Red Bat Nation Book

1021 Kata
"Aku benar-benar sungguh tidak menyangka remaja seperti Roshni bisa menjalankan semua tanggungjawab yang sebesar ini ..." "Ah, maafkan aku ya, Roshni, aku tadi sempat tertawa kecil ketika mendengar bahwa kamu adalah seorang ratu kabut yang baru, aku tidak tahu kalau itu benar," tak enak, Ratu Anjani meminta maaf kepada Roshni secara langsung. "Iya, tidak apa-apa, Ratu." Roshni, tersipu malu. "Hehe, yasudah sekarang kalian lanjutkan sekolah saja dulu di alam manusia ya. Ratu tidak mau kalau sampai sekolah kalian terhambat karena hanya menyambut kedatanganku di alam kabut," "Kami pulang cepat, Ratu. Karena para guru sedang melakukan rapat," timpal Roshni. "Oh, baiklah kalau begitu. Aku akan istirahat dulu di kamar ya, aku sangat lelah ..." "Iya, silahkan, Ratu. Mari saya antar," ujar Syera, yang ingin mengantarkan Ratu Anjani ke kamar khusus yang sudah disediakan. Ratu Anjani pergi bersama Syera. Shalaka seketika terdiam sejenak, ia melamun. "Bi, Bibi kenapa?" tanya Roshni, memegang pundak Shalaka. "Eh, kaget!" Shalaka langsung kaget ketika Roshni memegang pundaknya. "Bibi kenapa, Bi?" "Tidak, Rosh. Bibi hanya heran, sikap dan tingkah perilaku dari ratu Anjani sangat berbeda. Sekarang sepertinya beliau sangat suka meremehkan orang, contohnya meremehkan dirimu, Rosh." "Andai aku tidak menberikan penjelasan soal kejadian itu, dia akan tertawa terbahak-bahak karena ia tak tahan lagi ingin tertawa ..." "Oh, yang itu, Bi. Udah nggak apa-apa, Bi. Lagian Roshni nggak masukin itu ke hati, Roshni malah seneng bercanda sama ratu Anjani," "Itu bukan bercanda, Rosh. Itu mengejek ..." "Apa mungkin Bibi saja yang kurang candaan ya? Jadi terlalu kaku seperti ini ..." tebak Shalaka. "Nah, iya, Bi. Biasanya orang kalo kurang bercanda jadi kaku, itu mungkin yang dialami Bi Shalaka sekarang," ujar Helen. "Benar juga, hmm ... Bibi mau keluar dulu ya, kalian kalau mau lihat-lihat alam kabut dan kerajaannya silahkan saja, tapi jangan difoto ya ..." "Siap, Bi!" Ashnoor. Teman-teman Roshni sangat akrab sekaligus dekat dengan Shalaka, mereka bahkan menyebut Shalaka dengan sebutan bibi. Walaupun mereka satu sama lain memiliki banyak berbeda tapi berbedaan tak membuat jarak persaudaraan di antara mereka semua. Setelah Shalaka pergi dan penyambutan ratu Anjani berakhir, Roshni membawa teman-temannya untuk mengelilingi istana alam kabut yang kini sudah sangat berbeda dari yang sebelumnya. Semuanya menjadi indah sama seperti apa yang mereka lihat di awal gerbang kerajaan. Amanda, Amayra dan Athalla diam-diam meninggalkan rombongan, mereka masuk ke dalam gudang yang di dalamnya ada sebuah jalan menuju penjara bawah tanah, yang dulunya ada pemakaman nenek Ajeng. Mereka bertiga sangat suka dengan hal-hal mistis, tapi di saat mereka melihat yang asli, mereka sangat naif dan begitu ketakutan setengah mati. Mereka bertiga sampai di penjara bawah tanah, seperti dulu, penjara bawah tanah ini banyak sekali jin-jin jahat dan siluman jahat yang dikurung sehingga menimbulkan suara-suara mengerikan yang sangat beragam. Mereka mendengar suara kuntilanak yang menangis meminta tolong, mendengar suara lelaki yang menangis juga meminta tahannnya dubuka, mendengar suara nenek-nenek, suara raungan dan lain sebagainya. Penjara bawah tanah itu benar-benar sangat mengerikan. "Da, udah deh, kita pergi aja dari sini. Kita berdua takut lho, takutnya ada yang nempel. Kalo sampe rumah kita kenapa-kenapa gegara ketempelan gimana? Kan ruyam jadinya, Da!" Amayra, seperti biasa, Amayra selalu bergemetar, mungkin perlahan ia akan pipis di celana lagi seperti dulu saat di sekolah. "Aduh, jangan lebay deh lo, May! Ketimbang denger suara yang serem-serem aja udah kaya begini, apalagi kalo lo ngeliat langsung wajah-wajah mereka semua, pasti auto pingsan ..." ledek Amanda pada Amayra yang penakut. "Thal, lo jangan ikut-ikutan takut!" "I-iya dah, Da ..." Athalla, gugup. "Da, emangnya kita mau ngapain sih pake kesini segala?" tanya Athalla. "Gue penasaran doang, Thal. Gue pengen liat-liat juga, siapa tau kita nemuin sesuatu yang bisa dibawa pulang ..." "Jangan ngawur, Da! Kalo kita kenapa-kenapa gimana? Lo mau tanggungjawab?" "Iya-iya, gue yang tanggungjawab, huh!" kesal Amanda kepada teman-temannya yang sedikit penakut. Langkah Amanda mendadak terhenti, ketika ia lihat sebuah ruangan dengan ukiran kelelawar di pintunya. Penasaran, tanpa berkata apapun Amanda masuk ke dalam ruangan. Di dalam ruangan, Amanda melihat sebuah figura yang menggambarkan seorang lelaki gagah yang memakai baju berwarna merah seperti drakula, berkulit seperti mayat, memiliki dua tanduk di keningnya, telinganya seperti kelelawar dan dari tulang punggungnya ada dua sayap kelelawar. Terlihat juga rambutnya yang begitu panjang, ia lelaki, ia sangat menyeramkan! "'Haahh!" Amanda mundur, takut dengan figura itu. "OMG, kenapa, Da?" tanya Amayra, panik. "Da, lo liat apa dah?" Athalla. "Ituuu!" Amanda menunjuk ke arah figura yang baru saja ia lihat tadi. "Buseeettt!" Amayra dan Athalla kaget sama seperti dengan Amanda, keringat dingin mereka langsung mengucur karena ketakutan. "Ayo, Da! Kita balik aja! Gue takut, takuttt! Gue udah nggak tahan lagi lama-lama di sini! Ayo, Da!" Amayra terus membujuk Amanda untuk pergi dari penjara bawah tanah, tetapi Amanda sangat penasaran dengan ruangan yang terpajang figura raja kelalwar tersebut. "Kalian berdua kalo mau pergi ya pergi aja, gue masih penasaran." Timpal Amanda, mulai tenang. "Tapi ..." "Udah, jangan cemas, gue bisa jaga diri kok ..." Amayra menatap Athalla, Athalla menganggukkan kepalanya pertanda ia akan pergi, begitupula Amayra. "Beneran lo bisa jaga diri, Da?" Athalla, memastikan. "Iya, udah-udah, sana!" suruh Amanda. Mereka berdua yang sudah tak tahan di sana pun pergi, meninggalkan Amanda sendirian di dalam penjara bawah tanah. Amanda sedikit takut ketika Amayra dan Athalla meninggalkannya ke luar, tapi rasa penasarannya sangat menggebu-gebu sampai rasa takut yang ada di dalam hatinya menghilang begitu saja. Amanda melangkahkan kakinya, masuk ke dalam ruangan tadi, memerhatikan figura raja kelelawar yang sangat dipenuhi dengan debu dan sarang laba-laba. "Ini mungkin raja kelalwar ..." Amanda lihat ruangan itu begitu sempit bagaikan kamar mandi, saat masuk ke dalam sana ia merasakan sesak napas dan pengap. Saat sedang melihat-lihat ruangan, ia tak sengaja menemukan sebuah buku tebal di lantai yang kotor. Amanda duduk, berniat mengambil buku tersebut untuk ia baca. Amanda mengambilnya dan membukanya. Di dalam halaman paling pertama, Amanda melihat sebuah judul, buku itu berjudul 'Sejarah Raja Kelelawar Marakshaas dan Bangsa Kelelawar'. "Kayanya ini menarik gue baca, gue bawa pulang aja deh!" Amanda memasukkan buku tersebut ke dalam tasnya, Amanda tak sabar untuk membaca buku itu di rumahnya nanti. Amanda pergi dari penjara bawah tanah, takut Roshni atau anggota kerajaan alam kabut tahu bahwa ia sudah mengambil buku sejarah tersebut dari dalam gudang tanpa izin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN