Di sekolah, Ashnoor sangat kesakitan, ia sekarang dibopong oleh Sulis dan Levina.
"Roshni! Nak, Ibu minta maaf kalau Ibu malah percaya dengan ucapan Amanda bukan ucapan kamu! Ibu tidak tahu, Nak! Maaf atas perkataan Ibu yang tajam bagaikan pisau ini, Nak ... Ibu menyesal telah mengatakan semua itu, hiks-hiks-hiks .." Bu Evi, guru matematika Roshni meminta maaf kepada Roshni atas tuduhannya kemarin-kemarin, karena Bu Evi telah mencaci maki Roshni dan telah menganggapnya mencontek.
Roshni memalingkan wajahnya.
"Meski Ibu begitu, Ibu bukannya sudah tahu kalau saya tidak pernah mencontek? Dari dulu nilai saya selalu tinggi, itu berkat saya selalu menghapal pelajaran selama satu malam, kadang tengah malam saya baru tertidur, kadang juga jam 2 subuh. Tapi pada saat itu, Ibu dengan teganya mengeluarkan saya dari kelas, mengatakan saya mencontek, dan lain sebagainya. Ditambah lagi, Amanda malah tersenyum licik bagaikan manusia sampah!" Roshni memukul Amanda dengan tongkatnya lagi.
"Sudahlah, penjelasan tidak diperlukan lagi, sekarang sudah waktunya untuk menghancurkan sekolah ini!" Teriak Roshni, sangat penuh kemurkaan.
"Roshni, ampun, Roshni! Kami belum lulus, hiks-hiks-hiks. Kami nyesal, Roshni." Ujar Amayra, meminta maaf terus menerus kepada Roshni yang masih dalam wujud butoijo suri.
"Rasakan ini!" Dari tongkatnya keluar laser berwarna biru, lalu laser tadi menyetrum tubuh Amayra sampai Amayra pingsan.
"Huahh!" Amanda dan Athalla ketakutan dan langsung menyingkir dari sana.
"Hentikan ini, Roshni! Ini semua hanya menimbulkan dosa saja buat kamu!" Jerit Pak Gohan.
Lagi-lagi Roshni memalingkan wajahnya.
"Para prajurit Bhaisasur! Seranggg!!"
"Ayo, Ashnoor!" Helen menarik tangan Levina dan membawanya pergi dari aula melalui pintu belakang.
Para prajurit dikerahkan, menyerang kembali semua ada yang di sana. Para siswa-siswi, guru bahkan wali murid disekap ditali dengan borgol gaib sehingga semuanya menyatu. Sementara panggung yang tadi dihias dan tertata dengan rapih serta indah malah hangus terbakar oleh para pasukannya Roshni. Semua gorden dan lampu kelap-kelip terbakar, kursi-kursi berantakan. Keadaan ini memang sangat kacau. Untung saja Ashnoor dan Helen lebih dulu melarikan diri sebelum Roshni melakukan ini semua.
Di luar, Ashnoor dan Helen bertemu dengan Aisyah, Bi Yana dan Pak Kyai Rahman yang baru saja datang.
"Syah, tolongin, Syah! Pasukan Roshni borgol semua siswa-siswi, guru sama para wali murid! Tolong selametin mereka!" Helen, panik.
"Astaghfirullah! Iya, Ayahku yang bakalan menyelamatkan mereka."
"Oh, bantu selamatkan ya, Pak. Hiks-hiks-hiks."
"Iya-Iya, sekarang kalian bersembunyi saja di tempat yang aman ya, seperti kelas atau apa saja gitu yang aman tempatnya." Suruh Pak Kyai Rahman.
"Baik, Pak!" Helen.
"Kami permisi ya, Pak, Syah." Ashnoor berlari bersama dengan Helen ke kelasnya.
Pak Kyai Rahman, Bi Yana dan Aisyah masuk ke dalam aula.
"Hentikan semua ini!" Teriak Pak Kyai Rahman, yang membuat semuanya menengok kepadanya.
"Pak Kyai Rahman!" Sulis yang terikat borgol dengan yang lain, merasa lega dengan kehadirannya, karena cepat atau lambat pasti Pak Kyai Rahman akan memulihkan keadaan semuanya.
"Berhenti, Roshni! Sadar!" Aisyah.
Roshni menoleh ke Aisyah yang datang dari pintu depan.
"Roshni, berhenti! Kamu jangan melakukan semua ini hanya demi nafsu kamu belaka! Memenuhi nafsu itu malah merugikan, Roshni! Dengan kamu memenuhi nafsu dengan melakukan pembalasan dendam akan membuat kamu terkena dosa besar, apalagi kamu malah menjadi siluman seperti ini! Ini dosa besar, Roshni! Kamu jangan jadi buruk hati karena seseorang yang buruk juga, itu malah kamu sama saja dengan mereka. Aku udah mengatakannya berkali-kali jadi tolong percayalah, Roshni, hentikan semua ini! Kamu tau, meskipun Amanda dan kawan-kawannya membully kamu dulu, tapi kan aku, Sulis, Helen dan Levina ada, kamu jangan anggap kami enggak ada, Rosh. Kamu enggak sendiri, kami ada untuk kamu."
Roshni hatinya sedikit tergetak, rasanya ia ingin mengakhiri semua ini. Tak terasa air mata mulai menetes membasahi pipinya, ia menengok lagi ke belakang, dan dirinya melihat tiga anggota geng kalajengking merah, hal itu membuatnya marah kembali dan mengingat segalanya yang pernah mereka buat kepadanya di masa lalu.
"Kagak! Gue tetep bakalan balas dendam!" Jerit Roshni, yang mengkagetkan Aisyah dan Bi Yana.
"Roshni, belajar memaafkan. Meskipun sulit, tapi memaafkan itu sangat penuh kenikmatan, selain membuat hati ini tenang, kamu juga pasti akan mendapatkan pahala." Bi Yana.
"Gue mau memaafkan tapi setelah gue balas dendam!"
"Jangan, Rosh! Itu sama aja!" Pak Kyai Rahman.
Roshni mendekati Amanda, Athalla dan Amayra, dari tongkatnya keluar cahaya yang menuju ke langit-langit aula. Roshni membacakan mantra-mantra.
"Pah, itu Roshni ngapain?" Aisyah, panik.
"Gawat ini, Syah! Roshni mulai mengeluarkan kesaktian terbesarnya untuk menghancurkan sekolah ini!"
"Haduh, bagaimana ini, Pah?"
"Ada satu acara, Papah membacakan ayat-ayat suci yang bisa membuatnya terbakar."
"Paman, bukannya itu akan membuat Roshni tiada?" Bi Yana.
"Jangan, Pah! Jangan."
"Kita pakai cara lain, semacam kita mengurung Roshni saja, bagaimana? Bisa, Pah?"
"Itu bisa, tetapi kurungannya hanya berfungsi selama 2 jam, lebih dari itu maka kurungannya akan hancur, ditambah lagi jika misalkan Roshni mengeluarkan kesaktian yang lain untuk menghancurkan kurungannya."
"Mendingan dikurung saja, Paman. Nanti kami dan yang lainnya akan mencari solusi agar semua ini dapat berakhir." Kata Bi Yana.
"Yasudah."
"Bismillahirohmanirohim! Allahuakbar!" Pak Kyai Rahman mengarahkan tangannya, seketika kurungan sel bulat muncul mengurung Roshni dan para pasukannya yang merupakan Bhaisasur.
"Alhamdulilah!" Aisyah, lega.
"Papah akan berjaga di sini, kamu dan Yana sekarang ayo cari solusinya."
"Iya, Pah! Aisyah akan pergi ke kelas terlebih dahulu."
Aisyah dan Bi Yana datang ke kelas Ashnoor dan Helen. Di sana mereka berdua menjumpai Syera yang merupakan anak perdana mentri istana alam kabut. Syera menjelaskan semuanya kepada Aisyah dan yang lainnya, akhirnya mereka semua mengerti.
"Jadi gimana caranya supaya situasi ini dapat dikendalikan, Kak?" Tanya Ashnoor, sopan.
"Kita panggil saja Ratu Kabut Tara lagi kemari."
"Bukannya beliau sudah meninggal?" Aisyah.
"Iya, tapi Ratu kabut yang baru meninggal bisa dipanggil lagi arwahnya di depan lilin suci yang apinya berwarna biru." Kata Syera kepada Aisyah.
"Jika kita mau memanggilnya, maka kita harus mendapatkan lilin suci itu. Lalu kita sebut namanya lima kali!"
"Tapi letaknya dimana, Kak?" Tanya Helen.
"Letaknya ada di alam pisach dan lilin itu ada di daun pohon hidup, pohon vraksakas!" Shourvori, yang tiba-tiba datang.
"Lho, kenapa Dokter tau?" Syera, terheran-heran.
"Eh, Dokter Shourvori?" Aisyah yang mengenalinya.
"Aisyah? Kamu di sini, Nak?"
"Iya, Dokter!" Aisyah mencium tangan Dokter Shorvori.
"Ini Dokter Shourvori, dokter andalan pesantren Ar-Rahman, hehe." Aisyah, menjelaskannya.
"Ohh, pantesan lo kaya yang udah kenal sama dia gitu." Ashnoor.
"Hehe."
"Saya akan menjawab pertanyaan Neng Syera dulu ya. Neng Syera, saya bisa tahu ini karena entah kenapa di saat saya bertemu dengan dua perempuan misterius, saya malah mengetahui apa-apa yang berbau fantasi-supernatural seperti ini. Padahal setau saya ... saya tidak ada kaitannya apapun dengan hal berbau ini. Tapi, jika kalian membutuhkannya, saya bisa membantu. Alam itu ada di hutan belantara di belakang sekolah ini."
"Hah? Beneran, Dok?" Ashnoor, tak percaya.
"Benar kata Kak Shourvori." Syera.
"Yasudah, ayo kita kesana." Ajak Aisyah.
"Tunggu! Jika kita kesana berarti kita akan berhadapan dengan belalang raksasa!"
"Betul, tapi tenang saja, Kak. Saya adalah keturunan jin kabut, dan InsyaAllah saya bisa melawan belalang itu, baik dengan cara kelembutan ataupun harus menyerangnya sekalipun." Cakap Syera, yang sangat yakin dengan ucapannya.
"Baiklah, ayo kita segera ke sana."
Mereka semua bergegas ke alam pisach untuk mengambil lilin suci biru. Meskipun perjalanannya cukup melelahkan marena jauh, mereka tetap bersemangat. Dan lambat-laun mereka pun sampai juga di alam pisach setelah melalui portal yang dibuka oleh Syera. Portal itu menghubungkan ke hutan pisach, tetapi alangkah terkejutnya mereka melihat hutan di sana sangat kering dan berwarna serba hitam. Binatang yang ada di sana juga serba hitam, dimulai dari burung, semut, kelabang, bahkan sampai ikan. Ini sangat mengerikan bagi mereka.
Dengan penuh ketakutan, mereka pun akhirnya sudah sampai di tempat tujuan, yaitu pohon vraksakas. Tetapi di sana, mereka dihadang oleh belalang hitam raksasa dengan mata merah dan sengatan berdarah.
"Krashhh!"
"Huahh!" Mereka semua berteriak ketakutan.
"Semuanya ayo menjauh!" Teriak Shorvouri.
"Ini, kenapa belalangnya juga hitam, Dok?" Tanya Aisyah, khawatir.
"Karena belalang ini adalah belalang pisach, yang berarti belalang vampire!"
"Astaghfirullah! Apa ini berbahaya, Dok?" Tanya Bi Yana.
"Iya! Kalau kita terkena sengatannya, kita bisa menjadi batu!" Jelas Shourvori.
"Astaga!" Helen, yang semakin ketakutan.
"Jadi ini bagaimana mengalahkannya untuk bisa mendapatkan lilin biru, Dok?" Tanya Ashnoor, panik.
"Dengan dua cara! Kita bicarakan baik-baik dengan belalang itu, atau kita lempari dia dengan obor!" Ujar Shourvori.
"Dia bisa berbicara, tenang saja! Karena ini pisach, berbeda dengan alam normal di bumi." Tambahnya.
"Wahai belalang hitam, harap jangan menyerang kami! Karena tujuan kami di sini, bukan untuk menyerangmu, tetapi meminta lilin biru dari pohon vkraksakas untuk kepentingan banyak jiwa seseorang karena sekolah kami diserang makhluk jahat!" Jelas Shourvori, berusaha untuk tenang.
"Apa ada bukti yang bisa membenarkan ucapanmu itu?" Tanya belalang hitam.
"Ya, ada! Ini dia!" Ashnoor diam-diam merekam kejadian di aula, dan rekaman ini ternyata sangat berguna sekarang.
Rekaman itu dinyalakan, dan belalang hitam itu menyaksikan rekaman yang ada di ponsel Ashnoor.
"Hm, baiklah. Ternyata jin Bhaisasuri telah menyerang sekolah kalian. Ambilah lilin biru seperlunya, akan tetapi lilin biru ini untuk kalian apakan?" Tanya belalang hitam.
"Untuk memanggil arwah Ratu Tara, Ratu Kabut generasi sebelumnya supaya Roshni yang menjadi Bhaisasuri bisa sadar akan perbuatannya, perlu yang kau tahu Roshni yang menjadi Bhaisasuri itu sebenarnya adalah seorang Ratu Kabut." Jelas Syera
"Oh, begitu. Yasudah, ambil saja."
Syera memetik satu lilin biru yang sudah menyala.
"Terimakasih, belalang hitam."
"Sama-sama, sekarang kalian kembalilah ke alam bumi."
Mereka semua kembali ke alam bumi, dan datang lagi ke aula. Terlihat di sana, Pak Kyai Rahman sedang berduel dengan Roshni yang menjadi seorang Butoijo suri.
"Hentikan duel ini!" Teriak Aisyah, tegas.
Roshni menengok, dan tak lagi menyerang Pak Kyai Rahman dengan tongkat kudanya.
"Kekuatan cakra bhaisasur datanglah! Datanglah! Seketika dari tongkatnya keluar sebuah cakra hitam yang akan meledak bagaikan bom.
"Tunggu!!"
"Roshni, aku akan menunjukan sesuatu kepadamu! Lihatlah ini!"
Aisyah memperlihatkan lilin suci berapi biru kepada Roshni.
"Ratu Tara, Ratu Tara, Ratu Tara, Ratu Tara, Ratu Tara!" Panggil Aisyah.
Seketika angin berhembus dengan sangat amat kencang, petir-petir menjadi menggelegar kesana-kemari, hujan juga tiba-tiba turun dengan sangat deras, ditambah dengan angin yang membuat situasi sekolah semakin kacau. Kabut mulai muncul dari semua penjuru, menutupi pengelihatan para siswa-siswi, guru, dan para wali murid yang hadir di sana. Saat itu, Ratu Tara dengan dandanan sebagai seorang Ratu Kabut muncul dari api biru dengan wujudnya yang diselimuti cahaya berwarna biru.
"I-Ibu?"