Semakin hari perasaan itu jelas terasa dan sulit untuk Misshel mengelaknya. Seberapa keras Misshel bersikap tak peduli, tapi Kenan selalu membuat mereka semakin dekat dengan caranya. "Kamu nanti nggak usah ikut jemput Kenan." Misshel memulai percakapan setelah mobil berhenti di pelataran parkir. "Kenapa?" Garis halus nampak samar didahi Leon. "Akan ada Timonty yang menemaniku. Em, maksutku ... Timonty ingin bertemu Kenan hari ini." Sebisa mungkin Misshel tak menatap kedua manik mata lawan bicaranya. Leon hela nafasnya cepat lalu berkata, "Mobilku masih cukup ruang untuk Timonty. Kita bertiga akan jemput Kenan, nanti." "Tapi--" "Ssstt." Leon tempelkan jari telunjuknya pada bibir tipis milik Misshel. "Kenan akan memusuhiku, jika aku tak menjemputnya hari ini. Apa kamu lupa?" Lagi Leo

