Hari-hari setelah Maya pindah berjalan… datar. Tidak sedih. Tidak bahagia. Hanya datar. Seperti kopi tanpa gula. Bisa diminum. Tapi tidak meninggalkan apa-apa. Aku kembali ke rutinitasku. Datang pagi. Mengajar. Diskusi. Pulang. Menulis. Tidur. Tidak ada lagi pesan malam. Tidak ada lagi jeda panjang di lorong. Tidak ada lagi percakapan yang menggantung. Dan jujur saja… Itu lebih tenang. Dan lebih sepi. Mahasiswa mulai menyesuaikan. Mereka tidak lagi menyebut nama Maya. Mereka tidak lagi membandingkan gaya mengajar. Dunia cepat melupakan. Itu baik. Dan itu kejam. Suatu sore Aruna duduk di mejaku setelah kelas. “Pak… Bapak kelihatan lebih kurus.” Aku mengangkat alis. “Itu pujian atau laporan medis?” “Observasi.” Aku tertawa kecil. “Aku baik-baik saja.” Dia men

