Balas Dendam Hari ke-2

1119 Kata
Aisyah dan Sulis pergi ke sekolah bersama-sama dengan menggunakan kaki, di perjalanan mereka berbincang-bincang bersama. Mereka berdua terdengar memperbincangkan tentang perubahan drastis Roshni. "Syah, aku rasa nih ya, Roshni bukan manusia lagi." Pikir Sulis. "Hah? Maksud kamu kaya cerita di film-film?" Tanya Aisyah. "Hehe, iya, Syah. Karena, aneh aja gitu kalau Roshni berubah banget kaya gini. Masa iya Roshni bisa hidup setelah masuk ke dalam sungai yang banyak ularnya itu, kan mustahil, apalagi kita enggak tau kapan Roshni keluar dari saja, iya enggak?" "Bener katamu, Lis, tapi allahualam aja ... kita doakan Roshni juga ya, Lis." "Iya, Syah. Hmm, kira-kira sekarang dia bakalan balas dendam lagi enggak ya ke geng kalajengking merah?" "Entah, Lis. Jangan su'udzon dulu, semoga aja Roshni enggak berbuat apapun lagi sekarang." "Aamiin." Di alam kabut, Shalaka dan Syera kebingungan akan Roshni yang tidak datang malam tadi. Seharusnya tengah malam, Roshni datang ke alam kabut untuk menghadiri beberapa pertemuan yang sangat penting. Di ruangan singgasana, Shalaka dan Syera terpaksa harus mengurus alam kabut tanpa Roshni di hari ini, jika tidak maka alam kabut akan kacau balau karena tak terurus. "Kita tunggu saja tiga hari lagi, kemungkinan Roshni sedang sibuk mengerjakan tugas sekolahnya di alam bumi." "Bu, apa Ibu tidak bisa menerawang Roshni lagi seperti kemarin?" "Tidak, Nak. Dia sudah menjadi ratu, sehingga Ibu tidak bisa menerawangnya, karena dia terlalu kuat dan ilmu Ibu tidak sebesar itu." "Hmm, apa aku cari saja, Bu?" "Jangan, Syer! Jangan!" "Alam bumi itu sangat berbahaya! Jangan kau ke sana!" "Tapi, Bu ... ini demi kebaikan alam kabut." "Syera bisa kok jaga diri, karena Syera punya beberapa kekuatan." "Hmmm, baiklah, Syera. Bawa dia kemari, tetapi dalam waktu satu minggu kau harus kembali." "Iya, Bu, Syera janji." "Yasudah, semoga berhasil." Hari ini, hari jum'at, pastinya mereka akan pulang cepat. Sekarang ada pelajaran PKWU di kelas mereka, Bu Tika selaku guru PKWU mereka, memberikan tugas membuat produk olahan makanan hewani, dan membagi siswa-siswi beberapa kelompok. Roshni berada di kelompok dua, dimana dalamnya terdapat Amanda, Athalla dan Amayra. Siang harinya, Amanda, Athalla dan Amayra bersyukur karena di hari ini, Roshni tak mengecohnya lagi. Sepulang sekolah, Amanda dan kawan-kawannya jajan ke kantin Bu Nunung. Amanda memesan nasi goreng dengan pedas level setan, Athalla memesan seblak ceker yang pedas, dan Amayra memesan bakso yang pedas juga. Memang, jaman sekarang rata-rata kaum remaja perempuan sangat menyukai makanan yang pedas-pedas, katanya makanan yang pedas bisa membuat perasaan ceria dan membaik dibandingkan dengan sebelumnya. Makanan mereka tersaji dengan cepat, begitulah Bu Nunung, Ibu kantin yang satu ini sangat sigap dan cepat melayani pembeli, dengan rasa yang enak pastinya. Amanda, Athalla dan Amayra juga memesan minuman. Amanda memesan jus lemon, Athalla memesan soda, dan Amayra memesan jus jeruk. Terlihat sekarang mereka bertiga sedang asyik menyantap makanan yang sudah tersaji di meja, mereka makan dengan sangat lahap. Di tengah asyiknya mereka makan makanan itu, tiba-tiba saja datang Roshni dan Ashnoor, mereka berdua memesan mie ayam super pedas dengan sambal yang menggunduk. Beberapa menit kemudian, pesanan mereka datang, dan mereka menyantap makanan tersebut. "Roshni jadi preman ya." Celetuk Athalla, berbisik. "Iya, udah kaya preman pasar aja dia. Tapi, memang cocok sih jadi preman pasar." Amanda. "Hooh, rasanya pengen deh gue bully dia lagi, bener-bener emosi banget gue." Kata Amayra. "Sama, tapi daripada kita diapa-apain, mending kita diem." Athalla, mencari jalan yang aman. "Iya, bener sih. Sekarang dia udah sakti, enggak tau kekuatan apa yang dia punya dan darimana." "Jangan-jangan nih ya, dia pergi ke dukun." Amayra, menduga-duga. "Hah?" "Iya, atau jangan-jangan sebenernya si Roshni itu udah mati." "Ya ampun, kagak mungkinlah, jelas-jelas kakinya nampak gitu kok, terus ada bayangannya juga." Athalla, berpikir dengan logika. "Bener, kagak mungkin si Roshni udah mati, kayanya dia main dukun aja deh." Amanda. "Hmm, mentang-mentang anak culun, eh malah sok-sokan main dukun, kayanya orang tuanya kagak peduli kali ya, hahaha. Anak terlantar dia, mendingan buang aja deh daripada ngurus anak kaya gitu." Sindir Amayra, kepada Roshni dengan keras. Roshni yang mendengarnya langsung mengepalkan tangannya, ia sangat marah mendengar semua itu. "Roshni, sekarang waktunya." Ujar Ashnoor. Roshni mengangguk. "Makan dululah, daripada liatin si tengil sok cantik, hahaha." Amayra, melanjutkan memakan bakso. Byuurrrr! Bakso pedas yang sedang dinikmati Amayra, kuah dan baksonya tiba-tiba mengguyur wajahnya, seketika Amayra keperihan dan kepanasan karena ini. "Aaaa! Mata gue! Mata guee! Panas! Pedes! Perih! Aaaa! Tolongg!" "Astoge, May!" Athalla, mencoba mengelap mata Amayra dengan tisu, akan tetapi ... Sret! Seblak Athalla yang super pedas malah melesat juga ke wajah Amayra. "Aaaaa! Tolonggg!!" Roshni dan Ashnoor melihat Amayra yang sedang sengsara menahan semua makanan pedas yang membuat matanya perih. "May, tunggu, May." Amanda mengambil botol air mineral yang ada di kulkas kantin, lalu mengguyur Amayra dengan air itu. Tapi sesudahnya, nasi goreng, dan dua mie ayam super pedas yang baru saja tadi dipesan melesat ke wajah Amayra, membuatnya semakin tak karuan. Amayra menjatuhkan kursi dan meja yang ada di sana, sampai semuanya pecah. Bu Nunung yang melihatnya panik, ia mengguyur Amayra dengan air juga, akan tetapi kuah bakso yang panas dari panci bakso malah melesat lagi dengan sendirinya, mengguyur Amayra sampai terhirup olehnya. "Astaghfirullahaladzimmm!" Bu Nunung, kaget. Lama kelamaan Amayra sempoyongan, akhirnya dia terjatuh dan pingsan di kantin dengan keadaan kepanasan, keperihan, dan kepedasan di seluruh tubuh dan wajahnya. Ini semua perbuatan Roshni, mata Roshni telah mengendalikan semuanya. "Amyraaa!!" Amanda berteriak, tak tega dengan kondisi Amayra yang seperti ini. "Kita bawa ke UKS aja, Da! Supaya Amayra bisa diobatin!" Ajak Athalla. "Iya, Thal. Ayo bantu gue, Thal!" Amanda, yang akan mengangkat Amayra. "Hahahaha! Hahahaha! Mampus!" Ledek Roshni. "Tega banget ya lo, Roshni!" "Tega? Gue cuman ngebales perbuatan keji kalian ke gue dulu, semasa gue masih culun!" Ungkapnya, dengan senyuman licik di wajahnya. "Iya, dia cuman ngebales!" "Idih, ini anak baru belagu amat, sok ikut campur!" Athalla, melotot. "Apa lo bilang?" Ashnoor, emosi. Ashnoor yang emosi itu langsung melempar wadah besar yang berisi sambal cabai hijau ke arah Amanda, seketika seragam Amanda penuh dengan sambal. "Seragam gue!!" "Kurang ngajar lo!" "Hahaha, syukur-syukur kagak gue siram wajah lo!" Karena takut, Amanda mengalah. Amanda dan Athalla sekarang membawa Amayra ke ruangan UKS untuk mengobatinya, di sana tak ada petugas PMR lagi karena PMR tidak ada jadwal latihan di hari jum'at. Mau tak mau, Amanda dan Athalla melakukan semuanya sendiri. Mereka berdua menginfus Amayra, dan mengelap wajah dan matanya dengan tisu. "Thal, bener-bener ya si Roshni, dia udah keterlaluan. Bisa-bisanya dia buat Amayra kaya gini." Ucap Amanda. "Iya, Da. Bener, dia pengen balas dendam ke kita." "Thal, jadi gimana ini? Kalo terus-terusan kaya gini, gue kagak sanggup." "Tenang, Da. Gue ada ide, kita buat rencana. Malam minggu, Roshni kan bakalan nginep di rumah gue untuk kerja kelompok pelajaran PKWU, kita bisa manfaatkan waktu ini untuk balas dendam balik ke dia!" "Balas dendamnya gimana, Thal?" "Liat aja nanti." Athalla, tersenyum.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN