"David??"
Nayla melambai-lambaikan tangannya di depan wajah David yang tengah melamun.
"Ah! Nayla, boleh saya menginap di sini semalam? "
Tanya David setelah sadar dari lamunan panjangnya.
"Ha? Menginap? "
Pertanyaan David sukses membuat Nayla kaget.
"Iya, ini sudah terlalu malam, tubuh saya lelah sekali. Jika kamu mengizinkan, saya tidur di lantai juga nggak papa kok."
Ucap David. Dia berencana menggali informasi. Namun di sisi lain, tubuhnya sudah benar-benar terasa lelah.
Nayla melihat ke arah jam digital di atas nakasnya. Waktu menunjukkan pukul 00:32 WIB.
"Baiklah. Anda tidur di kasur, biar saya yang di lan-"
Belum sempat Nayla menyelesaikan ucapannya, David menyela.
"Jangan terlalu bicara formal. Kamu kekasih saya kan?"
Ucap David sembari beranjak dari duduknya.
Nayla memalingkan wajahnya, menyembunyikan senyum yang tiba-tiba muncul karena ucapan David.
"Kamu tidur di kasur. Saya di lantai. Titik."
Nayla menganggukkan kepalanya, tidak ingin berdebat.
"Kamar mandimu sebelah mana? Badan saya rasanya lengket, seharian belum mandi"
Tanya David. Ia melepas jas nya yang tadi kotor terkena sayur.
"Di situ, itu pintu kamar mandinya."
Tunjuk Nayla ke arah pintu tepat di samping nakasnya, sembari ia menata alas tidur untuk David.
"Maaf ya, kamarnya kecil. Mandi, tidur, bahkan makanpun di satu ruangan" Ucap Nayla.
"Ssst! Tidak masalah di manapun tempatnya, asal sama kamu, saya bahagia."
David menaruh telunjuk di bibirnya. Sadar apa yang telah diucapkan, David membulatkan matanya.
"Mulutku kenapa bisa ngeluarin kata-kata menjijikkan seperti ini sih? Perasaan dari tadi aku melakukan hal-hal bodoh di bawah sadar!"
Teriak David dalam hati. Kemudian berlari ke arah kamar mandi.
Nayla yang mendengarnya hanya tersenyum geli.
"Padahal baru kenal sebentar. Tapi kenapa rasanya seperti ini?"
Batin Nayla, ia menaruh tangannya di d**a, seperti ada getaran dan perasaan yang berbeda.
Beberapa saat kemudian David keluar.
"Kamu nggak mandi?"
Tanya David setelah keluar kamar mandi. Tangannya sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Mandi. Ini mau masuk."
Jawab Nayla, kemudian masuk ke kamar mandi.
"Eh, apa ini?"
Lirih David, ia tidak sengaja menginjak secarik kertas, kemudian memungutnya.
"Foto?"
David lalu melirik ke arah pintu kamar mandi yang sudah tertutup rapat. Matanya memerah menahan amarah, tatkala melihat sosok di dalam foto tersebut.
***
-02.23 WIB-
"Hatchuu!!"
Mendengar David bersin, Nayla sontak terbangun. Ia kemudian melihat ke arah David yang masih tertidur pulas.
"Sudah kuduga, dia pasti bakal kedinginan."
Nayla beranjak dari kasur, membawakan selimut yang ia kenakan untuk diberikan kepada David.
Ia melangkah perlahan agar David tidak terbangun.
Setelah menyelimutinya, Nayla melihat wajah David lekat. Ia tidak ingin menyia-nyiakan momen ini.
Ia lalu mengayunkan tangannya ke wajah David, hendak menyentuhnya.
Tanpa Nayla duga, David tiba-tiba membuka matanya, dan spontan mendorong Nayla hingga posisi Nayla berada di bawah kungkungannya.
"Nayla!?"
David terkejut ketika mengetahui siapa yang baru saja ia dorong.
"Da-David, saya cuma mau kasih kamu selimut. "
Ucap Nayla terbata.
David lantas melihat selimut yang sekarang berada di sebelahnya. Ia menyadari bahwa Nayla berkata jujur.
Melihat wajah Nayla dari dekat, David teringat kembali foto yang saat itu tergeletak di lantai.
Ia menemukannya pada saat Nayla sedang mandi.
Melihat foto yang memerlihatkan Rendy dan Nayla sedang berpelukan mesra, membuat David merasakan kembali amarah di dadanya.
Karena tidak tahan dengan rasa penasarannya, ia lalu menanyakan langsung pada Nayla.
"Apa hubunganmu dengan Rendy?"
Tanya David, suaranya berat dan sedikit parau karena bangun tidur.
"Huh?"
Nayla kebingungan mendengar pertanyaan David. Bagaimana David bisa tahu tentang Rendy.
"Apa hubungan kamu dengan Rendy, Nay!?"
David sedikit meninggikan suaranya.
"Rendy siapa? Rendy atasan saya?"
Nayla bingung dengan sikap David yang sangat berbeda.
"Atasan? Apakah hanya sebagai atasan berhak memelukmu?"
"Memeluk?"
"Tadi saya nggak sengaja menemukan fotomu di lantai."
David lalu merogoh sakunya dan mengeluarkan foto Nayla yang sedang berpelukan mesra dengan Rendy.
"Ini!"
David menyodorkan foto di depan wajah Nayla.
Nayla diam sejenak, kemudian menjawab,
"Dia hanya mantanku."
"Jangan bohong!"
David berteriak ke arah Nayla.
Nayla tidak menjawab, lidahnya tiba-tiba kelu.
Melihat ekspresi David yang menyeramkan, Nayla tidak berani menatap mata David.
Dalam hati kecil David, ada perasaan tidak terima saat mendengar jawaban Nayla.
Ia tidak terima karena Rendy pernah menjadi bagian terpenting dalam hidup Nayla.
Mengetahui fakta bahwa mereka begitu dekat, membuat David semakin yakin, bahwa kejadian yang menimpa mamanya tadi pagi adalah rencana Rendy dan Nayla.
"Jawab Nayla!!!"
Teriak David lagi, karena tidak ada jawaban.
"Saya nggak bohong! Kamu kenapa sih? Ada apa? Kenapa kamu begini? Dia hanya masa lalu! Saya bahkan lupa jika foto itu masih ada! Saya nggak sempat buang karena terlalu sibuk mencari pekerjaan!"
Nayla mulai ketakutan, air matanya tak mampu lagi ia bendung.
David merasakan nyeri di dadanya, tatkala sadar telah membuat Nayla ketakutan dan menangis.
Entah kenapa tiba-tiba ia merasa bersalah melihat wanita di hadapannya menangis sesenggukan.
" Maaf." Lirih David.
David melepaskan cengkeraman pada lengan Nayla. Lalu menarik Nayla dalam pelukannya.
Nayla membenamkan wajahnya di d**a bidang David, dan menumpahkan tangisannya.
Untuk sesaat, ia hampir tidak mengenal sosok pria di hadapannya.