*** Seira yang awalnya semangat demi mendengar suara Amam, seketika terdiam. Dia sedang duduk di teras, di kursi rotan rumah neneknya, menikmati kegelapan. Rumah itu memiliki halaman yang besar, biasa digunakan untuk bermain anak-anak. Di depannya ada jalan yang tak begitu lebar, dilalui empat-lima kendaraan. Bulan bersinar terang malam ini, tetapi tidak bagi Seira. Dia meremas ponselnya, menunduk. Dia tidak menyangka Amam akan menjadi seperti itu. Semua rasa takutnya seolah jadi kenyataan. Septi keluar dari rumah, memanggil anaknya. "Makan dulu, Sei." Seira buru-buru mengesat air matanya dengan lengan baju sebelum memutuskan menoleh. Septi merasa ada yang aneh, dia lantas menghampiri Seira dan duduk di sebelahnya. "Kamu kenapa, sayang?" Seira tidak ingin terlihat lemah di hadapan m

