Ujian itu datang dalam bentuk yang sangat akademik: Undangan kerja. Untuk Tara. Di luar negeri. Proyek riset dua tahun. Prestisius. Menggiurkan. Dan jauh. Dia menunjukkannya padaku tanpa ekspresi besar. “Menurutmu?” Aku membaca emailnya. Aku menatapnya. “Itu luar biasa.” “Itu jawaban profesional.” Aku tersenyum kecil. “Kamu minta jawaban apa?” “Jawaban jujur.” Aku menarik napas. “Aku akan merindukanmu.” Dia menatapku. “Dan?” “Aku tidak mau kamu menolaknya karena aku.” Dia mengangguk. “Aku tidak mau kamu menyuruhku pergi karena kamu.” Kami tertawa kecil. Dua orang dewasa yang mencoba tidak merusak hal baik dengan ego. “Aku belum memutuskan,” katanya. “Kapan kamu harus jawab?” “Minggu depan.” Aku mengangguk. “Oke.” Itu semua. Tidak ada drama. Tidak ada air ma

