Kekesalan Nathan

1273 Kata
"Sialan! Dia gak lewat sini!" Nathan mengumpat kesal, dua jam berlalu pun orang yang ditunggu pun tak datang-datang. Arga tak melewati jalan dimana laki-laki itu sudah menunggu. "Setau gue, setiap kali pulang dia selalu lewat jalan ini, kenapa di saat kita tunggu dia, dia malah gak lewat sini!" timpal Hendra. "Kerja loe gak bagus, Ben!" Nathan memaki. "Lagi-lagi loe nyalahin gue, Nathan?" "Ya harusnya kan loe memastikan dulu supaya dia sampai kesini dengan mata kepala loe sendiri?" "Kan gue udah bilang, gue udah mastiin dia lewat sini. Dia udah naik motor udah lewat jalan ini. Ya gue gak tahu kalau akhirnya dia gak sampai ke sini." "Harusnya loe ikutin dari belakang, bukan loe yang duluan!" "Loe bisanya ngomong cap cap cuap aja ya?" "Ya di sini gue yang ngatur, jadi kalau kerja loe gak bener gue juga bisa marah!" "Gue juga bisa marah kalau kerjaan loe cuma ngatur-ngatur aja! Loe cuma punya ide, tapi semuanya kita yang ngerjain. Loe tukang perintah!" Kali ini emosi Beni pun naik karena Nathan yang terus menyalahkannya. "Ya wajar dong kalau gue merintah! Toh kalau rencana kita sukses loe akan dapat imbalan ini dari gue!" "Ah berisik loe!" sergah Beni marah sambil menarik kerah Nathan, matanya melotot. Hendra yang awalnya hanya Mendengarkan perdebatan mereka pun sekarang kaget, dua orang temannya saling melotot dan menyiapkan kepalan tangannya masing-masing untuk saling meninju. "Hey, hey, sadarlah kalian! Kenapa malah ribut? Gagal hari ini, masih ada hari esok. Nathan, Beni, loe berdua! Ahh gue kecewa! Cuma masalah kecil begini aja udah saling melotot?" Hendra menengahi mereka yang sudah siap bergelut. "Diam loe, Ndra. Nih kunyuk kudu dihajar biar gak seenaknya nyalah-nyalahin orang." "Loe harus sadar Ben, kita masih bisa melakukan itu besok. Jangan malah kalian yang saling tonjok. Team kita bisa runtuh, padahal belum tercapai misi kita ini." Nathan dan Beni terdiam. Keduanya membenarkan ucapan Hendra. "Lepas tangan kalian berdua!" titah Hendra, akhirnya Nathan melepaskan tangannya yang mengecam di kerah baju Beni, begitupun sebaliknya. "Awas ya kalian bersikap kaya gitu lagi. Kaya anak kecil loe berdua. Misi belum selesai udah pada ribut! Kalau begini caranya gue malas melanjutkan misi kita ini!" Kali ini Nathan dan Beni langsung menoleh, kalau Hendra mundur mereka kehilangan satu team yang berharga. "Jangan begitu, Ndra." ucap mereka dengan bersamaan. Hendra adalah orang yang cukup diandalkan, mereka bertiga memiliki dendam tersendiri kepada Arga. Jadi apapun yang terjadi dendam tersebut harus dilanjutkan, dan tidak boleh berhenti kalau belum tercapai. "Makanya loe berdua harus dewasa. Kalau kalian begini lagi, sumpah gue bakal mundur dan lebih baik rencana kita dibatalkan aja." "Iya sorry, sorry. gue terbawa emosi. Gue janji akan jaga emosi, sorry Ben. Gue kecewa aja, soalnya udah bahagia banget buat balas dendam ke laki-laki b******k itu, ternyata dia malah gak lewat!" ucap Nathan. "Oke gue juga minta maaf Nathan." timpal Beni. "Pokoknya kita ini harus jadi team yang solid. Hari ini gagal, tenang! kita masih punya hari yang lain. Jangan bosan dan mengeluh, jalan kita masih panjang, Bro." "Jadi bagaimana rencana kita?" "Kita lanjutin besok, besok kita pastikan kalau dia lewat jalan ini lagi." Beni dan Hendra mengangguk, "Hari ini pulang dulu, Bro. Besok loe berdua datang lagi, ya?" pinta Nathan pada dua orang yang akan membantu mereka bertiga dalam menyelesaikan misi terencana ini. "Oke, Bro." *** Arga merebahkan tubuhnya yang lelah, mengamati langit-langit kamar yang putih, pikirannya menerawang jauh. Tak lama kemudian ia memegangi dadanya yang berdetak normal, sepanjang bersama dengan Rinda tadi laki-laki itu terus berdebar kencang. Malam ini pun, ia jadi memikirkan gadis itu terus. Ada apa ini? Arga bertanya-tanya, meski mungkin laki-laki itu tahu jawabannya. Apa yang dirasakannya ini ... apakah itu cinta? Teringat Rinda yang selalu ketus dan manja tapi terlihat menggemaskan. Senang sekali berdebat dengannya dan tidak mau mengalah tapi terlihat imut dan lucu. Yang pasti, gadis itu selalu mengundang tawa. Dia juga sangat baik, teringat bagaimana kakinya tadi terluka karena mengejarnya sampai sejauh itu. Bajunya sampai basah karena keringatnya mengejar laki-laki itu, mengelilingi kampus, naik ke lantai tiga dengan berlari di tangga, dan turun pun dengan cara yang sama. Saat dia menghampiri Rinda pun, gadis itu sedang menangis terisak-isak, mengira bahwa ia sudah gagal menyelamatkan Arga. Mengira bahwa ia sudah terlambat. Semua yang ia lihat pada diri Rinda, membuatnya suka. Jika mengingat gadis itu, membuatnya senang. Apalagi dia juga ... cantik. Gadis tercantik yang ia lihat di kampus, baginya. Entah bagi orang lain. Ahh entahlah, laki-laki itu membiarkan saja perasaannya akan mengalir seperti apa. Yang ia fokuskan sekarang sebenarnya bukan itu, dia harus fokus pada program-program BEM yang belum sempat terlaksana, dia fokus pada tugasnya sebagai seorang mahasiswa, dia harus fokus belajar, menjadi pekerja paruh waktu, dan ia juga harus fokus pada Nathan! Ya, Nathan! Laki-laki berbahaya yang ingin membalaskan dendam padanya. Arga berpikir, hari ini dia boleh selamat. Tapi lain hari, entahlah! Laki-laki itu memang harus benar-benar waspada. Untungnya Rinda lekas memberi tahu rencananya. Arga juga meyakini, kalau hari ini rencana Nathan dan teman-temannya telah gagal, hari esok pasti mereka akan mencoba lagi. "Huufffttt ...." "Rinda dan Nathan. Kenapa bisa Rinda terperangkap sama cowok b******k begitu? Untungnya sekarang udah putus. Kasihan Rinda, dia gak tahu aja Nathan itu udah b******k dari dulu." gumam Arga. Entah kenapa laki-laki itu malah terpikirkan ke arah sana. *** Rinda berjalan dengan sedikit pincang. Luka di kakinya dibalut dengan perban. Tadi sudah diobati Arga, malam ini ia berniat mengganti perban tersebut di lututnya. Kalau dipikir-pikir, Arga yang menyebalkan itu ternyata baik juga. Sikapnya memang terkadang sangat santai dan menyebalkan, tapi di balik itu semua Rinda akhirnya tahu, Arga itu sosok yang pintar, bekerja keras, disiplin, berani dan jago bertarung. Ahh Rinda juga tidak mengerti kenapa malam ini dia begitu memikirkan laki-laki itu. Gadis itu menghembuskan nafasnya, besok ia harus mencari tahu rencana Nathan. Meskipun benci setengah mati pada laki-laki yang sempat ia cintai itu, tapi mau tak mau ia harus mendekatinya lagi. Untuk membaca rencana Nathan yang selanjutnya. Sebab Arga pasti akan selalu diincar. Gadis itu sedang melamun di ruang tamu saat Satria, kakaknya pulang dari toko. "Dek, melamun?" sapa Satria saat tiba di depan pintu. "Eh kakak udah pulang?" "Loh, loh, loh! Itu lutut kamu kenapa dua-duanya diperban begitu?" Satria kaget, sedang Rinda tidak kalah kaget. Buru-buru ia menutupi lututnya dengan roknya yang tadi ia singkap, gadis itu menepuk jidat. Malah ketahuan! "A-aku jatuh tadi, di-di aspal." "Astaga kamu ini, ya. Kemarin keseleo, sekarang jatuh ke aspal. Kamu jalan sambil ngigo, ya?" cecar Satria tidak habis pikir pada adiknya. Sedangkan Rinda sendiri, antara takut diomeli dengan lucu karena kalimat Satria barusan membuatnya jadi menahan tawa. "Heh orang lagi dimarahi kok malah senyam-senyum?" "Pfftttt ..." "Ma-maaf, Kak. Maaf." "Kenapa kamu jatuh sampai lutut dua-duanya terluka begitu?" "Ini ... anu, aku ... tersandung batu, Kak." "Ya ampun. Kamu juga kemana lagi? Tadi sopir ngabarin kakak, katanya pas jemput kamu, kamu udah gak ada di kampus. Rinda terdiam, matanya membulat. Bahkan ia sampai lupa bahwa ia masih dijemput oleh sopir suruhan kakaknya. Tapi hari kemarin memang tidak, sebab sang sopir ada keperluan. Rinda lupa, bahwa dia masih disuruh kakaknya untuk tidak naik angkutan umum. Sebab Satria sudah mencari orang yang benar-benar hati-hati dalam berkendara. "Kak, Rinda gak usah diantar jemput lagi lah. Malu aja gitu kaya anak TK." ujar Rinda mengatakan keinginannya. "Biarin aja kaya anak TK, yang penting hati kakak tenang." "Ish kakak!" Rinda memasang wajah cemberutnya, tapi ia tahu bahwa apapun keinginan Satria sulit dibantah, selama itu untuk kebaikan Rinda sendiri. "Huhhh males ah!" ujar Rinda lalu bangkit dari duduknya. "Heh Dek mau kemana? Sini kakak lihat dulu luka kamu." Dan seperti itulah Satria, yang selalu menganggap adiknya itu seperti anak kecil usia tujuh tahun. Dia lupa, bahwa adiknya sudah dewasa dan mulai mengerti cinta. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN