Bab 43

1638 Kata

Aku mulai menyadari satu pola yang tidak sehat. Setiap kali aku berkata pada diriku sendiri, “Santai aja, nggak ada apa-apa,” hidup selalu menjawab dengan, “Oh ya? Nih.” Pagi itu aku datang ke kampus dengan niat lurus. Ngajar. Pulang. Tidak mikir apa-apa. Tidak memperhatikan siapa pun. Tidak overthinking. Lima menit kemudian, niat itu mati. Aku masuk lift fakultas. Sepi. Tenang. Lalu pintu terbuka lagi. Dan Kayla masuk. Sendirian. Aku berdiri di sisi kanan. Dia di kiri. Jarak aman. Tidak saling menyentuh. Tapi udara di lift mendadak terasa seperti terlalu sadar diri. Kami diam. Aku menatap angka. Dia menatap pantulan kami di cermin. Lift bergerak pelan. Lama. Terlalu lama. Kayla membuka suara. “Pak.” “Ya?” “Bapak percaya nggak…” Aku menahan napas. “…kalau dia

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN