Aku mandi dan bersiap dengan secepat kilat. Mendengar kabar bahwa Arghani datang dengan orangtuanya disaat aku belum mandi, rasanya kayak aku mencoret-coret mukaku sendiri. Malunya gak ketulungan. Rasanya di depan keluarga Arghani, aku ini bukan malu-malu lagi. Tapi, malu-maluin. Coba aja hitung, berapa kali aku ribut dengan Arghani dan tidak tahu malu, aku menuduh adiknya Arghani pacaran dengan abangnya sendiri dan terakhir, mereka datang di saat aku masih ileran. "Jadi ini yang namanya Diomira?" sapa seorang perempuan paruh baya yang aku yakini sebagai ibu dari Arghani. Jantungku deg-degan luar biasa, tanganku mendingin seketika dan rasanya ruang napasku menyempit. Aku gugup bukan main, takutnya saat beliau tau aku seperti apa, semua kemanisan ini menjadi semu belaka. "Iya Tante," sa

