Pov Zarina
Aku merasa ada yang berbeda dari tubuhku setelah kejadian di tempat penyewaan buku. Seperti lebih mudah merasa terangsang dengan hal-hal kecil.
Saat pelajaran pun pikiranku dipenuhi detail ingatan kejadian tersebut.
Sampai akhirnya pak Stevan guru sejarah killer mengetahui bahwa aku sedang melamun. Ah sial nasibku. Disuruh pergi ke ruangannya saat pulang sekolah.
Padahal aku ingin segera pulang dan menuntaskan hasratku mumpung mama belum pulang.
Sesampainya di ruangan, aku tidak melihat tanda-tanda kehadirannya.
Aku pun berbalik dan berencana untuk keluar. Yang penting aku udah berusaha kesini tapi beliau tidak ada.
Tapi saat itu, pak Stevan masuk dengan buru-buru dan bertabrakan denganku. Dan tangannya tidak sengaja menindih payudaraku, tekanan tangannya membuatku terangsang.
Dan aku yang tercengang, hanya bisa diam dan menatap matanya.
Ia segera bangkit dan melepaskan tangannya.
Aku merasa bagian bawahku berkedut dan mulai lembab karena mulai terangsang.
Karena itu, pandanganku seringkali hanya ke arah selanhkangannya.
Sebetulnya saat mengajar, sering aku curi-curi pandang ke itunya yang terlihat menyembul. Jadi aku hafal bagaimana bentuknya dari luar.
Kali ini, kurasa dia juga terpengaruh kejadian barusan.
Kulihat celananya terlihat lebih ketat dan itunya lebih menonjol dari biasanya.
Dia menyanyaiku dengan beberapa pertanyaan dan membuatku menangis.
Sampai pasa saat ia menyebut ibuku, tangisanku semakin menjadi.
Aku merasa bersalah dengan orang yang telah melahirkanku ke dunia itu.
Diriku terasa kotor, sudah dijamah oleh cowok yang bahkan baru ku kenal sehari.
Sialnya, Pak Stevan tau aku daritadi curi-curi pandang ke arah k*********a. Saat ia menepuk nyamuk di pahaku, aku malah semakin terangsang.
"Kamu penasaran dengan itu cowok Zar?" Tanya pak Stevan mulai vulgar.
Aku kaget dengan pertanyaannya, tak kukira seorang guru sepertinya berani se vulgar itu pada muridnya.
"Aku tahu daritadi kamu curi-curi pandang kesini." Tunjuknya ke arah k*********a.
Ia pun mengambil tempat duduk tepat disebelahku. Wajahku diarahkan menghadapnya.
Tenggorokanku terasa tercekat, tak bisa keluar sepatah kata apa pun. Aku takut hal seperti dengan Vino terjadi lagi.
"Kamu sudah pernah diraba cowok?" Tanyanya.
Aku hanya menggeleng pelan.
"Jangan bohong, aku tahu tanpa kamu mengatakannya. Kamu baru pertama mengalami aktivitas seksual, karena itu kamu tidak bisa fokus dengan pelajaran. Ingatanmu hanya ke kejadian itu saja." Kata Pak Stevan tepat sasaran.
Air mataku pecah lagi, aku menangis di depannya.
Ia memelukku dan aku masih terus menangis di pelukannya.
15 menit berlalu dan aku masih sesenggukan setelah lama menangis. Beban di dadaku seperti hilang.
"Semangat Zarina, life must go on. Dengan kejadian itu aku harap kamu bisa belajar. Jangan mudah tergoda dengan laki-laki yang hanya memanfaatkanmu saja. Seusia kamu itu memang masih penasaran dengan hal-hal berbau seksual." Jelas pak Stevan.
Aku kagum dengannya, bawahku semakin berkedut melihat kharismanya.
Ahh, aku mulai membayangkan bagaimana enaknya jika ia nyusu ke payudaraku dan meremas p******a satunya. Uuuhhh, pasti nikmat banget rasanya.
Ah, aku ada ide bagus.
"Pak, bisa minta tolong garukin punggung saya."
Aku merubah posisi duduk menjadi membelakanginya.
"Sebelah mana yang gatal?" Tanyanya tanpa curiga.
"Di punggung tengah pak"
Tangannya mulai menggaruk bagian itu.
"Kurang keras pak, masih gatal. "
"Maaf gak bisa Zar, ini kan pas di bawah kaitan bra kamu. Sulit garukinnya."
"Yaudah aku lepas aja ya pak atasannya, aku gak kuat, gatel banget."
"Eh jangan dong, nanti dikira aku apa-apain kamu." Tolaknya.
"Trus gimana dong pak, ini saya gak betah. Udah kulepas aja."
Aku semakin menggodanya dengan melepas seragamku dan kuminta ia membuka kaitan bra ku. Dengan posisi seperti itu, aku bisa merasakan nafasnya di punggungku.
Dia membuka kaitan dengan ragu, lalu menggaruk punggung polosku dengan pelan.
"Kurang keras garukinnya pak, aduhh gatel. Mungkin kena nyamuk atau semut."
Pak Stevan menggaruk punggungku yang tidak gatal dengan keras.
Aku tahu ia pasti curi-curi pandang ke arah payudaraku yang terlihat sebagian dari samping bawah lengan dan dari atas yang terlihat belahannya.
Deru nafasnya semakin cepat, sepertinya Ia mencoba menahan nafsunya.
Membuat aku semakin ingin menggodanya.
"Bisa digarukkan yang bawah lengan saya nggak."
"Maaf kamu garuk sendiri aja kalau disitu." Ia tetap menolak.
"Nanggung nih pak, sekalian aja garukin. Tinggal tangan bapak majuin dikit."
Dengan ragu-ragu tangannya bergerak maju menuju bawah lenganku.
Aku mengubah posisi sejajar dengannya lagi. Dari situ dia pasti semakin jelas melihat belahan dan samping payudaraku yang tidak tertutup bra.
Aku memang sering memakai bra satu nomor dibawah ukuran sebenarnya.
Jadi hanya bisa menutup sebagian payudaraku.
Tangannya sampai ke samping payudaraku, saat menggaruk pasti terkena sebagian bongkahan kenyalku.
Aku merasakan bagian bawahku semakin basah seiring dengan hasratku yang semakin memuncak.
"Aah persetan dengan guru-murid" Gumam Pak Stevan yang sudah tidak tahan lagi. Tangannya menyusup ke bawah payudaraku. Dan diremasnya dengan kasar.
Di ambilnya tali bra ku dan dilemparkan dengan kasar.
Sekarang tubuh bagian atasku benar-benar polos.
Reflek tanganku menutupi putingnya.
Pak Stevan seperti kesetanan karena daritadi menahan hasratnya.
Ia menidurkanku di kursi panjang itu dan menindihku, kedua tangannya meremas susuku dengan kasar.
"Aahhh ahhh pelan pakkk." Desahku. Libidoku semakin tinggi.
"Siap suruh daritadi godain aku. Rasakan hukumanmu."
Telunjuk dan ibu jarinya memilin pentilku. Rasa nikmat menjalari seluruh tubuhku
"Aaahh ahhh aaahhh, paakk, ssshhhh nikmaaat."
Desahanku semakin kencang.
Ia terus memilin ujung payudaraku diselingi dengan meremas-remas kasar kedua payudaraku.
"Susumu gede banget, kamu seksi Zarina." Pujinya.
"Ssshh ahhh ahh,, shhh pakk,, sudahh."
Tangan satunya mulai mengangkat rokku, sementara yang lain masih sibuk meremasi p******a besarku.
Rokku di angkatnya dan tangannya menyusup ke cd ku yang telah basah kuyup.
Telunjuknya menggesek-gesek dari luar cd. Dengan agak ditekan sehingga terasa ke ujung kewanitaanku.
"Mmmhhh aaah iyaa disituu pak. "
Di loloskannya cd ku, dan dimintanya aku mengangkang di kursi.
Ia memandangi vaginaku yang tercukur rapi sambil tangannya tetap tidak bosan meremas gunungku.
Telunjuknya di sisipkan di vaginaku yang tidak tertutup apapun
"Disini Zar?" Bisiknya menggoda saat ketemu daging kecil kewanitaanku.
"Aaahh pakkk ssshhhh ooohhh" Kepalaku mendongak ke atas dan bibirku terbuka hanya mengeluarkan desahan daritadi. Mataku terpejam supaya lebih dalam merasakan permainan pak Stevan.
Telunjuknya menggelitiki daging itu dengan cepat. Aku pun kelonjotan dibuatnya. "Aaahkk oohh f*ck." Kataku sambil mengangkat-angkat b****g.
Permainan jari Pak Stevan betul-betul nikmat. Aku hanya bisa menggoyangkan badan sambil mendesah kenikmatan dibuatnya.
Semakin lama aku merasa rasa nikmat itu semakin tinggi.
Seperti mendaki gunung, gosokan telunjuk pak Stevan membuatku menuju puncak.
Sampai akhirnya....