Mahayudh - Pertempuran(2)

1168 Kata
"Kalau begitu bahaya! Kita harus segera ke alam kabut." Ucap Shourvori yang masih mengikuti mereka. "Tapi gimana caranya, Dok? Alam kabut itu kan alam jin, masa iya kita harus jadi jin dulu sebelum ke sana." Bi Yana, yang menduga-duga. "Tidak, saya tau jalan ke alam kabut dengan kondisi kita masih menjadi manusia." "Dimana itu, Dok?" Tanya Bi Yana, sangat khawatir. "Seperti jika kita masuk ke alam pisach yang harus memasuki portal terlebih dahulu, ada sebuah portal yang menghubungkan alam manusia dan alam kabut, portal itu ada di sungai belakang sekolah. Portal alam kabut ada di dasar terdalam sungai belakang sekolah, yang dipenuhi dengan ular-ular berbisa." Jelas Shourvori. "Hah! Berarti kita bisa tiada di sana?" Bi Yana, takut "Iya, kurang lebih seperti itu." "Inalilahiwainalilahirojiun." Bi Yana, yang semakin ketakutan. Tiba-tiba Bi Yana mendapatkan sebuah pengelihatan, ia melihat portal itu dengan jelas melalui pengelihatannya. "Kita harus rela menelan air sampai tubuh kita full terisi dengan air, dan kita harus rela untuk kehilangan kesadaran selama beberapa menit." Ucap Shouvori. "Ini memang terlalu beresiko, tetapi asalkan kita percaya dengan keyakinan kita masing-masing ... InsyaAllah kita bisa selamat." Sambung Shourvori. "Bagaimana?" "Saya ikut, Dok. Ini pertempuran melawan para jin jahat, jika kita terlibat dalam peperangan ini untuk kebaikan dan agama berarti sama saja kita berjihad di jalan Allah melalui peperangan!" Kata Aisyah. "Ya, saya juga ikut, Dok. Ketakutan tak berguna, jika kita terus dalam ketakutan maka kita sendiri yang akan merugi." Bi Yana, yang mulai teguh. "Saya ikut, Dok!" "Saya juga, Dok!" "Dok, saya juga ikut!" Di alam kabut, Roshni masih terkapar di tanah, ia sangat lemas, dan tidak mempunyai tenaga sama sekali untuk melawan si b***t, Saloni. DUAARR! Petir mulai menggelegar, langit berubah menjadi merah darah, angin tonado merah berhembus sangat amat kencang membuat suasana semakin kacau-balau. "Hahaha, ternyata kau selemah ini ya, hahahaha. Tak ku sangka kau sudah bodoh, polos, culun, cupu, terus lemah lagi! Hahahaha!" Gelak tawa Saloni di tengah-tengah pertempuran. "Argh!" Punggung Roshni yang ditusuk semakin sakit dan pedih, ia tak bisa bangkit kembali. "Sekarang saatnya aku menghabisimu, Roshni! Hahahaha!" Saloni yang b***t dan berdosa itu langsung membacakan mantra-mantra, dari matanya keluar cahaya merah yang akan menghancurkan tubuh Roshni. Namun ... Krakkk! Yana menusuk kedua bola mata Saloni dengan trisula, sampai Saloni terkapar ke tanah tak berdaya. Akhirnya, teman-teman Roshni datang ke alam kabut untuk menolong Roshni yang tengah kepayahan. "K-Kalian?" Roshni lega. "Ayo, Roshni! Gue bantu!" Ashnoor mencoba membantu Roshni bangkit. "Ashnoor bantu Roshni, bawa Roshni ke tempat yang aman, lalu yang lain ayo serang para jin-jin jahat itu sekarang agar kekuatan jin baik akan menang di pertempuran ini!" Perintah Shourvori, rusuh. "Iya!" "Bismillah ..." "Serangg!" Teriak Aisyah. Shourvori, Bi yana, Amanda, Athalla, Amayra, Aisyah, Sulis, Levina, dan Helen menyerang para jin jahat. Terlihat di sana juga Roshni yang mulai bangkit dibantu Ashnoor, untuk menyerang jin jahat yang terus bermunculan. Meski ia kesulitan bergerak, tetapi ia tetap paksakan untuk menyerang karena ini semua demi istana kabut, rakyat, kebaikan dan amanat sang Ibu kepadanya. Srat! Treng! Treng! Srat! Treng! Srat! Suara pedang yang saling menyerang terus terdengar, sementara bulan penentu kekalahan dan kemenangan masih merah darah, tak kunjung membiru. Di tengah peperangan, ada musibah yang menimpa Shourvori ... Sret! "Arghhh!" Astaga! Sungguh sangat malang! Pergelangan tangan Shourvori terkena serangan salah satu jin jahat yang berpenampilan manusia tanpa kepala. Seketika dari pergelangan tangan Shourvori keluar darah yang terbuai sangat banyak sampai membasahi jas kedokterannya yang berwarna putih. "Dokter Shourvori!" Teriak Aisyah yang panik melihat Shourvori celaka. Dengan sigap Aisyah di sana langsung membantu Shourvori untuk menjauhi peperangan yang sedang berlangsung hebat di sana, mereka berdua bersembunyi di balik batu besar "Aduh, sakit, s-sakit." Tangis Shourvori. "Dok, sebentar saya tadi kebetulan bawa beberapa perban di tas!" Aisyah memperban pergelangan Shourvori, tetapi sesudah diperban, Shourvori malah kejang-kejang bagaikan sedang dirasuki sesuatu yang buruk dan jahat. "Aaaaa!" Shourvori berteriak-teriak kesakitan. "Astaghfirullah! Dok, Dokter kenapa, Dok?" Tanya Aisyah, yang penuh kepanikan. Tiba-tiba tangan Shourvori membengkak sangat besar sekali, lalu muncul bulu-bulu berwarna cokelat yang kian memanjang menutupi kedua pergelangan tangan Shourvori. Lama-kelamaan kuku-kuku hitam yang panjang nan tajam juga muncul. Shourvori bagaikan memiliki tangan srigala! "I-Ini, tangan srigala, Dok!" Aisyah, menjauhi Shourvori karena takut. Shourvori seketika meloncat dari batu besar yang menjadi tempat persembunyian, lalu Shourvori membabi buta menyerang pasukan-pasukan jin jahat yang ada di sana. Aisyah pikir mungkin Shourvori terkena sebuah sengatan, tetapi serasa tidak mungkin karena Shourvori tetap menyerang musuh, akhirnya Aisyah melanjutkan peperangannya melawan pasukan. Roshni menggunakan tongkatnya untuk menyerang para jin jahat, terlihat laser merah terus saja keluar dari tongkat Roshni yang berbentuk bulan sabit. Sementara Saloni kehilangan kesaktian dari matanya, tetapi syukurnya pengelihatannya normal. Terlihat Roshni membacakan sebuah ayat-ayat suci, dari tongkat Roshni mulai membendung sebuah cahaya berwarna oranye yang terus membesar, membesar, dan membesar. Sepertinya Roshni akan mengeluarkan senjatanya yang sangat dahsyat untuk menyerang pasukan Saloni. "Saloni, ayo bangkit! Bahaya jika kau terkena serangan senjata pamungkas Roshni!" Nenek Ajeng. "Hah? Memangnya Roshni mengeluarkan senjata apa??" "Panahan purnacandra! Panahan yang mampu memanggil meteor untuk menghancurkan jin jahat seperti kita! Panahan purnacandra hanya bisa dipanggil oleh seorang ratu kabut yang mempunyai tongkat kohra jadu! Pertama-tama akan ada cahaya oranye yang membendung, lalu kian membesar, dan setelah itu akan ada ledakan yang sangat dahsyat untuk--" DAAARRR! Belum Nenek Ajeng menyelesaikan ucapannya, secara tiba-tiba ledakan besar bagaikan bom terjadi yang membuat setengah para pasukan Nenek Ajeng yang berupa jin jahat mati dalam sekejap. Roshni menahan rasa sakit yang ada di punggungnya, terlihat sekarang tongkat kohra jadu berubah menjadi panahan purnacandra, terlihat panahan purnacandra dihiasi oleh corak batik-batik dan terdapat miniatur naga di setiap ujung panahannya. Roshni mengarahkan panahannya ke atas, lalu muncul sebuah panah bercahaya yang berwarna oranye dari panahan tersebut. Panahan itu ia lesatkan ke atas. Sratt! Lalu datanglah sebuah ribuan meteor yang sangat panas, meteor muncul bagaikan air hujan. Meteor itu menghujani para pasukan jin jahat di sana, sementara pasukan jin baik dan para manusia yang berada di pihak Roshni, tidak berefek apapun kepada mereka. Di saat meteor itu menghujani tubuh para jin jahat, mereka semua langsung terbakar kepanasan. "Aisyah, sekarang saatnya!" Roshni, memberikan instruksi. Aisyah mengangguk. Aisyah dan yang lainnya mulai membacakan ayat kursi untuk membuat jin jahat musnah dari peperangan ini. Setelah selesai, seketika para jin jahat yang tersisa meledak dan hancur, tetapi Nenek Ajeng dan Saloni bersembunyi entah dimana. "Itu dia, mereka!" Teriak Shourvori menunjuk ke batu besar tempat persembunyiannya dengan Aisyah tadi. "Bersiaplah kalian!" Roshni yang sudah geram. "Allahuakbar!!" Roshni melesatkan panah sebari takbir, seketika panah yang tadinya satu menjadi puluhan, dan panah-panah tersebut tertusuk ke badan Nenek Ajeng dan Saloni, seketika mahkota dan tongkat bintang melesat kembali kepada Roshni, sementara mereka berdua kejang-kejang lalu perlahan-lahan mereka berdua meledak seperti para pasukan jin jahatnya. Sekarang bulan penentu kemenangan dan kekalahan perang berubah menjadi biru, pertanda bahwa kebaikan telah menang dari kejahatan para jin jahat. Suasanya sekarang membaik, tak ada lagi petir, ataupun angin tornado darah. Sekarang kondisi alam kabut menjadi normal seperti malam seperti biasanya yang penuh dengan ratusan bintang di angkasa. "Alhamdulilahhirobbilalamin ..." mereka semua bersyukur sekaligus lega atas kemenangan yang mereka peroleh malam ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN