Ajal Tara

1263 Kata
Syukurlah, Pak Gohan masih ada di ruang guru, ia sedang mengetik data-data sekolah di laptopnya. Tampak di ruang guru hanya ada Pak Gohan seorang, tak ada siapapun lagi selain dirinya karena semua guru dan para staf tata usaha sudah pada pulang ke rumahnya masing-masing. Pak Gohan memang guru yang sangat rajin, meskipun usianya sudah renta, dan akan memasuki umur 50 tahun, tetapi ia masih giat mengabdi ke sekolahnya. Umur pula tak membuat dirinya menua, badannya tetap kekar dan wajahnya seperti yang berumur 30 tahunan. Tap! Tap! Tap! Aisyah dan Sulis menuju ke ruang guru, "assalamualaikum, Pak." Salam mereka berdua, wajah mereka berpeluh keringat karena lelah berlari. "Waalaikumsalam, ada apa ini? Kenapa kalian kaya dikejar setan?" Tanya Pak Gohan, kebingungan. "Maaf, Pak, ta-tapi ini gawat darurat, Pak!" Ungkap Sulis. "Iya, Pak!" Aisyah. "Lah, ada apa sebenarnya?" "R-Roshni, Pak!" "Kenapa dia?" "Dia ditenggelamkan oleh Amanda, Athalla sama Amayra ke sungai! Lebih parahnya Roshni tidak kunjung keluar dari sungai sekolah, Pak!" Papar Aisyah, tergesah-gesah. "Inalilahiwainalilahirojiun!" Kaget Pak Gohan, di sana. Sementara itu, syukurlah Roshni sadar meski dalam keadaan basah kuyup, ia tidak mati. Namun, Roshni tersadar di depan sebuah negeri yang dirundungi gempa ditambah lagi negeri yang dipenuhi dengan kabut dan kekacauan dimana-mana. Banyak rumah besar yang hancur berkeping-keping, di sana juga ada istana yang kubahnya rusak karena gempa itu. "Tempat apa ini? Mengapa aku ada di sini?" Roshni, panik. Roshni bangkit, dan memperhatikan negeri itu dari kejauhan, ia lihat orang-orangnya sangat aneh, ada salah seorang warga yang berwajah mengerikan, seperti sudah sangat tua, dan kakinya tidak ada, ia melayang dengan asap layaknya jin. Roshni sangat ketakutan, ia tak sangka dirinya bisa sampai di negeri ghaib seperti ini. Roshni takut, tetapi menarik juga jika ia telusuri tempat ini, Roshni juga ingin mencari tempat sholat untuk melakukan ibadah sholat asharnya. Roshni berjalan dengan penuh hati-hati, ia melihat orang-orang aneh yang sedang kepanikan. Roshni berjalan lurus, hingga masuk ke kawasan istana alam kabut yang sudah kacau balau. Tanpa disengaja Roshni masuk ke dalam istana kabut yang dipenuhi kabut bak istana di atas awan, di sana Roshni mendengar suara tangisan beberapa orang bagaikan sedang ada orang yang akan meninggal. Pelan-pelan ia melangkah ke sumber suara itu, modal nekad ia akhirnya menemukan sumber suara tangisan yang ternyata ada di ruangan utama alam kabut yang terdapat singgasana. Di sana, terdapat Shalaka, Syera dan oh astaga ... ada Ayahnya juga! Ayahnya sedang menangisi maharatu yang wajah dan tubuhnya tertutup dengan kabut asap tebal. "A-Ayah?" Dimas kaget melihat Roshni yang tiba-tiba datang! Padahal sangat sulit sekali jika ada manusia yang ingin ke alam kabut, karena dirinya harus memuncak ke gunung mardala dan akan menemukan di sana, itupun melalui dimensi alam ghaib. "Roshni, kamu di sini?" Heran Dimas. "A-Akhirnya, anakku datang." Ujar Ratu Kabut, yang berbaring di lantai. "Anak? Maksudnya?" Roshni, kebingungan. "Nak, kenapa kamu bisa ada di sini?" Tanya Dimas. "Ayah, aku ta-tadi ..." "Shalaka, perlihatkanlah segalanya!" Suruh Ratu Kabut, dengan lemahnya. "Baik, Ratu." Ucap Shalaka, seperti yang akan menangis. Di sana, dari mata Shalaka keluar cahaya putih lalu cahaya itu membentuk sebuah layar lebar yang menunjukan kilas balik bagaimana Roshni bisa ke alam kabut kepada Dimas dan Syera. Setelah melihat segalanya, semua orang yang ada di pertemuan tersebut menangis, mereka tak sangka Roshni harus melewati ujian seberat ini, hingga akhirnya takdir membawanya ke istana kabut. Dimas seketika memeluk Roshni disertai tangisan yang membabi buta. "Shalaka, berikan ba-batu kristal ini, agar dirinya mengetahui segalanya yang aku sembunyikan rapat-rapat selama ini kepadanya." Tara memberikan batu kristal kecil, lalu Shalaka mengambilnya dan menempelkannya ke kening Roshni yang masih di pelukan Ayahnya itu. Perlahan-lahan batu kristal tersebut masuk ke dalam keningnya, Roshni akhirnya mengetahui rahasia yang Ibu dan Ayahnya tutupi selama ini. Di dalam pikirannya, ia melihat Ibu dan Ayahnya melanggar larangan alam, karena Ayahnya yang seorang manusia menikahi Ibunya yang merupakan seorang jin kabut yang berasal dari alam kabut. Dahulu