Davika duduk di kantin kampus sendirian, kedua sahabatnya ke kamar mandi dan belum muncul sampai sekarang. Gadis itu sudah tidak begitu peduli dengan tataan mencemooh dan gunjingan mahasiswa lain terhadap gosip yang beredar tentang dirinya. Tapi jujur saja, sejak beberapa hari ini gosip itu rasanya sedikit mereda, Davika tak tahu apa penyebabnya. Gadis itu menatap lurus, sambil mengaduk-aduk jus jeruk menggunakan sedotannya. Lalu tiba-tiba sebuah tangan menangkup kedua matanya dari belakang. Davika terkejut, “Mil,” ucapnya menebak dengan tersenyum. Namun senyum itu mendadak hilang saat meraba kedua tangan tersebut, sebuah tangan besar yang dia yakini bukan milik perempuan. “Hai,” bisik suara lelaki yang sangat dia kenali tepat di dekat telinganya. Davika sontak menjauhkan wajahnya berhar

