Terlambat

1801 Kata

Udara pagi terasa amat dingin. Sisa genangan air hujan semalaman masih mendominasi cerahnya suasana hari ini. Kicauan burung terdengar seakan bernyanyi-nyanyi. Tubuh Denisa terasa sakit. Perlahan membuka matanya serta merasakan nyeri di bagian inti. Sial! Mario masih terlelap di sampingnya dalam satu selimut. Dengan cepat Denisa menarik selimut itu guna menutupi tubuhnya yang terlihat tanpa sehelai kain menutupi. Denisa tak tau harus bagaimana lagi. Rasa takutnya kembali menyeruak hingga tubuhnya bergetar hebat. Ia jijik dengan dirinya sendiri yang sudah tak gadis lagi. Cairan bening yang memupuk dipelupuk matanya kini luruh membasahi kedua pipi. Tatapan penyesalan ia lemparkan kepada lelaki yang masih terlelap seakan tak punya dosa itu. Perlahan Denisa edarkan pandangnya kearah seon

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN