BAB 6

1016 Kata
Melihat wajah serius mamanya, d**a Zarina berdebar kencang takut mamanya bertanya lagi tentang kejadian kemarin. "Iya ma. " Jawabnya sambil menelan ludah. "Setelah mama pikir-pikir dan pertimbangkan, kemarin mama sudah cari-cari info tentang guru les privat yang kamu inginkan kemarin. Tapi mama masih belum ada yang pas. Kamu sabar ya, pasti secepatnya mama carikan supaya kamu bisa belajar lebih rajin dan nilai kamu semakin baik. " Huffth, Zarina bernafas lega. Ternyata tentang les privat kemarin yang sempat ia minta. Bahkan sebetulnya Zarina pun sudah lupa keinginannya kemarin. Gara-gara kejadian kemarin malam yang sangat memacu adrenalinnya itu. "Siap ma, terima kasih. Mama memang yang terbaik. " Katanya sambil membentuk jempol dan ibu jarinya menjadi love kecil (saranghae). Mamanya membalas dengan tertawa sambil membentuk love besar di atas kepala dengan kedua tangannya. Di sekolah Pikiran Zarina menerawang ke kejadian semalam. Kejadian yang baru pertama kali ia rasakan. Ia merutuki dirinya sendiri yang mudah sekali tergoda hanya karena situasi yang mendukung. "Zarina ! Bisa diulangi apa yang saya jelaskan tadi?" Teriak Pak Stevan, guru sejarah killer yang sangat ditakuti semua siswa. Zarina yang memang daritadi tidak memperhatikan pelajaran sama sekali gelagapan menjawab. "Eh, anu, itu pak" Lalu ia terdiam. Keringat dingin membasahi pelipisnya. "Kalau tidak niat mengikuti pelajaran saya gak usah masuk sekalian, biar saya beri nilai 0 di rapor kamu." "Nanti ke ruangan saya sepulang sekolah. Awas kalau tidak datang. Jangan harap dapat nilai bagus dari saya." Lanjutnya. "Siap pak, mohon maaf pak." Kata Zarina menyesal. Sejak kejadian kemarin, pikiran Zarina jadi tidak bisa fokus. Ia berusaha untuk memperhatikan pelajaran. Tetapi tidak semudah apa yang dibayangkan. Saat pertama kali melakukan aktivitas seksual, pikiran remaja tidak akan bisa seperti sebelumya. Akan selalu terbayang-bayang aktivitas yang pernah dilakukan tersebut. Karena saat masih remaja, libido masih tinggi dan belum dapat disalurkan ke tempat yang tepat. Dampak yang terasa amatlah tinggi. Karena itu harus berfikir berulang kali sebelum melakukan kegiatan seksual pranikah. Daripada menyesal kedepannya. Sepulang sekolah, Zarina berjalan ke ruangan pak Stevan. Sekolah sudah mulai sepi, karena semua siswa rata-rata sudah pulang. Ia segera menuju ruangan yang berada di pojok sekolah itu. Ruang Sejarah memang terletak di ujung lorong bagian belakang. Dekat dengan kamar mandi cowok. Zarina mengetuk pintu beberapa kali, tapi tidak ada jawaban. Lalu ia beranikan membuka puntu ruangan yang tidak terkunci. Saat masuk ruangan, ia tidak mendapati pak Stevan ada di dalam. 'Lho kok gak ada sih? katanya aku disuruh kesini.' Saat ia akan keluar ruangan, tiba-tiba dari luar ruangan pak Stevan masuk. Brak.. mereka pun bertabrakan dan jatuh dengan posisi pak Stevan di atas Zarina. Tangannya yang mencoba menahan tubuhnya agar tidak jatuh, malah tidak sengaja mendarat di d**a Zarina. Refleks Pak Stevan segera menarik tangannya dan berdiri kembali. Benda kenyal yang ia pegang, membuat kelelakiannya berontak. Tetapi dengan cepat Ia mencoba mengendalikan dirinya kembali. "Ehm,,ehm.. Kamu mau kemana? Sudah tahu kan konsekuensinya jika kamu tidak mematuhi saya?" "Maaf pak tadi saya sudah kesini,karena bapak tidak ada jadi saya mau keluar, lalu tidak sengaja bertabrakan dengan bapak." "Kamu jangan alasan, kalau saya belum datang itu ya ditunggu. Masa nunggu sebentar tidak mau. Kamu meremehkan saya?" Gertak pak Stevan. "Maaf bukan begitu maksud saya pak. Saya tadi hanya bermaksud mencari bapak diruang guru." Kata Zarina gemetar karena takut nilainya 0. "Oke sekarang duduk. " Jarinya menunjuk ke kursi panjang yang biasa di buat istirahat olehnya Zarina pun duduk disitu. Pak Stevan terbilang masih muda, usianya masih 25 tahun. Badannya atletis karena rutin nge-gym. Gundukan ototnya yang ideal terlihat dari luar kemejanya yang model slimfit. Model kemeja yang memang digemari para pemilik badan atletis, yang seperti sengaja mempertontonkan otot-otot lengannya. Penampilannya juga tidaklah menyeramkan seperti guru killer pada umumnya. Mungkin dari luar terlihat seperti manusia biasa. Tetapi ia bisa menjadi monster saat mengajar di kelas. Ia sangat disiplin dan tegas pada muridnya. Zarina daritadi memperhatikan kemaluan pak Stevan yang menonjol di balik celananya. "Beberapa hari ini, saya mendapat laporan dari beberapa guru lain. Kalau kamu kurang konsentrasi saat mengikuti pelajaran." Kata Pak Stevan. "Saya hanya penasaran apa sih yang membebani pikiranmu, sehingga kamu yang biasanya tidak pernah bermasalah sampai sering bengong seperti itu." Lanjutnya Zarina hanya terdiam dan menunduk sambil tangannya memainkan ujung roknya. Ia masih memikirkan kemaluan pak Stevan, walaupun tidak seharusnya ia seperti itu. "Saya tau kamu mulai kelas X, kamu bukan siswa yang tidak bertanggung jawab. Seingat saya, kamu berharap keluar dari sekolah ini dengan mendapat ranking 1. Apa kamu mulai menyerah dengan tujuan kamu?" "Tidak pak, saya masih ingin ranking 1." Jawab Zarina singkat. "Ibu kamu menyekolahkan kamu dengan sekuat tenaga, menjadi wanita karir, single mom dan mengurus rumah itu berat sekali Zar. Seharusnya kamu paham itu." Mendengar ibunya disebut, airmata Zarina mulai menetes. Ia menyadari kesalahan yang dibuatnya. Ia tidak ingin membuat kecewa ibunya. "Saya harap bisa bertemu ibu kamu besok, supaya masalah ini cepat selesai." Lanjut pak Stevan. "Hiks,, hiks,, jangan pak, saya mohon jangan sampai mama saya tau. Saya tidak mau menambah beban pikirannya." Zarina tidak ingin mamanya sampai tau apa permasalahan sebetulnya. Ia ingin merahasiakan semuanya karena sangat menyesali perbuatannya itu. Melihat Zarina seperti itu, pak Stevan mulai iba. Ia juga mulai agak gerah dengan Zarina yang masih memainkan ujung roknya sehingga lama-lama pahanya agak tersingkap. Dan di paha yang tersingkap tersebut, digigit oleh nyamuk yang lumayan besar. Lama-lama tangan Pak Stevan gatal ingin menepuk nyamuk itu tapi ia masih bimbang karena posisinya di paha agak atas. Plak,, akhirnya ia memutuskan untuk memukul paha Zarina dengan keras. Zarina pun kaget,ia yang dari tadi memperhatikan kemaluan pak Stevan reflek latah bilang "K*ntol! ups maaf pak. Saya kaget karena bapak tiba-tiba pukul paha saya." "Iya ini nyamuk guede nempel di paha kamu, saya gemas ingin memukulnya." Katanya sambil menunjukkan tangannya yang ada setetes darah Zarina karena nyamuk itu mati terkena pukulan Pak Stevan. "Btw, kenapa tadi kamu bilang k****************i saat kaget? Itu bukan hal yang pantas diomongkan oleh siswa teladan seperti kamu." "Maaf pak tadi saya agak kepikiran..... " "Kepikiran apa? Saya tau daritadi pandangan kamu kemana." Ternyata pak Stevan daritadi memperhatikan arah pandangan mata Zarina yang mengamati tonjolan celananya. "Kamu penasaran dengan itu cowok Zar?" Tanya pak Stevan mulai vulgar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN