*** Davin menggeliat di atas ranjang hotel. Membuka perlahan kelopak matanya, sambutan secercah sinar matahari yang menyusup melalui gorden jendela berwarna putih tulang membuat netranya menyipit kembali. Ia menegakkan badan, lantas berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Lima belas menit ia habiskan untuk menyegarkan diri. Ritual mandinya sedikit berbeda karena beberapa kali ia refleks menjauhkan satu tangannya dari guyuran air shower, padahal ia tahu perban anti air tidak akan menembus lukanya. Jahitan itu masih basah, namun rasa nyeri di tangannya tertutup oleh hatinya yang berbunga-bunga. Keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk di pinggang. Rambutnya yang masih setengah basah ia keringkan menggunakan handuk kecil. Duduk di bibir ranjang sembari tangan kanannya memainkan po

