“Cepetan dikit, Mil,” kata Davika dengan panik sambil menepuk lengan sang sahabat yang sedang berkonsentrasi penuh untuk melajukan kendaraannya lebih cepat. Gadis itu menambah tekanan pada pedal gasnya tanpa menjawab apapun, matanya menatap awas pada jalanan yang lumayan lengang. “Eh pelan-pelan, dong. Gue belum mau mati ya! Jangan ngebut-ngebut juga kali, Mil. Entar bukannya kita nyampe rumah sakit buat nengokin Ammar, malah kita sendiri yang masuk UGD,” sungut Maura yang duduk di belakang. “Aduh, lo berdua berisik, deh. Gue jadi bingung nih, yang satu minta ngebut, yang satu takut.” Milly jadi kesal dengan dua sahabatnya yang berisik dan malah mengganggu konsentrasinya dalam mengemudi. Alih-alih menanggapi omelan Maura dan Milly yang protes, Davika dengan tampang serius tampak menekan

