"Mama," panggil Davika pada wanita cantik yang berdiri di depan pintu rumahnya tersebut. Sang mama yang dipanggil menoleh, kemudian melepas kacamata hitam dengan ukiran emas berupa lambang dari produk fashion luar negeri yang terkenal. "Mama kok nggak bilang kalau mau datang ke sini?" Tanya Davika pada Rita yang masih melemparkan pandangan ke segala sisi teras rumah sederhana itu. "Kenapa emangnya, gak boleh kalau mama mendadak datang begini?" Davika menghela napas kasar, semenjak dirinya menikah, sikap sang mama memang sedikit berubah. Wanita yang hampir menginjak usia setengah abad itu jauh lebih sensitif dibanding sebelumnya. Dahulu, tempat nyaman untuk bicara adalah sang mama. Apapun yang dia inginkan, apa yang dia katakan, mamanya akan mendengarkannya. Tapi sekarang, setelah diri

