Kami tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Kami terlalu pintar untuk menjawab cepat. Dan terlalu sadar untuk menghindar lama. Kami hanya berjalan. Keluar dari kampus. Menyusuri trotoar. Tanpa tujuan. Seperti dua orang yang tahu percakapan ini tidak punya versi ringan. “Aku tidak mau kamu terluka,” kataku. Dia tersenyum kecil. “Aku tidak rapuh.” “Aku tahu. Tapi aku peduli.” Dia menoleh. Itu bukan tatapan manis. Itu tatapan jujur. “Aku juga peduli.” Dan itulah masalahnya. Kami duduk di bangku taman kecil. Anak-anak berlari. Pasangan muda tertawa. Dunia tetap berjalan seperti biasa. Sementara kami duduk seperti dua orang yang sedang memutuskan arah hidup. “Aku tidak ingin jadi alasan kamu disorot,” kataku. “Aku tidak ingin kamu jadi alasan aku takut.” Kami terdiam.

