Scary

1100 Kata
Bruk! Ibunya Laksmi terjatuh dan meninggal di sana. Laksmi berteriak meminta pertolongan, dia tidak tahu harus berbuat apa. Laksmi melihat gerobak di dekat sana, dia bawa anak dan Ibunya ke gerobak itu lalu ia dorong sampai ke rumah. Laksmi membawa anak dan Ibunya masuk ke dalam rumah. Laksmi akan memandikan putrinya dulu dan menidurkannya dengan aman di kamar, Laksmi ingin mengambil kain batik dari kamar Ibunya, tetapi Laksmi kaget, Laksmi melihat Ibunya yang baru saja meninggal ada di kursi goyang. Laksmi mulai panik, ia memeriksa napasnya, napasnya sudah tidak ada. Laksmi bergegas keluar kamar, ia tidak melihat Ibunya di sana! Laksmi kebingungan! Apa yang sebenarnya terjadi? Wushhh ... wushhh ... wushhh ... Braak! Jendela kamar Ibu dari Laksmi terbuka lebar akibat angin yang berhembus kencang. "Itu tadi pesan terakhir Ibu, Nak'e ..." terdengar suara bisikan Julaeha yang sekilas didengar oleh Laksmi. 1 minggu kemudian. 1 jiwa pergi dan 1 jiwa lainnya masuk ke dalam rumah, Laksmi bingung. Apakah di rumahnya harus ada kedukaan akibat ditinggal pergi sang Ibu ataukah di rumahnya harus ada perayaan karena kelahiran jiwa yang baru. Hari itu, jum'at pagi, datanglah suami dan Ibu mertua Laksmi dari Maja, Jawa Barat. Mereka berdua datang setelah mengurus kepergian suami dari Ibu mertua Laksmi selama 1 minggu. klekk! Pintu rumah dibuka oleh Hasan, suami Laksmi. Hasan dan Ibunya, Nenek Sri, kaget melihat rumah Laksmi yang berantakan bagaikan kapal pecah. Wushhh ... wushhh ... wushhh ... "Lho, kunaon ieu babalatak? Aya naon?" tanya Nenek Sri, yang kaget dengan keadaan rumah Laksmi berantakan. "Kedap ku Ujang pilarian heula Laksmi, Mak." Hasan mencari Laksmi ke dapur, ia memanggil-manggil nama Laksmi, berharap Laksmi menyaut dan menghampirinya. Hasan memeriksa ke kamar-kamar, kamar mandi bahkan gudang, Laksmi tidak ada. "Laksmi aya?" "Teu aya, Mak. Ku Ujang pilarian ka ditu ka dieu teu aya," "Hiks-hiks-hiks ..." "Hiks-hiks-hiks ..." ada suara perempuan yang menangis di kamar Laksmi, suara tangisan itu mirip sekali dengan suara tangisan Laksmi. "Eta ... eta téh apaning sorana si Laksmi?" "Enya, Mak. Eta suara na Laksmi, sakedap." Hsan masuk ke dalam kamar Laksmi, ia mendengar suara Laksmi dari dalam lemari pakaian. Apakah Laksmi ada di dalam lemari pakaian? Karena penasaran, Hasan membuka lemari pakian dan benar saja, Laksmi ada di dalam sana sedag menangis tersedu-sedu sebari menggendong putrinya yang masih bayi. "Laksmi!" Hasan sangat terkejut. Suaranya membuat Nenek Sri masuk ke dalam kamar Laksmi, Nenek Sri juga sangat terkejut melihat Laksmi yang seperti ini. Matanya sembab, rambutnya berantakan, pakaiannya lusuh dan dia seperti kehilangan akal. "Ya Allah! Eta kunaon Laksmi, Jang?" Hasan mengeluarkan Laksmi dari dalam lemari, Laksmi bergidik ketakutan, dia pun memeluk Hasan, suaminya. Sedangkan Nenek Sri menggendong bayi Laksmi dan Hasan, baru pertama kali Laksmi menggendong sekaligus melihat bayi itu karena saat bayi itu lahir mereka berdua masih di Maja. Nenek Sri mencium bayi yang mungil itu, dia sangat bahagia sekaligus senang. "Ada apa ini, Laksmi? Kenapa kamu begini? Dimana bu Julaeha?" tanya Hasan. "Hiks-hiks-hiks ..." "Jang, cepet kasih makan dan minum Laksmi, belikan bubur yang ada di depan." Suruh Nenek Sri. "Iya, Mak!" Hasan membelikan bubur dan teh hangat untuk Laksmi, ia menyuapi Laksmi yang sedang sangat ketakutan itu. Hasan dan Nenek Sri tidak tega melihat kondisi Laksmi yang seperti ini. Setelah bubur habis, Laksmi pelan-pelan bisa menjelaskan kejadiannya, tetapi dia tidak menceritakan bagaimana ia bisa melahirkan di hutan. Selama 1 minggu ini, Laksmi yang mengubur Julaeha diam-diam tanpa bantuan para warga. Dia sangat takut, ia takut kalau warga salah paham dengannya. Selama 1 minggu pula, Laksmi dibayang-bayangi dengan arwah Ibunya yang mondar-mandir di kamar. Setiap malam, arwah Ibunya melakukan aktivitas sama seperti di pagi hari saat ia masih sehat, selain itu suara chudail yang cekikikan terus saja terdengar membuat ketakutan yang luar biasa. "Ya Allah! Kasian banget kamu, Laksmi. Padahal hubungi aja temanmu, Mithila, dia kan ada di dekat sini, jadi apa salahnya jika kamu menghubungi dia dan menceritakan semuanya yang terjadi." "Laksmi takut, Mak! Hiks-hiks-hiks ..." Laksmi takut bukan karena itu saja, Laksmi takut dengan gigitan chudail yang terus menyebar. Gigitan itu membuat kulitnya berwarna ungu, tapi dia tidak menceritakannya pada Hasan dan Sri. "Kamu tenang ya, Laksmi. Kan udah ada kita berdua, jadi kamu nggak akan sendirian lagi, kamu sehat-sehat ya. Nanti saya akan mengondisikan semuanya, saya akan membuat tahlilan dan pembacaan surah yaasiin bersama para warga 7 hari 7 malam." "Iya, makasih ya, Hasan." Hasan tersenyum, "saya akan adzan dulu ya untuk bayi ini," ucapnya dengan penuh rasa kebahagiaan kareba dia sudah menjadi seorang ayah sekarang. Dalam 1 minggu, Hasan melakukan ritual pemakaman Ibu dari Laksmi dengan hati-hati. Hasan membawa kembali Ibu Laksmi untuk dimandikan dan disholatkan secara benar oleh para warga. Hasan juga melakukan tahlil dan pembacaan surah yaasiin 7 hari 7 malam bersama para warga di rumah. Setelah 7 hari berlalu, diadakan upacara pemberian nama untuk bayi Hasan dan Laksmi oleh Pak Kyai Ujang. Setelah disepakati, nama bayinya adalah Avika Zulva Khairunnisa. Setelah pemberian nama bayi selesai, Nenek Sri pun membuat acara syukuran. Nenek Sri membuat acara do'a bersama para warga, Nenek Sri memberikan nasi kuning sebagai berkat dan melempar yang koin kepada para warga, kegiatan ini sering bisa disebut dengan kegiatan 'nyawer' oleh masyarakat di tanah Sunda. Kebahagiaan mulai mendekati keluarga mereka lagi, Laksmi sudah tidak mengalami teror lagi dari Ibunya, tetapi kulitnya semakin berwarna ungu. Hasan dan Laksmi memberikan banyak sekali mainan, pernak-pernik bayi, makanan bayi dan lain sebagainya untuk Avika kecil. Mereka semua sangat menyayangi Avika karena Avika adalah anak pertama yang mereka milikki setelah 1 tahun berlalu. Di desa tersebut ada teror chudail, siluman kelelawar penghisap darah manusia, siapapun yang tergigit chudail maka cepat atau lambat ia akan menjadi chudail. Sistem penyebarannya sama seperti dan mirip dengan sistem penyebaran zombie. Jika pagi, para chudail akan tertidur di langit-langit candi yang ada di atas perbukitan desa, sedangkan jika malam para chudail ini akan keluar dari sarangnya, lalu beraksi mencari mangsa yang merupakan seorang warga sekitar, sehingga supaya aman setiap malam rumah-rumah warga dikunci serta ditutup rapat-rapat agar chudail tidak bisa masuk ke dalam. Sudah lebih dari 1 bulan, Avika lahir. Avika bayi sangat lucu dan menggemaskan membuat semua orang yang menyayanginya. Di akhir bulan, Hasan dan Nenek Sri berangkat ke Maja lagi untuk melakukan persiapan 40 harian suami Nenek Sri. Terpaksa, Laksmi harus tinggal sendirian lagi bersama Avika bayi di dalam rumah tanpa ditemani oleh Nenek Sri dan Hasan lagi. Mungkin ini tak terlalu buruk, secara nenek Julaeha sudah lama pergi, tidak ada lagi teror nenek Julaeha. Pagi yang cerah, Laksmi sedang menjemur pakaian di depan rumah. Laksmi melihat Mithila yang kembali menuju rumah setelah membeli sayuran segar dari depan. Mithila menghampiri Laksmi untuk sekedar menanyakan kabar san keadaan Laksmi saat ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN