POV ZIvana (mama Zarina)
Aku adalah single mom berusia 35 tahun dengan 1 orang anak. Aku bekerja di bagian cleaning service di satu perusahaan swasta yang cukup besar di kota ini.
Suamiku meninggal 4 tahun yang lalu karena kecelakaan.
Melelahkan memang menjadi seorang janda di usia yang cukup muda. Hanya sekedar bercakap-cakap dengan suami tetangga sudah diigunjingkan sana-sini, dituduh macam-macam sudah kebal rasanya aku.
Pekerjaanku sebagai OG (Office Girl) sudah cukup melelahkan untuk menanggapi semuanya. Biarlah mereka berkata apapun.
Yang penting aku tidak merugikan siapa-siapa.
Fokus hidupku hanya untuk mencukupi kebutuhan putri semata wayangku yang sekarang sudah tumbuh besar.
Aku tidak ingin ia kekurangan apa pun, sehingga aku seringkali lembur untuk mendapat uang tambahan.
Mungkin aku kurang perhatian terhadapnya, tapi mau bagaimana lagi? Kalau aku tidak bekerja, siapa yang akan mencukupi kebutuhan kami berdua? Bukankah uang juga bentuk perhatian orang tua terhadap anaknya?
Banyak yang menyarankan untuk menikah lagi. Tapi aku masih belum bisa, tidak semudah itu menikah lagi apalagi dengan anak perempuan yang sudah mulai puber.
Banyak pengalaman hidup yang kudapat dari berbagai cerita, ayah tiri susah memperlakukan anak tirinya seperti anak kandung.
Dan tidak sedikit pula yang mendapat KDRT ataupun pelecehan seksual dari ayah tirinya.
Membayangkannya saja mengerikan, aku tidak mau sampai terjadi seperti itu. Amit-amit.
Bukannya tidak ada yang minat sama aku. Beberapa kali ada yang mau serius, tapi aku masih belum yakin. Roy, tukang ojek langgananku. Dedi, tukang parkir di perusahaan tempatku bekerja. Wan ali, pemilik resto masakan padang seberang perusahaan. Dan Pak Yudi, seorang admin perusahaan.
Untuk nama terakhir sebetulnya aku juga ada rasa. Dia duda tanpa anak, masih muda berusia 33 tahun. Istrinya meninggal saat melahirkan anaknya. Begitu juga anaknya, yang menyusul ibunya 30menit setelah melihat dunia.
Wajahnya biasa saja tapi matanya teduh dan membuat nyaman siapa saja yang bicara dengannya.
Dia pernah terang-terangan bicara padaku kalau dia ingin melamarku.
Saat itu di kafe sebelah perusahaan, Pak Yudi memintaku untuk membantunya membawakan minuman untuk staff kantor. Ia mengajakku duduk sambil menunggu pesanan jadi.
"Zivana, aku tahu ini mendadak. Tapi sudah sejak lama aku memperhatikanmu. Aku ingin lebih dekat lagi denganmu. Kalau memang boleh,aku ingin melamarmu." Katanya dengan menatapku.
Aku memang sering mendapatinya curi-curi pandang terhadapku jika aku sendang membersihkan ruangannya. Tapi aku tidak menyangka dia benar-benar serius.
"Maaf pak, bukannya saya menolak. Saya hanya merasa tidak pantas mendampingi bapak. Saya hanya seorang OG." Kataku sambil menunduk, tidak berani menatap matanya.
"Saya tidak peduli dengan pekerjaan kamu, jika kamu menerima saya, kamu bisa berhenti dari pekerjaan berat kamu. Dan fokus dirumah memperhatikan anak kamu. Bukankah itu yang kamu inginkan? " Lanjutnya dengan tegas.
Terasa menggiurkan memang, sepenuhnya omongan dia benar. Aku memang ingin memperhatikan putriku yang sedang masa puber supaya tidak salah langkah. Tapi dengan pekerjaanku, sepertinya sulit. Pulang kerja pun juga sudah capek sekali untuk sekedar bercerita dengan anakku.
Tetapi untuk menerima lamarannya, sepertinya aku harus berfikir dua kali. Dan harus minta izin ke putriku terlebih dahulu. Aku tidak ingin dia merasa tidak nyaman dirumah sendiri.
"Baik akan saya pertimbangkan dahulu pak, lebih baik sekarang kita berteman saja dahulu. Untuk selanjutnya jika memang kita berjodoh, pasti akan ada jalan untuk bersatu." Kataku.
Ia pun mencoba menerima, walau mungkin masih agak kesal kelihatannya.
Di saat yang lain, saat itu hujan deras. Aku sedang didepan kantor menunggu ojek online yang berkali-kali di tolak.
Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, suasana kantor sudah mulai sepi. Hanya tinggal beberapa orang di ruangan masing-masing yang masih lembur.
Pak Yudi tiba-tiba disebelahku, berdiri tepat disampingku.
"Boleh saya antarkan pulang?" Izinnya.
"Maaf pak, saya pulang naik ojek online saja. Arah rumah bapak kan berbeda dengan saya. Nanti malah merepotkan." Kataku segan. Tidak enak jika ada yang tau kami pulang bareng. Takut jadi gosip nantinya.
"Oke saya tunggu disini 15 menit, jika masih belum dapat ojek online, saya antar pulang."
Ia tau aku sedang kesulitan mencari ojek online. Duh, dengan perlakuannya malah membuat aku berdebar rasanya. Padahal aku ingin membuang jauh rasa itu.
Sialnya lagi, setelah 15 menit aku mencari ojek online di beberapa aplikasi berbeda. Semua ditolak karena hujan deras.
Akhirnya aku pun mau di antar pak Yudi. Ia memang membawa mobil untuk pulang pergi.
Di dalam mobil, aku minta lampu di matikan, supaya tidak ada yang tau kalau aku yang bersamanya.
Ia hanya tersenyum dan mematikan lampu mobil. Lalu memasangkan seatbelt tempat dudukku. Sifatnya yang tak banyak bicara membuatku semakin jatuh hati padanya.
Mobil pun menembus hujan yang semakin deras. Diiringi musik pop yang menenangkan hati. Mungkin karena kecapaian, aku mulai mengantuk. Tak lama lagi, aku pun tertidur.
Tidak tahu berapa lama aku tertidur, aku merasa ada tangan yang meraba bagian bawah pahaku. Aku tidak berani membuka mata, aku tau itu tangan Pak Yudi.
Deru mobil berjalan tidak terdengar, mungkin ia memarkirkan mobilnya di tepi jalan.
"Kenapa kau menolakku Zivana, aku selalu tertarik dengan badanmu yang menggairahkan." Bisiknya.
Ia mengelus-elus pahaku sampai ke pangkal paha. Aku malah semakin deg-degan dibuatnya.
Diriku yang telah lama tidak pernah disentuh oleh lelaki sama sekali membuat lebih sensitif terhadap sentuhan.
Lama-lama rabaannya semakin berkurang dan aku tidak merasakannya lagi.
Tetapi aku mendengar suara lengguhannya.
Aku mencoba membuka mata sedikit. Hah! ternyata dia sedang onani. Kejantanannya sudah dikeluarkan dan kelihatan tegang sekali. Tangannya mengelus pelan sambil matanya terpejam.
Aku yang biasa melihatnya tampil rapi dan berwibawa, kaget melihatnya seperti itu. Ternyata dibalik tampilan kesempurnaannya itu, ia masih pria normal yang punya kebutuhan biologis.
Aku mengintip lagi, ia semakin cepat mengelus kejantanannya. Ukurannya lumayan gak terlalu panjang, tapi diameternya lumayan besar juga.
Terlihat kepalanya yang menonjol berwarna pink.
Ahh ingin sekali aku membantunya, tapi aku terlalu takut untuk membuka mata.
"Ahhhh Zivana, ahhh, teruss" Desahnya sambil menggumamkan namaku.
Mukaku merah padam dibuatnya, sepertinya ia onani sambil membayangkanku. Agak tersanjung aku dibuatnya.
Kulihat kocokannya semakin cepat dan kepala rudalnya mengeluarkan setitik cairan bening.
Ahhh ingin aku mencoba merasakannya. Serr,, Vaginaku terasa basah, melihatnya h***y denganku.
Sampai akhirnya, "Ahhhhh aarrrghhhhhhh,, sh*t.! "
Teriaknya tertahan. Crot.. Crot.. Maninya muncrat banyak sekali dan kental berwarna putih. Tangannya masih terus mengocok sampai cairannya keluar smua, rudalnya pun masih tegak mengacung. Sampai lama-lama ia berhenti dan mengambil nafas panjang.
"Aahhh enak sekali, sudah lama tidak dikeluarkan seperti ini." Gumamnya
Air maninya berlepotan di celananya, ada satu tetes yang sampai ke celanaku.
Selesai mengambil nafas, ia pun segera mengambil tisue untuk mengelap semua bekas cairannya.
Tapi ia tidak tahu kalau ada yang di celanaku.