Di kelas, Roshni ditemukan oleh beberapa temannya yang bernama Sekar dan Arumi dalam keadaan pingsan tak berdaya. Tak hanya itu, Roshni juga memuntahkan busa, bagaikan digigit oleh seekor ular. Roshni akhirnya dibawa ke UKS untuk pengobatan lebih lanjut oleh teman-temannya. Beberapa guru melihat Roshni diangkat ke UKS oleh beberapa petugas PMR, mereka sangat terkejut, bahkan ada beberapa guru yang berteriak melihat kondisi Roshni.
Sesampainya di sana, para petugas UKS kelas XII menempel infusan pada Roshni, mereka juga mengelap busa yang keluar dari mulut Roshni. Setelah bersih, mereka meninggalkan UKS dengan memberikan pesan Arumi dan Sekar untuk tidak meninggalkan Roshni, dan jika Roshni sudah siuman mereka harus memberitahunya melalui w******p.
"Iya, Kak, tapi Roshni digigit ular, kalau Roshni tidak dibawa ke rumah sakit, apa ini enggak apa-apa, Kak?" Tanya Arum, cemas.
"Ini bukan digigit ular, Dek. Kakak tadi sempat tanya ke tante Kakak lewat w******p yang kebetulan dokter, kata dia katanya Roshni terlalu banyak makan, makannya dia muntah busa." Jelas remaja perempuan berkacamata itu kepada mereka berdua.
"Yaudah, Kakak kelas dulu ya, ingat pesan Kakak tadi."
Para PMR senior pergi, sekarang tinggal mereka berdua yang ada di ruang PMR. Di sekolah belum ada kegiatan apapun, karena masih sangat pagi.
"Rum, si Roshni kayanya bukan kekeyangan deh." Pikir Sekar.
"Iye, Kar, keknya ada sesuatu. Setau gue, kalo dia kekeyangan ya otomatis dong dia kagak pucet kaya mayat gini." Arum, mempercayai Sekar.
"Bener, Rum nanti kita suruh si Aisyah sama Sulis aja ke sini, takutnya kita kebawa-bawa lagi."
"Hooh, kita cari aman aja."
Di alam kabut, sang Ratu Kabut sudah sekarat di singgasananya, terlihat kabut asap tebal telah memenuhi seluruh tubuh dan wajahnya. Di sana, ada Shalaka, Dimas dan Syera, mereka nampaknya akan melihat sikaratul maut Tara yang akan terjadi sebentar lagi.
"Tara, aku akan memanggil Roshni sekarang, jika tidak Roshni tidak akan menjadi ratu kabut di sini." Dimas.
"Jangan, Mas! Jangan! Tunggu hingga isya', tunggu!" Ujar Tara, napasnya tersenggal-senggal.
"Tapi ... kamu sudah tidak punya cukup banyak waktu, Tar!"
"Tidak, Mas, aku masih bisa bertahan! Tunggu saja, biarkan takdir yang membawanya kemari." Tara, bersihkeras.
Di saat keadaan sedang genting, tiba-tiba istana alam kabut terguncang oleh sesuatu yang dahsyat Istana alam kabut mengalami gempa yang hebat! Banyak sekali reruntuhan bangunan istana yang rusak, dan hancur, ditambah lagi dengan jatuhnya benda-benda di dalam istana seperti guci, dan benda-benda sakral lainnya.
"Tara, ini ada apa?"
"Astaganaga! Ini ... ini pertanda buruk!" Jawab sang Ratu Kabut, penuh ketegangan.
"Pertanda buruk?" Dimas, tak mengerti.
"Iya, Maharaja, biasanya jika gempa seperti ini adalah sebuah pertanda dari awal kehancuran alam kabut. Hal ini pernah terjadi 700 tahun lalu, dulu saat Nenek Ajeng akan menyerang alam kabut dengan wujud Bhaisasuri, hal serupa sama terjadi seperti saat ini." Jelas Shalaka, perdana mentri yang sudah berusia seribu tahun.
Dimas hanya bisa tercengang mendengar perkataan Shalaka.
"Ratu, Roshni sepertinya harus diangkat sebagai ratu detik ini juga, mungkin usia Ratu akan menemui ajal sebentar lagi." Usul Syera, panik.
Brak!
Ratu Kabut pingsan di singgasananya, ia terguling-guling dari singgasana sampai ke lantai paling bawah.
"Ratu!"
Alam kabut kacau, sekacau-kacaunya, mereka tidak mengira bahwa kekuatan jahat yang sangat besar akan kembali sebentar lagi. Lima batu permata sudah Saloni dapatkan dengan menggunakan kekuatan Roshni, segitiga api akan segera terbentuk untuk membebaskan Nenek Ajeng dari pemakamannya setelah 700 tahun.
Di bumi, Roshni tersadar dari pingsannya, ia nampak sangat lemah dan ia tidak bisa bergerak, tenaganya seakan-akan habis. Sekarang Roshni pula ingat segala-galanya, ia juga sadar apa penyebab dirinya bisa lemah dan mengharuskannya merebahkan badannya di ranjang UKS. Tampak di sampingnya ada Arum dan Sekar yang duduk menemani Roshni. Roshni bersyukur jika ada yang menolongnya.
"Eh, kalian." Roshni, lemah, ia mencoba duduk, tetapi ia tak bisa karena Roshni terlalu lemah.
"Aduh, jangan, Rosh. Lo masih lemah banget!" Arum, menahan Roshni.
"Iya, Rosh, kagak usah dipaksain atuh!" Ucap Sekar.
"Hehe, iya, makasih ya."
"Kagak usah makasihlah, Rosh, emang itu udah kewajiban kita kok, kita kan temen-temen lo, Rosh." Jelas Arum.
Di saat mereka sedang berbincang hangat di sana, tak disangka ada keributan di lapangan karena geng kalajengking merah datang ke sekolah! Mereka bersekolah lagi! Terlihat geng kalajengking merah disoraki oleh para siswa laki-laki, mereka pula dilempari batu oleh siswi perempuan dari gedung atas, ada juga yang secara langsung. Mereka sangat malu, benar-benar malu! Ditambah mereka bertemu dengan kuli kemarin, astaga!
Arum dan Sekar melihat dari jendela.
"Huu! Huuu! Emang pantes mereka digituin." Sorak Sekar, dengan cukup kencang.
"Itu ada apa, Kar, Rum?" Tanya Roshni, tak tahu apa-apa.
"Itu geng gesrek sekolah lagi."
"Geng gesrek? Maksudnya geng kalajengking merah?" Roshni, masih tak tahu.
"Iyalah, Rosh. Lo udah tau belum nih kabar tentang dia?" Arum.
"Belum, Rum, emangnya ada apa sih? Sampe mereka dilempar dan disoraki kaya begitu?"
"Hah? Seriusan lo kagak tau?" Arum, lagi.
"Heh, si Roshni kan kagak masuk kemarin!" Sekar, mengingatkan Arum.
"Oalah, iya, Kar, gue baru inget, hehe." Arum, cengengesan.
"Gini, Rosh, kemarin kejahatan mereka ke lo kebongkar di hadapan siswa-siswi SMAN 1 Nusa, mereka sampe kabur karena mereka malu, mereka juga kena marah Pak Gohan habis-habisan di lapangan upacara sama ruangan BK. Enggak hanya itu lho ya, tapi kebohongan terbesar Amanda terkuak, ternyata selama ini si Amanda itu cuman anak tukang bakso bukan anak bos besar! Kemarin bokapnya datang kemari, dia teriak-teriak, bongkar kebohongan Amanda, dia juga sampe nangis kejer minta maaf karena perbuatan Amanda ke lo, Rosh." Jelas Arum, dengan panjang lebar.
"Hah? Ya ampun, kasihan mereka." Roshni.
"Yaelah, Rosh-Rosh, buat apa mereka dikasihani, wong mereka aja kagak pernah kasihan ke lo." Sekar.
"Tapi kan--"
"Rosh, inget ye, kalo mau baik ke manusia, pilih-pilih dulu. Jangan ke semua orang lo baikin, jaman sekarang rata-rata manusia itu kagak berperikemanusiaan." Ujar Arum, memberitahu Roshni.
"Hmmm ... Rum, jangan gitu ah, enggak baik. Biar aja kita disakiti orang terus-terusan, tapi jangan sampai karena orang yang begitu kita malah jadi buruk hatinya." Roshni, bijak.
***
Senja tiba, para siswa-siswi pulang dari sekolah. Tadi siang di pertemuan keempat, Roshni masuk ke kelas karena kondisinya sudah mulai membaik, ia pun bisa menjalani kegiatan KBM di sekolahnya dengan penuh hati yang riang gembira. Hari rabu, Roshni bersama geng kalajengking merah piket di kelas. Aisyah dan Sulis menyatakan kalau ia ingin menemani Roshni piket, karena takut terjadi apa-apa, akan tetapi Roshni menolaknya.
"Ah, jangan berlebihan, Syah, Lis, lagian kan mereka diem-diem bae, hehe. Udah, aku bisa jaga diri kok."
"Hmm, yakin nih, Rosh? Beneran?" Sulis.
"Iya beneran atuh."
"Yaudahdeh, kalau itu kemauan kamu, kita pulang ya." Aisyah, mengiyakan perkataan Roshni secara terpaksa.
"Iya, Syah, Lis." Roshni, senyum.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Setelah mereka berdua pergi, Roshni menjalankan piketnya dengan senang hati. Roshni melihat geng kalajengking merah yang rajin mengerjakan piket, mereka juga tidak mencaci-maki Roshni lagi. Ah ... Alangkah bahagianya Roshni di sana.
Brakk!
Namun, dugaan Roshni salah, Roshni salah besar!
Meja beserta kursi yang sudah disatukan, Amanda robohkan dengan perasaan penuh kemurkaan. Roshni seketika bergemetar ketakutan.
Satt!!
Dug!
Sapu yang Athalla dan Amayra bawa, mereka lesatkan ke arah Roshni, tetapi Roshni mampu mengelaknya.
"Astaghfirullah! A-Ada apa?"
Amanda berlari, menarik tangan Roshni secara kasar, refleks Roshni berteriak sekencang-kencangnya.
"Aaaaaa! Sakit!" Jerit Roshni, kesakitan.
"Mau dibawa, D-Da?"
"Da! Da! Da! Jangan panggil gue, Da!!" Sentak Amanda, melotot pada Roshni.
"I-Iya, Kak! Hiks-hiks-hiks ..." Tangisnya.
"Ikut gue!!"
Amanda menarik tangan Roshni, Athalla dan Amayra pun mengikuti mereka sebari membawa sapu, tak sangka mereka berdua memukul punggung Roshni dengan sapu itu dari belakang.
Dug!
"Aaaa!!"
Duggg!
"Aaa!!"
Roshni kesakitan, alangkah kejamnya mereka! Punggung Roshni terus dipukuli oleh Amayra dan Athalla sebari melewati lorong-lorong sekolah yang telah kosong melongpong. Akhirnya mereka berhenti di belakang sekolah, di sana ada sungai yang dipenuhi dengan ular-ular yang siap melahap.
"Kak, a-aku mau diapain, hiks-hiks-hiks."
"Gue bakalan balas dendam! Gue bakalan buat kehidupan lo hancur, Roshni!! Karena lo udah bikin gue sengsara!!" Bentak Roshni.
"Sengsara kenapa, Kak? Hiks-hiks-hiks, aku enggak tau tentang apapun, Kak." Roshni, menangis terus-terusan.
"Halah! Jangan pura-pura kagak tau lo ya! Lo udah bikin nama gue tercoreng! Dan semua martabat gue hancur di depan sekolah Nusa!"
"Iya, dasar Roshni! Kagak punya hati lo!" Ledek Amayra.
"Bener, cupu-cupu tapi hatinya batu! Cih!" Athalla.
"Da, cepetan buat dia menerima akibatnya!" Suruh Amayra.
"Jangan, Kak! Jangan apa-apain aku, Kak! Aku mohon, aku mohon, Kak!" Roshni sampai bersujud di kaki Amanda, dengan penuh air mata.
Amanda tiba-tiba merasa iba, ia juga menangis di hadapan Roshni, "hiks-hiks-hiks-hiks."
"Sini, Rosh." Amanda membantu Roshni bangkit.
"Maafin aku, Rosh! Maafin! Aku khilaf! Aku beneran khilaf!" Ujar Amanda.
"Lho? Da, lo waras kan?" Amayra, merasa aneh.
"Da, sadar woy!" Athalla.
"Kak, Kakak beneran?"
"Iya, Rosh, aku minta maaf! Aku minta maaf, Rosh! Sekarang aku sadar bahwa perbuatanku ini salah."
"M-Makasih, Kak! Makasih! Hiks-hiks-hiks, alhamdulilah Kakak bisa dapat hidayah. Makasih banget ya, Kak."
"I-Iya, ta-tapi bohong!"
Byurrr!!
Amanda langsung mendorong Roshni ke dalam sungai dengan cukup kencang hingga Roshni langsung masuk ke bagian yang paling dalam.
"Hahaha, rasain lo, Roshni!!"