Amam pov Mentoring selesai ba'da Ashar. Aku mengemasi barang-barangku dan mengambil jaket hijau di dalam jok lalu mengenakannya. Masih ada beberapa jam untuk menarik pelanggan ojek online sebelum magrib. Tak seperti biasa, Seira tidak menghubungiku. Aku menarik napas yang rasanya cukup berat, mataku menatap langit biru yang panas terik. Rian, Yori, Enan, dan Bang Rahman sudah pergi sejak lima menit yang lalu, menyisakan aku dan sekelompok anak paskibra yang sedang berlatih di tengah lapangan. Seru melihat teman-temanku semangat berlatih, mengejar semua mimpinya di masa SMA. Berbeda denganku yang harus memutus mimpi itu karena kesalahan aku sendiri. Aku lalu memutar kunci motor bebekku, menyalakan starternya. Kumasukkan dua gigi sebelum menarik gas yang membuat aku meluncur meninggalkan

