Davika mengantuk-antukkan kepalanya ke mejanya. Mahasiswa lain sudah keluar beberapa menit lalu, sementara Milly dan Maura asyik terkikik sambil saling memperlihatkan foto di layar ponsel mereka masing-masing. Davika merasa hidupnya telah berubah semenjak memutuskan untuk menikah, rasanya tiada hari dilalui tanpa sakit kepala. Namun kali ini dia tidak bisa menceritakan pada siapa pun tentang apa yang membuat pikirannya kacau seperti ini. Ucapan cinta Ammar semalam padanya menyisakan efek yang membuatnya gila sampai hari ini. Dia tak mengerti apa yang terjadi, hatinya seperti sebuah balon yang dipompa terlalu banyak. Rasanya tidak bisa menampung perasaan yang meluap-luap. Davika menggeleng cepat setiap kali hatinya berbisik pada akal sehatnya bahwa dia mencintai Ammar. Tidak, tidak akan p

