Setelah menemui tuannya bi Inah menuju kedapur untuk membuat bubur dan menyiapkan obat turun panas serta air untuk mengompres Rara agar suhu tubuh Rara cepet turun. Setelah 40 menit bi Ina berkutat didapur akhirnya selesai juga membuat bubur untuk Rara. Karena pintu kamar Rara tidak terkunci bi Ina langsung masuk saja, karena terahir bi Ina menemukan Rara yang sedang tidak sadarkan diri.
Karena saat bi Ina masuk masih menemukan Rara yang belum sadarkan diri, bi Ina langsung mengoleskan minyak kayu putih diarea hidung dan menepuk- nepuk pipi Rara agar segera sadar "Non Rara, bangun non"
"Engh" lengguh Rara sambil membuka mata perlahan – lahan unutuk menyesuaikan cahaya lampu yang ada diruangannya.
"Ahirnya non Rara sadar juga" ucap bi Ina dengan menghela nafas lega
"Aku pingsan berapa lama bi ? " tanya Rara sambil menatap bi Ina dengan tatapan sayu
"Kurang lebih 1 jam. Lebih baik kita pindah dulu ya non kekasur, maaf tadi tidak memindahkan non Rara kekasur soalnya saya tidak kuat non, mau minta tolong kepada pekerja disini pasti pada tidak mau non. Sekarang non Rara makan bibi sudah membuatkan bubur " ucap bi Ina menuntun Rara kekasur.
“Tidak apa – apa bi, saya malah makasih kepada bibi karena sudah merawat saya dengan telaten’’ ucap Rara diiringi senyum yang tulus
Tapi saat sampai dikasur bi Ina cukup terkejut karena kasur Rara seperti tumpukan kardus doang "Deg, bagai mana bisa tuan Hendra memperlakukan istrinya seperti ini" batin bi Ina menangis dalam hati
"Non tidur disini ? " Tanya bi Ina sambil duduk ditumpuka kasur tersebut bersampingan dengan Rara sambil menyuapi Rara
"Iya aku tidur disini bi, memang dimana lagi ?" Ucap Rara sambil tersenyum
"Maksud bibi itu tidur ditumpukan kardus ini, bukan tidur dikasur ?" Tanya bi Ina meralat pertanyaannya
"Iya bi, aku dikasih tempat berteduh aja udah terimakasih bi" ucap Rara tersenyum
"Tuan Hendra beruntung banget ya, dapatin perempuan sebaik non Rar" ucap bi Ina tersenyum
"Harusnya aku yang beruntung bi, bisa menikah dengan orang ganteng dan gagah perkasa " ucap Rara diahiri tawa
"Non bisa aja" ucap bi Ina tertawa "Ini lengan non kenapa ?" Tanya bi Ina panik sambil memegang tangan Rara
"Nggak papa kok bi" ucap Rara sambil menutupi memar-memar yang ada ditangannya dengan baju yang dikenakan. Walaupun Rara berusaha menutupinya, tetap saja tidak bisa menutupi luka tersebut karena Rara menggunakan baju berlengan pendek.
"Non Rara cerita aja sama bibi, bibi jamin cerita ini tidak sampai bocor deh" ucap bi Ina sambil menggenggam tangan Rara untuk meyakinkan Rara yang terlihat ragu – ragu untuk menceritakan semua yang sudah Hendra lakukan kepadanya.
Karena Rara butuh teman curhat untuk mengurangi beban yang ditanggung nya, akhirnya Rara mulai mempercayai bi Ina bahwa bi Ina beda dari pekerja yang ada dimension ini. Ahirnya Rara bercerita sama bi Ina "Aku habis dicambuk sama tuan Hendra bi, karena aku sudah merusak kemeja kesayangan milik tuan Hendra bi, tapi aku nggak melakukan itu bi, aku nggak kuat menghadapi ini semua bi,tuan Hendra juga sering berbicara kasar kepadaku dan saat berhubungan badan tuan Hendra melakukannya dengan kasar bi dan selalu menyebut nama wanita lain bi, hatiku sakit bi hiks... hiks..., aku nggak kuat " ucap Rara sambil menangis
Karena tidak tau mau menjawab apa sehingga bi Ina cuma memeluk dan mengusap punggung Rara
‘’ Non Rara yang sabar dan kuat ya menghadapi sikap tuan Hendra, bibi yakin suatu saat tuan Hendra akan bucin sama non Rara’’ ucap bi Ina untuk menyemangati Rara yang rapuh.
"Kanapa bibi tidak sama kaya pelayan disini bi ?. Mereka selalu menindasku bi, kenapa bibi baik banget sama aku" ucap Rara dengan berlinang air mata.
"Karena bibi memang berbeda sama mereka non, non juga boleh menganggap bibi ibu non sendiri" ucap bi Ina sambil mengusap air mata Rara yang jatuh di pipi mulusnya tersebut.
"Makasih bi akhirnya aku punya ibu lagi, apakah bibi punya anak ?" Tanya Rara
"Bibi nggak punya anak non, suami bibi meninggal setelah 2 tahun menikah, karena bibi nggak punya anak, nak Rara mau kan bibi anggap seperti anak bibi ?" Tanya bi Ina
" Iya bi Rara mau, lagi pula orang tua kandung Rara sudah tenang disurga. Rara seneng deh bi memiliki orang tua banyak. Ada ibu bapak, mama Risma dan papa Sam, dan sekarang ketambahan bi Ina" ucap Rara sambil memeluk bi Ina dengan erat karena terlalu bahagia
"Non tunggu sebentar ya bibi mau ambil obat oles untuk luka non Rara dulu" ucap bi Ina sambil beranjak dari duduknya
"Iya bi" ucap Rara sambil tersenyum.
Lima menit kemudian bi Ina sampai dikamar milik Rara membawa obat oles untuk memar dan membawa bantal juga selimut untuknya karena bi Ina mau menjaga Rara yang masih sakit.
Saat bi Ina masuk Rara menatap bi Ina cukup keheranan karena pikir Rara ngapain bi Ina bawa bantal dan selimut, karena tidak tahan dengan ke kepoannya ahirnya Rara bertanya
"Bi Ina ngapain bawa bantal sama selumut ? " tanya Rara
"Hehehe sengaja non " ucap bi Ina sambil garuk - garuk kepalanya karena bi Ina salting ditatap Rara penuh selidik
"Sengaja untuk apa bi ?" Tanya Rara karena belum faham
"Sebenarnya bibi mau tidur sama non Rara" ucap bi ina sambil menunduk
"Mau tidur sama Rara, yaampun bi Ina ada-ada aja sih mending bi Ina kembali kekamar bi Ina sendiri. Disini tidurnya pakek kardus bi nanti badan bibi bisa sakit semua" ucap Rara
"Nggak papa non bibi mau jaga non Rara selama sakit, siapa tau nanti non Rara butuh apa-apa kan bisa nyuruh bibi nggak perlu tuh keluar kamar" ucap bi Ina "Lagian bibi juga pengen rasanya tidur sama anak kecil non"
"Ihh bibi aku udah besar " ucap Rara sambil memajukan bibirnya
"Iya-iya udah besar nyatanya udah bisa bikin anak" goda bi Ina
"Ihh bibi kok gitu jadi sebel aku sama bibi" ucap Rara memalingkan mukanya
"Iya-iya bibi minta maaf ya. Ayo buka bajunya non biar bibi bisa oles lebam-lebamnya"
Tak butuh babibu Rara langsung buka bajunya dan langsung berbaring tengkurap. Saat bi Ina melihat luka lebam yang begitu banyak bi Ina ternganga mulutnya.
"Yaampun non ini luka lebamnya banyak banget" ucap bi Ina sambil mengoleskan obat tersebut diluka Rara
"Aduh bibi jangan ditekan " ucap Rara meringis
"Aduh maaf ya non bibi tidak sengaja" ucap bi Ina merasa bersalah
"Iya tidak apa-apa bi, makasih ya bi udah ngobatin luka Rara"
"Sama-sama non. Ahirnya selesai juga, Sekarang ayo kita tidur non karena ini sudah malam" ucap bi Ina sambil membereskan obat - obatan yang dia bawa
"Bi boleh tidak aku panggil bibi dengan sebutan ibu ?"
"Boleh kok non" ucap bi Ina sambil tersenyum karena panggilan sudah ia dambakan sejak dulu.
"Tapi ibu jangan panggil aku non dong, nanti kalo orang lain denger pasti Rara dikira anak durhaka " ucap Rara sambil memajukan bibirnya kedepan
"Iya ibu panggil kamu nak aja gimana " ucap bi Ina sambil menarik selimut untuk tidur mereka berdua
" makasih bu" ucap Rara sambil memeluk bi Ina yang sedang berbaring
Ahirnya Rara dan bu Ina tidur dimalam yang begitu dingin ini sambil berpelukan untuk menyalurkan kehangatan.