Angin berembus tenang. Seolah membelai mesra kedua pipi Aurara yang terlihat lebih putih di bawah sinar matahari. Aurara membenarkan posisi duduknya di sebuah sofa lusuh berwarna putih tulang kemudian memejamkan matanya, menikmati embusan angin. "Jangan merem, nanti ketiduran." Sebuah teguran membuatnya refleks membuka mata. Aurara menoleh ke samping kanannya. Senyumnya terbit. "Seumur-umur sekolah di sini aku enggak pernah, loh main ke rooftop," ucap Aurara. Dia menyapu pandang sekitar. "Palingan ke belakang sekolah, ke perpus, ke kantin, ke lapangan, ke toilet. Astaga, monoton banget tempat main aku, ya, Kaka?" Kaka balas menatap Aurara. "Lupa dulu pernah ke sini sama gue?" tanyanya dengan alis terangkat. "Masa iya?" heran Aurara. Bola matanya bergerak ke atas, mencoba mengingat. "

