Penobatan Ratu Kabut Baru

1162 Kata
Tara sudah berpulang ke sang pencipta, seketika Dimas, Syera dan Shalaka yang melihat semua kejadian tersebut langsung menangis histeris. Tara sudah benar-benar lenyap, tak ada jasad ataupun apapun yang tertinggal. Setelah Tara lenyap, keadaan menjadi tentram dan damai kembali. Bencana besar sudah terhenti, matahari berkilau kembali disertai dengan puluhan pelangi yang membuat langit alam kabut menjadi indah. "Setelah Ratu Tara pergi, sekarang Putri Roshni harus diangkat sebagai Ratu oleh Maharaja Dimas." Ucap Shalaka, sebari menghapus air mata dari pipinya sendiri. "B-Baiklah ..." Jawab Dimas yang masih sedih. Dimas bangkit, lalu memejamkan matanya. Seketika Dimas berubah menjadi seorang raja dengan pakaian serba putih ala maharaja sebuah kerajaan. "Rosh, apa kamu siap?" Tanya sang Ayah. Roshni menghirup napas dengan berat. "Bismillah ... siap, Yah." Jawab Roshni, penuh dengan keyakinan pada dirinya sendiri. "Baiklah, sekarang kita lakukan ritualnya." Dimas. "Shalaka, siapkan semuanya!" "Iya, Maharaja." Di alam bumi, terlihat Pak Gohan memarahi Amanda, Athalla dan Amayra di tepian sungai belakang sekolah, Pak Gohan sudah sangat lelah untuk membuat geng kalajengking merah itu sadar. Berbagai cara sudah ia lakukan, tetapi mereka tetap saja keras kepala dan terus merundung Roshni. "Kalian memang tak tahu diri! Sudah saya beri satu kesempatan tapi kalian terus saya membuat Roshni seperti ini! Kalau Roshni tewas bagaimana hah? Bagaimana!" Jerit Pak Gohan, sebari memelototi Amanda dan kawan-kawannya. "Enggak punya hati mereka, Pak! Hiks-hiks-hiks, mereka sudah memukuli Roshni dengan sapu, lalu mereka menenggelamkan Roshni di sini!" Tangis Aisyah, pecah. Amanda, Athalla dan Amayra menunduk sebari menahan tawa mereka yang keji. "Kalian ketawa lagi hah! Awas ya, Bapak akan melaporkan kalian ke kantor polisi! Agar kalian menembus dosa dan membusuk dipenjara atas perbuatan kalian yang hina ini!" Pak Gohan, mengancam. "Tapi boong." Bisik Amayra, sebari tersenyum ke Amanda. "Hihihi." Amanda, tertawa kecil. "Dasar, anak jaman sekarang sudah tidak punya etika!" Pak Gohan, melotot. "Tega banget ya, suatu saat kalian bakalan dihukum atas perbuatan b***t kalian!" Sulis. Amanda melotot, dan menyerangi Sulis. "Masih berani lagi ya!" Sulis, tak terima. "Yasudahlah, kalian tahu apa yang akan saya perbuat nanti. Sekarang kalian pulang!!" Teriak Pak Gohan, dengan penuh emosi. "Iya, Pak." Ujar Amanda, bersemangat. Memang sudah gila mereka, dan benar-benar tak patut dicontoh! Akhlak mereka sudah hancur! Malam tiba, di aula terbuka istana alam kabut, Roshni si anak culun yang seragamnya basah kuyup dan penuh dengan lebam di tubuhnya, menaiki singgasana Ratu Kabut yang berwarna putih, dan berkilau permata. Di sana, Shalaka membacakan sebuah mantra-mantra, tiba-tiba dari tangannya muncul sebuah kendi yang berisi air s**u sapi. "Putri Roshni, pejamkan matamu." Suruh Shalaka. Roshni memejamkan matanya, seketika Shalaka mengguyur Roshni dengan kendi yang berisi air s**u tersebut dari atas kepala Roshni. Sangat aneh, meskipun kendi itu terbilang kecil, tapi dari kendi itu terus keluar s**u yang sangat banyak sampai membuat Roshni basah kuyup akan s**u. Saat itu tiba-tiba ada kabut asap yang sangat tebal meliputi Roshni, lalu diakhiri dengan petir yang menyambar Roshni dengan cukup keras. DAAAR! Namun, Roshni tidak apa-apa, Roshni malah menjadi seorang ratu kabut sesungguhnya. Roshni telah berubah! Berubah total! Sekarang ia menjadi cantik dengan rambut terurai, kulitnya putih dan mulus, wajahnya juga berubah menjadi lebih cantik dibandingkan sebelumnya, dia bukan lagi anak culun yang selalu ditindas, ia juga bukan lagi seorang remaja yang lemah dan penakut, Roshni sekarang sudah menjadi seorang ratu yang penuh dengan kekuatan, ia memakai gaun berwarna putih yang menjadi kebesaran alam kabut. Di sana ada Dimas, Dimas membawa sebuah mahkota ratu lalu dipakaikan kepada Roshni, tiba-tiba saja tangan Roshni mengeluarkan cahaya putih yang membentuk sebuah tongkat berkepala bintang, lama-kelamaan