Lari Berdarah

1388 Kata
Keesokan harinya, Athalla dan kawan-kawannya terbangun dari pingsannya. Mereka bertiga tahu-tahu berada di dalam kamar Athalla yang megah, dengan keadaan basah kuyup. Kamar Athalla terlihat berantakan, dan juga berair, semuanya basah bagaikan ada tsunami yang menyerbu kamarnya. Athalla bangkit, tapi rasanya badannya lengket sekali, penuh dengan keringat yang kering. Mereka juga merasakan pusing, bagaikan telah tidur sangat lama. Di sana Athalla mengingat-ingat apa yang terjadi sebenarnya. Athalla ingat, ini semua karena Roshni! Athalla panik, ia takut jika keluarganya ikut terkena akibatnya gara-gara ulah Athalla seorang. Cepat-cepat Athalla keluar dari kamar, sementara Amanda dan Amayra ia suruh mandi untuk pergi ke sekolah. Athalla memeriksa keadaan di dalam rumahnya, ternyata rumahnya tidak hancur sama sekali, barang-barangpun masih utuh. Di sana ia bertemu adiknya yang bernama Ira, Ira masih kecil, dirinya masih kelas 5 Sekolah Dasar. Tampak, Ira akan berangkat ke sekolah, dia sudah bersiap dan telah memakai seragam merah-putih. "Lho, Kakak udah bangun?" "Iyalah, Dek. Memangnya kenapa? Kakak kagak boleh bangun gitu?" "Bukan gitu, Kak. Dari hari sabtu, Kakak ini tidur terus di kamar sama teman-teman Kakak yang namanya Amanda dan Amayra. Kita bangunin tapi malah enggak bisa." Jelas Ira. "Hah? B-Berarti udah 2 hari kita enggak bangun?" Tanya Athalla, memastikan. "Iya, Kak. Kami sampe kaget, untung dokter datang untuk meriksa keadaan Kakak dan yang lain, jadi Ibu enggak khawatir lagi sama kalian bertiga." "Yaudahdeh, Kak, aku berangkat dulu. Bye." "Eh, woy! Kakak belum selesai!" Teriak Athalla. "Udah terlambat, Kak!" Balas Ira, dari kejauhan. Karena panik, cepat-cepat Athalla kembali ke kamar, menceritakan semua ini kepada Amanda dan Amayra yang sudah memakai seragam putih-abu. "Pantesan aja sekarang senin!" "Iya, May. Berarti semua yang kita alamin ... cuman mimpi?" Amanda. "Kayanya gitu, Da." "Pasti ini semua kerjaannya si Roshni!" Tambah Athalla, kesal. "Iya, siapa lagi kalo bukan dia!" Amanda. "Hmm, kenapa Roshni punya kekuatan sebesar ini? Setau gue kalo urusannya terkait mimpi, biasanya ilmu orang itu tinggi, dan harus ngelakuin banyak ritual dalam waktu berminggu-minggu. Tapi Roshni, dia dalam satu hari, udah punya kekuatan kaya gitu!" Heran Athalla. "Gue juga heran, Thal. Kalo mati, kagak mungkin. Tapi aneh begitu, heran deh." Amanda, menggaruk-garuk kepalanya karena kebingungan. "Kita positive thinking aja. Kayanya emang kita yang ngebo." Amayra. Bug! Satu bantal mendarat di wajah Amayra. "Gue gini-gini juga, tapi kagak pernah tidur sampe dua hari!" Amanda, kesal. "Iya, itu namanya kagak normal!" Athalla, mendukung Amanda. "Yaelah." "Aduh! Udahdeh, daripada kita bingung kagak karuan, sekarang kita berangkat ke sekolah aja. Nanti masalah ini, kita cari tau di sekolah." Ajak Amanda. "Ayo!" Mereka bertiga sampai di sekolah, seperti biasa hari senin akan ada upacara bendera. Setelah upacara bendera selesai, mereka masuk ke kelas masing-masing. Siang harinya, kelas Roshni terdapat mata pelajaran penjas, di mana mewajibkan para siswa dan siswi memakai seragam olahraga lalu bergegas ke lapangan bola voli. Terlihat para siswi perempuan memakai seragam lengan panjang, bawahannya juga panjang. Sementara itu, siswa laki-laki memakai seragam lengan pendek, lalu bawahannya juga pendek. Tepat jam 10.00, mereka semua berdiri di lapangan, panas matahari membakar kulit mereka, hingga keringat muncul dari pelipis kepala masing-masing. "Baik, untuk mengisi pertemuan hari ini, kalian akan melaksanakan praktek lari jarak jauh. Jadi kalian akan berlari dari sekolah, sampai ke area pasar ya, terus balik lagi ke sekolah lewat jalan srikandi. Bapak harap, kalian bisa melakukannya. Kalau kalian lelah, kalian bisa duduk dulu, atau berjalan saja. Nanti jangan lupa jika sudah menyelesaikan larinya, kalian kembali lagi ke lapangan voli untuk melakukan presensi." "Siap, Pak!" Kelas Roshni berlari dari sekolah. Di setiap pelajaran penjas atau yang bisa dikenal dengan nama pelajaran olahraga, Roshni selalu saja menjadi orang yang paling lambat dan lelet dibandingkan temannya yang lain. Dalam akademik, Roshni jagonya. Akan tetapi di pelajaran olaharaga, dirinya selalu paling akhir. Sehingga kelemahannya ini, sering dijadikan bahan rundungan Amanda dan kawan-kawannya. Sekarang Roshni berlari bersama Ashnoor, Roshni sempat diajak Aisyah dan Sulis, namun Roshni malah menolaknya mentah-mentah. Terlihat Roshni dan Ashnoor berlari dengan sangat cepat melebihi orang lain, Amanda pun sampai tersusul oleh mereka berdua. Di tengah mereka berlari, mereka merasakan lelah. Akhirnya mereka berdua berjalan santai sejenak untuk istirahat. "Oh iya, Rosh ... hari inikan hari balas dendam ke-4 lo, lo punya rencana kagak?" Tanya Ashnoor. "Punya! Gue bakalan buat Amanda masuk ke rumah sakit." "Weh, gila. Mau lo apain tuh si Amanda?" "Gue bakalan buat kakinya berdarah di tanjakan mekar arum." "Hah? Tanjakan itu kan curam banget, apa lo kagak takut si Amanda celaka?" "Kagak, karena gue udah pastiin serangan gue bakalan buat kakinya berdarah aja. Hmm, meski kepalanya kena juga." "Tapi dia kagak sampe lo habisin kan?" "Enggaklah, lagian gue juga bisa nyembuhin orang yang kena serangan gue." "Ah, syukur deh." "Kalo di hari ke-5 lo mau ngapain, Rosh?" "Itu pembalasan dendam gue yang terakhir, berarti itu puncaknya. Gue bakalan buat mereka bertiga ngerasain, apa yang gue rasain dulu. Lo.liat aja nanti." "BTW, sekarang kenapa sih harus di jam olaharga gini balesnya? Kenapa kagak di kelas aja?" "Hadeh, lo kagak tau sih kalo dulu gue itu pernah dibully habis-habisan di jam olahraga kaya gini! Dulu, gue pernah disiram air teh sama mereka sampe gue dateng ke sekolah malah basah kuyup. Itu malu banget dah!" "Etdah!" "Sebenernya masih banyak, ada cacian, makian sampe hinaan yang harus gue hadapi karena mereka. Eh, jangan bahas mereka lagilah! Mood gue jadi hancur!" "Oh, iyadeh, Rosh." "Eh, wait, Rosh!" Ashnoor menyuruh Amanda berhenti. "Ada apa?" "Ada sesuatu di rambut lo nih." Ashnoor membawa sebuah daun kering yang sudah berwarna cokelat dari rambut Roshni. "Oh, thanks ya." "Iya, Rosh." "Hmm, Nor, bisa lo cabut dari sini? Gue bakalan ngelakuin balas dendam gue ke Amanda." "Boleh, Rosh. Gue cabut ya." Roshni duduk di warung, ia menunggu kedatangan Amanda di sana. Tak beberapa lama kemudian, Amanda, Athalla dan Amayra datang ke sana, melewati Roshni yang sedamg duduk. Tiba-tiba, Roshni meniupkan sebuah kabut ke arah Amanda, seketika mata Roshni dan Amanda menjadi putih. "Amanda, ikutin semua perintah gue." Roshni ternyata dikendalikan oleh Roshni dari kejauhan. "Berhenti." Amanda berhenti. "Amanda, kemarilah, tapi jangan mengajak kedua bocah ingusan itu. Buat alasan, supaya mereka kagak ngikutin lo." Mata Amanda kembali normal. "Eh, Girls, gue mau ke rumah bibi gue dulu ya, gue lupa kalo gue harus bawa uang bulanan." "Oh, yaudah. Mau kita temenin kagak?" Tanya Amayra. "Kagaklah." "Hmm, oke deh. Kita duluan ya." Amanda berjalan, dan sampai ke warung yang Roshni singgahi di sana. "Amanda, duduk di samping gue." Amanda menurutinya. "Sekarang, saatnya!" Dari mulut Roshni keluar kabut asap yang sangat tebal, sampai menutupi segalanya. Barangsiapa yang menghirup kabut asap itu, mereka akan langsung pingsan dan terjatuh. Hal ini terbukti dengan banyak sekali warga dan siswa-siswi yang jatuh pingsan di sana dalam waktu sekejap. Sekarang Roshni melepaskan kendalinya dari Amanda, dan membuat Amanda tak pingsan dengan kabut asap yang ia buat, seketika Amanda kaget melihat kondisi di sekitarnya dan melihat Roshni yang matanya putih, berkabut. "R-R-Roshni?" "Ya! Orang yang dulu lo hina lemah di sini." "Roshni, gue mau lanjutin larinya." "Jangan!" "Sini lo ikut gue!" Roshni menarik tangan Amanda dengan sangat amat keras, sampai pergelangan tangan Amanda memerah. Roshni menarik Amanda ke tanjakan yang ia maksudkan tadi. "Ampun, Roshni! Ampun! Gue kagak akan bully lo lagi, hiks-hiks-hiks ... gue minta maaf, Rosh! Gue minta maaf ... ampunn!" Ucap Amanda, menangis di hadapan Roshni. Plakk! Satu tamparan keras mendarat di pipi Amanda. "Minta maaf gampang! Bahkan seorang b***t bisa meminta maaf! Tapi ingat, meskipun lo minta maaf, perilaku lo dulu ke gue bakalan gue inget seumur hidup! Dan untuk ngebales itu semua, gue bakalan buat lo sengsara, Amanda!" Jerit Roshni. Roshni berubah dengan wujud yang berbeda dengan sebelumnya, sekarang wajah Roshni menjadi berborok. Ternyata Roshni menjadi Bhaisasuri! Terlihat ia mempunyai empat kaki! Tetapi bagaimana bisa? "Hah?" Amanda kaget, ia tak sangka jika Roshni adalah makhluk siluman seperti itu. "Amanda, lo kagak akan bisa selamat!" "J-Jangan, Roshni! Jangan!" Amanda, yang sudah mulai takut dengan Roshni. "Gue seruduk lo, sampe kaki lo berdarah! Hahahahaha!" Tawa Roshni. Sreg! Sreg! Kaki kuda Roshni mulai bersiap untuk menyeruduk Amanda. "Satu! Dua! Tiga!" Dugg!! Roshni berlari dengan empat kaki kudanya, lalu ia menyeruduk Amanda dengan tanduk tajamnya, sampai-sampai Amanda terlempar lalu terguling-guling dari tanjakan. Lutut kaki Amanda berdarah, dan keningnya berdarah juga karena terhentak batu. Amanda seketika tak sadar setelahnya. "Mampus lo, Manda! Siapa suruh dulu lo bully gue terus-terusan di sekolah tanpa ampun!" Roshni tersenyum, "tunggu teror gue di rumah sakit nanti! Besok adalah puncak pembalasan, jadi siap-siapa aja, Manda! Huahahaha!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN