roshni, alam kabut kembali tenang, begitupula Roshni yang sudah tidak berteriak-teriak dan bergemetar hebat lagi seperti tadi.
"Sekarang kamu bisa menggu akan kekuatan itu sesukamu, selain itu di dalam tubuhmu masih ada kekuatan yang diberikan Tara satu minggu yang lalu. Aku dan anakku ini, hanya membawa tongkat dan tahta saja."
"Sekarang aku persilahkan kamu, Roshni, untuk segera meninggalkan alam kabut."
"Baiklah."