Malam harinya seorang laki-laki datang ke kamar rawat Amam. Dia tampak kebingungan, menyembulkan kepalanya di pintu-pintu yang terbuka, atau jendela yang gordennya tidak tertutup dari semua kamar bertuliskan Melati di pintunya. Amam sendiri yang menyadari kedatangan pria itu, yang semula sempat membuat Amam hampir jantungan. "Astaghfirullah!" Seruan dari Amam membuat laki-laki itu tersadar dan tersenyum. "Amam!" Dia pun menggeser kakinya ke kiri beberapa langkah dan masuk dengan lancang ke ruang rawat inap Amam. "Lu kenapa? Nabrak apa astaga?" Tanpa tedeng aling-aling dia menyeret kursi di sebelah ranjang dan duduk di sana, memandangi Amam dengan serius sementara tangannya menurunkan tas ransel yang tersampir di pundak. "Kaki sama muka udah kayak mumi dibungkus perban." "Mulut lo