kala, Dimas sedang mendaki di gunung mardala, tak sengaja Tara yang sedang berjalan-jalan ria saat itu melihat Dimas dan langsung jatuh cinta kepadanya, dulu Tara berumur 50 tahun, tetapi wajahnya masih muda karena ia adalah seorang putri mahkota. Karena cintanya yang sudah sangat menggila di pikirannya, akhirnya mereka berdua menikah, Tara berpura-pura menjadi pendaki yang ikut dengan Dimas, mereka berbincang-bincang dengan sangat lama hingga Dimas jatuh cinta juga kepada Tara. Sebelum pernikahan berlangsung, Tara jujur kepada keluarga Dimas, dan Dimas juga, untung saja Dimas dam keluarganya sangat baik hatinya, sehingga pernikahan mereka berjalan lancar tanpa kendala apapun. Tak hanya itu, sang Ibu dari Tara merestui hubungan mereka, padahal pernikahan jin dan manusia adalah pernikahan yang terlarang. Dua tahun kemudian, mereka tak kunjung dikaruniai anak, hingga akhirnya Ibu dari Tara meninggal, Tara terpaksa harus menggantikannya. Tak disangka di saat umurnya 87 tahun Tara melahirkan seorang bayi di istana alam kabut, setiap ada ratu pasti ada raja begitupula sebaliknya, terpaksa Dimas yang aeorang manusia diangkat menjadi raja alam kabut meski wewenang dam tanggung jawabnya lebih sedikit dibandingkan Tara. Dimas tetap menjalankan pekerjaan di bumi, begitupula di alam kabut, hingga membuatnya jarang pulang ke rumah. Pada masa Roshni lahir, Dimas datang ke alam kabut dan bahagia melihat putrinya. Tara pun mengurus bayinya sampai satu tahun untuk memberikan asi dan kasih sayang, setelahnya Tara menyuruh Dimas untuk mengurus Roshni, Roshni harus bersekolah di dunia manusia dan harus mendapatkan pendidikan juga di sana sebelum Roshni menjadi seorang ratu di alam kabut, ia juga akan datang ke rumah setiap seminggu sekali atau bahkan lebih dari itu untuk melihat sang anak, Dimas mengerti keadaan istrinya, ia pun mengiyakan perkataannya dengan penuh ketulusan dan keikhlasan. Dimas dewasa, ia sangat mengerti keadaan istrinya. Sebelum Dimas kembali ke bumi, Tara juga menitipkan pesan jikalau Dimas tak boleh memberitahukan semua ini kepada Roshni karena suatu saat Roshni akan mengetahui siapa dirinya sebenarnya. "J-Jadi Ibu ..." "Iya, Rosh." "Ibu!" Roshni seketika memeluk Tara yang tengah sikratul maut tersebut. "Hiks-hiks-hiks, maafin Roshni, Bu, karena Roshni berpikir yang enggak-enggak tentang Ibu, hiks-hiks-hiks." "Iya, Nak, enggak apa-apa, maafin Ibu juga karena Ibu enggak bisa memberikan kasih sayang ke kamu, Nak! Hiks-hiks-hiks ..." "Bu, jangan bilang begitu, Roshni tahu semuanya kok, hiks-hiks, Rosh juga tau kalau semalam itu Ibu datang ke rumah Rosh, dan Rosh menyaksikannya di mimpi, hiks-hiks-hiks." Tangis Roshni pecah di pelukan Ibunya. "Sudah, Nak! Hiks-hiks-hiks, kalau kamu nangis Ibu juga akan ikut menangis, Nak, dan Ibu tidak akan tega untuk pergi dari dunia ini." "Rosh, Ibu meminta maaf sebesar-besarnya ke kamu, sebenarnya kamu mempunyai kekuatan yang sangat besar, tetapi karena Ibu sembunyikan di dalam organ kepalamu lalu sebagian lagi Ibu ambil, hingga kamu menjadi tidak mempunyai kekuatan apapun yang bisa kau gunakan untuk membela diri, Ibu minta maaf ya, Nak! Hiks-hiks-hiks ..." "Nak, meskipun kekuatan di organ kepalamu tadi pagi sudah lenyap, kamu bisa mendapatkan yang lebih besar dari sebelumnya. Ibu akan pergi setelah mengirimkan semua kekuatan yang Ibu punya ke kamu, Nak, tetapi kamu jangan sedih ya, Nak." "Hiks-hiks ... baru saja kita bertemu, Bu." "Ini takdir, Nak." "Nak, tutup matamu, dan siapkan dirimu." "Iya, Bu." Sesuai intruksinya, Roshni menutup mata, tangan Tara mengenggam tangan Roshni. Tiba-tiba Tara berteriak kesakitan, seluruh tubuh dan kepala Tara dan Roshni bercahaya, mengeluarkan sinar oranye. Angin berhembus dengan sangat amat kencang, gempa semakin dahsyat, petir mulai menggelegar di mana-mana, entah kenapa semua ini terjadi, biasanya di saat pengiriman kekuatan seperti ini langit cerah dan dipenuhi dengan ribuan pelangi dan hujan bunga, tetapi sekarang malah seperti bencana besar. "Bu, ini kenapa begini?" Tanya Syera kepada Shalaka. "Entahlah, Anakku, semoga saja tidak terjadi hal yang tidak diinginkan." Jawab Shalaka, cemas. "Selamat tinggal, Anakku! Jaga dirimu, jangan lupa sholat, dan jagalah alam kabut." DAAAR! "Ibuuu!!!" Tara meledak, dan pergi meninggalkan kita semua untuk selama-lamanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN