Roshni masuk ke ruang guru, di sana banyak guru yang berkumpul, mereka ingin tahu bagaimana bisa Roshni kembali. Roshni menceritakan segalanya di sana, ia berkata jika dirinya bisa ke sana karena Roshni diam-diam tenggelam, lalu kabur tanpa sepengetahuan siapapun. Roshni berkata, sebenarnya dirinya bisa berenang, tetapi ia rahasiakan kepada Amanda, Athalla dan Amayra. Lalu tentang penampilannya yang kini berubah, alasannya hanya iseng saja ingin mencoba hal baru.
"Rosh, berubah itu enggak masalah, malahan bagus, tapi kalau kaya begini ya kurang mengenakan. Udah rambut disemir terus dilayer, mana kamu pake make up lagi. Udahlah, Rosh, yang biasa aja." Ujar Bu Nani, menyayangkan perubahan Roshni.
"Oh, iya, Bu, maaf. Besok saya rapihkan rambut saya, saya janji, Bu."
"Ya sudah, kalau Ibu liat kamu masih kaya begini, terpaksa Ibu berikan sanksi ke kamu, Rosh." Ujarnya.
"Hehe, Iya, Bu."
"Rosh, kamu harus pandai-pandai menjaga dirimu sendiri, karena dunia ini keras, Nak. Kalau kamu lemah, bisa saja orang-orang akan langsung berani melakukan apapun ke kamu, contohnya kaya kejadian kemarin. Lakukan perlawanan, Rosh, jangan terus diam di situasi yang sudah keterlaluan seperti itu, karena itu tidak ada gunanya."
"Iya, Pak. Mulai sekarang, Rosh tidak akan diam lagi."
Di dalam kelas, semua siswa dan siswi di sana membicarakan tentang kemunculan Roshni, terutama geng kalajengking merah. Amayra dan Athalla sangat khawatir jika Roshni akan membalas dendam, lalu mereka berdua mengira bahwa yang muncul adalah arwah Roshni.
"Arwah? Kagak mungkinlah!" Celetuk Amanda, tak percaya.
"Kagak mungkin gimana? Lah orang dia muncul pas ada kabut tebal kaya gitu!" Amayra.
"Halah, cepu lu! Jangan percaya hal-hal mitos!"
"Da, coba deh pikir nih! Si Roshni udah berubah sekarang, dia udah kagak culun, dia udah jadi berani sekarang, terus dia dateng sehabis kita habisin di sungai belakang sekolah! Aneh kagak? Pikiran gue mah udah fiks, kalau yang datang itu arwahnya si Roshni yang mau balas dendam!" Teori Athalla.
"Iya lho, Da! Takutnya si Roshni balas dendam ke kita!" Amayra, gelisah.
"Aduh! Aduh! Kalian berdua cemen amat sih! Kalo si Roshni balas dendam, auto kita hajar dong jangan diem!" Sentak Amanda, tak takut.
"Tapi kan, Da, si Roshni itu bukan anak culun kaya dulu lagi! Dia udah berubah!" Athalla, bersihkeras menjelaskan semuanya.
"Berubah? Ah! Mau dia berubah kek, mau dia joget-joget kek, gue kagak peduli! Meski dia berubah, kita kan kagak, kita tetap menjadi geng yang paling ditakuti satu sekolah! Kagak ada yang bisa nandingin kita di sekolah ini! Kakak kelas, adek kelas pada tunduk. Udah, diem kalian!" Amanda.
Brakkk!
Seorang remaja perempuan memukul meja mereka.
Dia adalah Roshni!
"Kesombongan bisa menghancurkan seseorang!!" Ucapnya, sebari melotot kepada Amanda, Athalla dan Amayra.
"Astoge, ini anak minta dihajar!" Amanda menarik rambut Roshni dengan sangat amat keras, para siswi yang melihatnya langsung berteriak histeris.
"Amayra, Athalla bantu gue! Bantu!!" Teriak Amanda.
"Iya, Da!"
Mereka berdua ikut menarik rambut Roshni, di sana Amayra juga sempat memukul-mukuli Roshni dengan tangannya. Namun, Roshni tak bereaksi apapun, ia tak merasakan kesakitan, ataupun berteriak.
"Awas ya lo, Roshni, berani-beraninya lo balik lagi! Arghhh! Kalo lo balik lagi, gue bakalan habisin lo lagi, dan seterusnya bakalan gitu! Atau gue juga bakalan hajar lo habis-habisan!" Bentak Amanda, sebari menarik-narik rambut Roshni.
"Perlu dihajar ini anak!"
"Gue bukan Roshni yang dulu!" Ucap Roshni, pelan.
Tiba-tiba Roshni menganga, dan dari mulutnya keluar kabut asap yang tebal yang membuat Amanda, Athalla dan Amayra terpental ke tembok dengan keras.
DAAAG!
"Aaaahhhh!!!" Teriak mereka bertiga, kesakitan. Punggung mereka seakan-akan remuk karena ini.
Para siswa-siswi kelas Roshni kaget, apalagi Aisyah dan Sulis.
"Ini, Roshni punya kekuatan, Syah!" Sulis, kaget.
"Iya, Lis, tapi kok bisa!" Aisyah.
Tangan Roshni mengarah ke meja dan kursi siswa, lalu mengeluarkan kabut asap, tiba-tiba saja enam meja dan kursi itu terbang dan akan mejatuhi Amanda, Amayra dan Athalla.
"Astaghfirullahaladzim! Jangan, Roshni! Jangann! Nyebut, Rosh! Nyebut!" Jerit Aisyah, untuk menyadarkan Roshni.
Geng kalajengking merah yang sudah akan terkena meja, dan kursi, tidak bisa berdiri, mereka seakan-akan lumpuh, entah karena apa.
"Dasar lo, Roshni! Enggak waras, masuk ke SRJ sono lo hah!" Cerca Amanda.
"Da, lo gila kali ya! Si Roshni marah besar, bisa-bisa lo kena meja sama kursi itu!" Helen yang ada di belakang Roshni.
"Memang, mereka manusia kagak tau diri!" Roshni, penuh kemurkaan.
"Heuhhh!"
Meja dan kursi yang dikendalikan Roshni terpental menjatuhi Amanda, Athalla dan Amayra, untung saja yang terkena hanya bagian punggung! Badan mereka seakan-akan remuk karena amarah Roshni.
"Ya Allah!" Aisyah, yang tak mengira bahwa Roshni membalas dendam.
"Aduh! S-Sakit!" Keluh Amanda, yang terbaring di lantai.
Sangking sakitnya, Amayra menangis bagaikan anak kecil. Beberapa siswa laki-laki menertawakan Amayra yang menangis seperti itu.
"Hahaha! Hahaha!"
"Awas lo, Roshni!" Amanda.
"Mau ngapain lo hah! Mau hajar gue lagi? Mau bully gue lagi? Atau mau habisin gue lagi?"
Roshni mendekati wajah Amanda, lalu ia mencengkram wajah Amanda.
"Inget ya, sekarang gue bisa ngelakuin apa aja. Gue bukan lagi perempuan culun yang bisa lo berbudak!"
Dari mata Roshni keluar kabut, lalu kabut itu memutari kepala Amanda, seketika rambut Amanda yang tadinya rapih, menjadi berantakan bagaikan disetrum listrik.
"Hahahahaha! Hahaha! Hahaha!"
"Ini hari pembalasan dendam gue yang pertama! Ingat ya, Manda!"
"Rosh, udah! Udah! Apa gunanya balas dendam? Sekarang kamu lupain aja semua itu." Cakap Aisyah.
"Jangan banyak omong lu, Aisyah! Gue masih hormat ke lu, karena lu baik, tapi karena kemarin lu pada kagak nolongin gue, gue udah kagak anggap lu sahabat lagi!"
"Astaghfirullah!" Aisyah, tak menyangka.
"Ya ampun, kesambet apa kamu, Roshni?" Tanya Sulis.
"Kesambet setan Amanda sampah itu! Kalo dia kagak ngebully gue, gue kagak akan kaya gini! Argh!"
Roshni mengarahkan telapak tangannya lagi, meja dan kursi yang ada di kelas berantakan kemana-mana, membuat siswa-siswi sekelas ketakutan dengan tingkahnya.
"Inalilahiwainalilahirojiun! Ada apa ini?"
Pak Aqil, selaku guru seni budaya datang untuk mengajar, ia shock melihat ini semua.
"Ini karena Roshni, Pak! Hiks-hiks!" Keluh Athalla.
"Bohong, Pak! Dia sendiri yang memulai!" Ujar Roshni.
"Aduh, yasudah sekarang bereskan kelasnya!"
Kelas dibereskan, lalu beberapa jam kemudian pelajaran dimulai. Namun, sebelum itu, Pak Aqil memberitahukan bahwa ada murid baru yang datang kr kelas mereka.
"Nor, ayo masuk." Kata Pak Aqil, dari dalam kelas.
Tap!
Tap!
Tap!
Seorang remaja cantik masuk ke dalam kelas, dia adalah Ashnoor!
"Lho, dia! Dia kan si anak songong!" Celetuk Amayra.
"Amayra, jaga sopan santun! Jika kamu mau dihargai, maka hargailah orang lain!" Tegur Pak Aqil
"I-Iya, Pak." Amayra, menunduk.
"Hadeh, kenapa dia masuk ke kelas ini sih?" Geram Amanda, di dalam batinnya.
"Silahkan, Nor, perkenalkan dirimu."
"Iya, Pak. Terimakasih."
"Selamat pagi! Nama saya Ashnoor Zubair Ahmad, saya pindahan dari SMAN 1 Garuda, semoga kita bisa berteman baik."
"Hai, Ashnoor!" Sapa Roshni.
"Hai!"
"Untuk sementara kamu duduk di belakang dulu ya, Nor. Nanti akan dikondisikan oleh wali kelasnya."
"Baik, Pak."