Salah rumah sakit. Amam dan Sonya lalu berpindah ke rumah sakit yang lain, tetapi tidak ada yang namanya Seira. Dari empat rumah sakit dan klinik yang mereka datangi, semuanya nihil. Amam frustasi. Dia duduk di atas motornya, cengo. Malam semakin matang, mulai menunjukkan indetitas sebagai pagi. Hampir pukul tiga, Amam masih merasa buntu. Saking panik dan bodohnya, Amam sampai lupa kalau Sonya memegang ponsel juga dan di ponsel itu ada nomor Seira. Tetapi memang, Seira tidak mengangkat teleponnya. Begitu juga Acel dan Septi. Tanpa disuruh oleh Amam, selama di atas motor Sonya melakukan apa pun yang bisa ia lakukan meski dia pun sekarang tengah pucat. Dia masuk angin hebat. Perutnya terasa melilit, pandangannya mengabur. Langit mulai menghitam, udara dingin menyelimuti mereka. Tak lam