cahaya itu hilang dan tongkat tersebut bisa terlihat dengan kepala mata sendiri. Tongkat itu ternyata tongkat yang dimiliki Tara, yang diberikan secara turun-temurun dari generasi ke generasi, tongkat itu bernama tongkat kohra jaadu, yang artinya tongkat yang berisi kekuatan kabut. Tongkat kohra jaadu memiliki kekuaran yang dahsyat, tongkat ini bisa membuat bencana seperti tsunami, gunung meletus dan banjir selain itu tongkat ini mampu menghancurkan jin jahat, manusia, bahkan istana megah seperti alam kabut, lalu masih banyak kemampuan yang ada di dalam tongkat sakti mandraguna ini. "Dengan resmi, di sini saya menyatakan bahwa Roshni Virgianisa resmi menjadi ratu alam kabut yang baru!" Ujar Dimas, ke seluruh rakyat alam kabut yang hadir di aula tersebut. Suara terompet kerang berbunyi, pertanda bahwa Roshni sudah diangkat menjadi seorang Ratu Kabut. Prok! Prok! Prok! Prok! Rakyat alam kabut gembira dan memberikan tepukan tangan yang meriah untuk Roshni, saat itu juga hujan bunga mawar terjadi di alam kabut, memenuhi aula pertemuan tersebut. "Hidup Ratu Roshni!" "Hidup!" "Hidup Ratu Roshni!" "Hidup!" "Hidup Ratu Roshni!" "Hidup!" "Hidup Ratu Roshni!" "Hidup!" Alangkah bahagianya Roshni karena dirinya mendapatkan haknya sekarang, ternyata kesabarannya berbuahkan hasil yang sangat mengubah kehidupannya sampai seperti ini. Di dalam hatinya, Roshni berjanji untuk menjaga alam kabut ini dengan sebaik mungkin. Ia juga akan membuat alam kabut lebih tentram dan damai dibandingkan sebelumnya. Sementara itu, di pesantren Aisyah, setelah pengajian kitab kuning di kelas, tepat pukul 22.00 Aisyah pergi menemui sang Ibu yang berada di kantornya, di sana pula ada beberapa ustadzah yang telah usai mengajar. Kehidupan di pesantren memang seperti ini, pagi sampai malam menuntut ilmu, dan siangnya baru bisa beristirahat dengan tenang. "Assalamualaikum." Salam Aisyah, saat masuk ke dalam kantor. "Waalaikumsalam, Syah. Ayo masuk aja, Syah." Aisyah masuk ke dalam, ia duduk di samping Ibu Nyai Nur Azizah. Di sana Aisyah menceritakan kejadian yang menimpa sahabatnya yaitu Roshni di sekolah tadi, Aisyah meminta kepada sang Ibu untuk mengadakan doa bersama demi keselamatan Roshni. "Astaghfirullahaladzim, kasihan Roshni, seharusnya kamu menghentikan mereka bertiga sebelum Roshni tenggelam, kamu kan punya kekuatan, Syah." "Iya, Bu, maafin Aisyah. Waktu itu Aisyah bingung karena sangking keselnya sama mereka bertiga." "Ya ampun, Syah. Lain kali kamu jangan teledor kaya begini, karena ini kan masalah yang serius. Ya sudah, besok pagi setelah sholat shubuh kita ganti jadwal tahfidz menjadi doa bersama untuk Roshni." "Makasih ya, Bu. Iya, Bu, Aisyah enggak bakalan teledor lagi." "Syah, mendingan lapor polisi. Kalau sama guru dan orang tua, orang seperti mereka bertiga itu tidak akan jera, mereka harus diberi hukuman supaya mereka jera, atau mereka ajak ke pesantren kita, kita semua didik mereka menjadi lebih baik." Meninggalkan pesantren Ar-Rahman, sekarang di ruang bawah tanah istana alam kabut terjadi kegaduhan. Nenek Ajeng marah kepada Saloni karena Saloni tidak kunjung membawa sisa batu permata sebelum Roshni diangkat menjadi ratunya alam kabut. "Payah kau, Saloni! Bisa-bisanya kau tidak bisa memenuhi ke 7 batu permataku sebelum si anak culun itu menjadi ratu! Arghh!" Kesal Nenek Ajeng, di dalam kuburannya. "Maafkan aku, Nek. Aku tidak bisa mendapatkannya dalam waktu yang sesingkat ini, tetapi aku janji, Nek, sebelum bulan yang suci itu datang, aku telah membawa sisa batu permatanya." Ujar Saloni, meminta maaf. "Argh! Jangan banyak omong kau, Saloni! Sekarang kau harus mencarinya, dan kau baru boleh datang kemari jika kau sudah mendapatkannya!!" Bentak Nenek Ajeng. "Jangan sampai pemikiran si Roshni dewasa! Jika itu terjadi, maka akan sangat sulit mempengaruhinya, ditambah kita akan sulit membangkitkan sisi kejahatannya!" "Ayo, cari sekarang!!" "I-Iya, Nek." Dug! Dug! Dug! Saloni pergi, terlihat dia berjalan dengan meggunakan kaki kuda yang mengerikan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN