Pov Zarina
Seperti mendaki gunung, gosokan telunjuk pak Stevan membuatku menuju puncak.
Sampai akhirnya....
"Zaaarr, Zarina... Kamu didalam?"
Tok, tok, tok. Suara pintu kantor pak Stevan diketuk.
Aku yang sedang enak-enaknya menikmati permainan jari Pak Stevan kaget.
"Krisna? Aduh bagaimana ini. " Aku berbisik ke pak Stevan yang segera melepaskan tangannya dari tubuhku.
Tok tok tok, suara pintu diketuk lagi.
"Kamu sembunyi di belakang lemari. Biar aku yang buka pintunya. "
Aku memakai baju dan merapikan rokku, celana dalam tidak sempat kupakai, hanya kulipat aja dan kubawa.
Pak Stevan merapikan bajunya dan membukakan pintu.
Terlihat Krisna di depan pintu.
"Kau cari siapa? Ini ruangan saya." Katanya tegas
"Saya cari Zarina teman saya pak, yang tadi kata teman sekelasnya di suruh keruangan bapak pulang sekolah."
Saya tungguin di gerbang tapi dia gak keluar-keluar.
"Zarina yang mana ya? Oohh iya, yang nglamun di kelas ya. Tadi memang keruangan saya sebentar. Saya beri tugas untuk dikerjakan dirumah. Lalu ia pulang." Ucap pak Stevan berpura-pura lupa.
Pinter juga akal-akalan nih guru c***l. Aku yang mendengarkan dari balik lemari hanya tertawa tertahan.
Krisna masih berdiri di depan pintu, sambil mengamati ruangan pak Stevan.
"Lho itu tas Zarina kan pak?" Katanya setelah tau tasku yang di kursi.
Aduh, lupa aku kalau tasku ada di sana, gara-gara tadi keburu sembunyi.
"Ohhh itu tas temenmu ya, kukira punya siapa. Malah tadi mau ku buang." Ujar pak Stevan menutupi kegugupannya.
Pak Stevan masuk ruangan dan mengambil tasku. Krisna yang akan mengikutinya tidak diperbolehkan masuk dengan alasan privacy.
Yah, kok tasku malah dibawa Krisna sih. Aku minta dibawain besok aja ah.
Setelah menerima tasku, Krisna pun pergi.
Huffth, untung gak ketahuan.
Pak Stevan sudah tidak bernafsu lagi untuk melanjutkan. Tadi ia memang sebetulnya tidak tergoda, hanya aku yang ingin menggodanya.
Kami hanya saling diam setelahnya. Pak Stevan kembali ke kursinya dan membuka berkas-berkas yang entah apa isinya.
"Saya pamit pulang dulu pak." Kataku menyudahi kecanggungan ini.
"Iya hati-hati
Aku pun pulang tanpa membawa tas.
Saat naik angkot, aku lupa kalau tidak memakai celana dalam.
Posisiku di belakang supir menghadap pintu angkot.
Di dalam angkot hanya ada 3 orang penumpang selain aku. Di pojok kanan ada pemuda kuliahan yang sedang pakai headset, 2 orang ibu-ibu yang membawa belanjaan buanyak di pojok kiri,
Karena biasa memakai celana dalam dan celana pendek untuk dobelan. Aku pun duduk seenaknya.
Beberapa pengendara motor yang bersebelahan dengan angkot di lampu merah memperhatikanku. Salah satunya bahkan mengacungkan jari tengahnya kepadaku. Kurang ajar sekali.
Lama-lama aku merasa semriwing angin di area bawahku.
Aku baru sadar kalau tidak memakai apa-apa lagi dalam rokku. Langsung kubetulkan posisi dudukku dengan benar supaya tidak ada lagi yang mengintip.
Angkot melewati satu sekolah smp negeri yang cukup terkenal di kotaku dan segerombolan siswa smp pun naik.
Karena mereka saling kenal dan pasti akan ngobrol berisik di dalam, aku bergeser ke pojok sebelah kanan di dekat mahasiswa berheadset.
Aku memperhatikan wajah pemuda tersebut, familiar rasanya seperti pernah tau, tapi aku lupa.
Ia seperti tidak peduli dengan sekitarnya. Serius sekali memandang HP nya. Sekilas kulirik layar hpnya dari samping, aku terkejut dengan apa yang ia lihat.
Ia sedang menonton video online dari sebuah situs p*rno. Aku hafal dengan tampilan situs yang dominan dengan warna biru tua.
Aku melirik lagi penasaran dengan apa yang ia tonton. Ternyata layar hpnya sedang menampilkan adegan cewek jepang cosplay menjadi suster dan disetubuhi dari belakang.
Dasar cowok, kenapa pada suka video b*kep seperti itu sih.
Ia mengganti posisi duduknya dan menaruh tasnya di pangkuan.
Aku merasa lama-lama tangannya di gesek-gesekkan di tanganku. Aku pun tidak menolaknya, karena dia tipe cowok idamanku.
Ia pun memegang tanganku dan mengarahkan ke bawah tasnya. Aku menarik tanganku dan menatapnya untuk protes.
Tapi ia mengetik sesuati di HPnya dan menunjukkan kepadaku. 'Diam dan turuti keinginanku atau mau aku buka rokmu supaya semua orang tau kalau kamu gak pakai CD.'
Hah, dia tau aku kalau aku gak pakai daleman. Daripada resiko ketahuan semua orang. Akupun menuruti maunya.
Tanganku dipegang dan di sisipkan di atas pahanya di bawah tas ranselnya. Aku merasa ada yang menegang disana. Tonjolannya lumayan besar dan keras.
HPnya mulai memperlihatkan video p*rno lagi. Cewek jepang berkuncir dua dimainkan oleh beberapa orang di sekujur tubuhnya.
Sambil menonton, ia menggesekan tanganku ke k*********a dari luar celana.
Tangannya ia tarik dan memainkan hpnya, aku mengerti kalau ia ingin aku melanjutkan gesekan tanganku di k*********a.
Tak ingin berlama-lama dengan keadaan tersebut, aku pun berpura-pura sudah sampai tujuan.
"Kiri pak." Teriakku sambil melepaskan tanganku.
Setelah turun, aku memutuskan berjalan sebentar untuk naik angkot dengan jalur yang sama lagi.
Tidak ingin mengulang kesalahan, setelah naik angkot, aku membetulkan sedemikian rupa posisi dudukku. Sehingga tidak terjadi pelecehan seperti tadi.
Akhirnya aku sampai rumah dengan selamat. Ku merasa hari ini berjalan amat panjang dengan semua kejadiannya.
Aku segera mandi untuk membersihkan badan, khususnya area bawahku yang daritadi basah kuyup.
Sambil pakai sabun, sengaja aku berlama-lama menyabuni payudaraku. Daritadi aku belum o*****e, sehingga tubuhku terasa masih sensitif dengan sentuhan.
Kupilin-pilin putingku yang semakin mengeras. Sabun di tubuhku ku bersihkan, aku tak tahan untuk tidak memainkan vaginaku.
Ku gesekkan telunjukku ke daging kecil dalam kewanitaanku yang paling sensitif terhadap sentuhan.
Rasa merinding yang nikmat mengalir ke seluruh tubuhku. Cairan kenikmatanku mulai membasahi dan membuat licin jari-jariku.
Kumasukkan dua jari ke lubang hutanku. Ahhh nikmat sekali rasanya.
Kuku jari manis dan jari tengahku memang tidak pernah kubiarkan panjang untuk memuaskan hasratku.
Kukocok pelan-pelan sambil tangan satunya tetap meremas-remas payudaraku.
Kocokanku semakin lama semakin cepat, rasanya semakin nikmat.
"Ahhh ahhh uuuh" Aku tak tahan untuk tidak mendesah.
Kupandangi mukaku yang sayu saat terangsang di cermin kamar mandi. Mulutku terus menganga mengeluarkan desahan-desahan tanda kenikmatan yang kurasakan.
Untungnya dirumah tidak ada siapa-siapa. Mama baru akan pulang jam 6 sore.
Kocokanku semakin cepat dan lebih cepat lagi. Terasa gairahku semakin meninggi.
"Aahhhaaaaahhhhhh.." Aku mendesah keras.
Akhirnya o*****e kudapatkan setelah daritadi nanggung. Badanku rasanya lemas seperti tanpa tulang. Nafasku terengah-engah seperti habis olahraga lari keliling lapangan.
Lega sekali rasanya seperti tanpa beban hidup.
Ahh, senangnya jika sudah punya suami. Pasti akan bisa terlayani hasratku setiap aku ingin.
Kapanpun dan dimanapun bisa bermain.